Archive

storyteller

Well, ini seperti perjalanan ke masa lalu baginya. Berdiri menunggu angkot Kalapa-Dago di Simpang Dago. Rasanya sudah satu dekade berlalu sejak terkahir kali dia melakukan hal ini. Naik angkot ke Dago. Tujuanya kali ini sama dengan tujuannya di masa lalu, sebuah rumah di komplek Bukit Dago Pakar. Sebenarnya untuk mencapai rumah itu mungkin akan lebih baik jika menggunakan trayek Ciroyom-Ciburial. Trayek yang satu ini melewati komplek Bukit Dago Pakar. Namun, karena ini adalah perjalanan ke masa lalu, maka ia memutuskan untuk berhenti sejenak di pintu gerbang Resort Dago Pakar untuk minum kopi di warung kopi Indomie disana. Kemudian baru mengambil Ciroyom-Ciburial menuju tujuan akhirnya.

Satu batang Gudang Garam Filter habis, baru lelaki ini menaiki angkotnya. Sebenarnya, kamu tak perlu menunggu sepanjang satu batang rokok untuk satu angkot Kalapa-Dago hampir ada ratusan mobil melayani rute itu. Setiap setengah menit satu mobil akan lewat, dan rata-rata mobil itu sepi penumpang.

Duduk di kursi depan samping pak supir, Dia mendengarkan Green Day dari ipodnya. Ada beberapa pilihan yang dia pertimbangkan untuk di dengarkan. Saat ini sebenarnya dia sedang menyukai Good Bye Lullaby, Avril Lavigne. Hampir setiap saat memutarnya. Pun jika malam tiba this left feel right nya Bon Jovi setia menemani bersama setiap terikan dan hembusan asap rokoknya. Untuk saat ini, dia ingin mendengarkan Billie Joe Amstrong. Mengingatkan bagaimana masa remaja nya dulu ketika diperkenalkan kepada Green Day melalui Good Riddance. Terdengar sedikit ironi bukan? Diperkenalkan pertama kali kepada sesuatu hal dengan sebuah perpisahan.

Read More

“ Gaang!! Hayu diadu ngke sore… “ si Opik mun ngomong emang bari gogorowokan wae laah.

“ hayu! Dimana euy? “

“ di PDAM lang.. “

“ okeh.. jam tilu nyaa.. aing mere nyaho barudak heula.. ngke kuaing dibere nyaho deui.. “

Diadu lawan barudak si Opik biasana moal aya babak gelutna, jadi aman-aman wae. Moga-moga si Agrem geus balik sakola.  Nu ngajieun hoream lapang PDAM mah loba tatangkalan di tengah lapang, jadi hese mun kudu lumpat atau ngumpan.

 

Senen, 7 oktober 2002

Read More

When the rain stop pouring

 

“ Gaang!! Let’s have some game this afternoon.. “ opik shouted as always.

“ ok! Where? “

“ at PDAM field lang.. “

“ alright.. three o’clock then.. i’d to tell my boys first.. I’ll call you later.. “

Match against opik’s boys ussualy doesn’t end with fighting, so it’s safe at all. Hoped Agrem already back from school. One thing made PDAM bad was the field have some trees in the middle, so it’s hard for run or pass the ball.

 

Monday, 7 October 2002

Read More

Pekerjaan seorang pencari bakat adalah pekerjaan yang sepi. Itu yang dikatakan oleh Gilles Grimandi, seorang pencari bakat untuk klub Arsenal. Yah, Gun tak bisa tidak sependapat dengannya, buktinya adalah kini Gun sendirian, di tengah jadwal pesawat yang terlambat di bandara Syamsudin Noor. Gilles menambahkan, kami scout adalah orang yang kesepian dan hidup dalam tekanan. Seolah mengejawatahkan telepon dari Bandung tadi pagi. Kepala akademi didesak untuk memberikan hasil yang memuaskan oleh manajer klub. Satu-satunya yang bisa dia lakukan dengan segera adalah menekan Gun untuk memberikan bocah-bocah yang bisa dengan instan membawa perubahan bagi tim. Bocah-bocah yang harus dia cari di pelosok-pelosok terdalam Indonesia. Bocah, yang menurut istilah mereka ditempa alam keras sehingga bisa memainkan bola di kaki mereka dengan sentuhan magis. Meen! Kalian terlalu banyak menonton film!

Mungkin sudah saatnya untuk mengundurkan diri pikir Gun. Tiga tahun sudah menjadi bagian dari pilot project klub ini. Mencoba melakukan pembinaan pemain muda dengan standar eropa, tapi masih bermentalkan indonesia. Gun muak! Merasa diri menjadi martir.

Read More

Amerika dan Russia tak pernah akur. Sulit menemukan momen saat kedua
negara tersebut rukun bekerjasama atau duduk dalam satu meja tanpa
saling memojokkan. Keduanya seperti ditakdirkan untuk selalu berlawanan.
Seperti Tom dan Jerry, Poppeye dan Brutus dan tentu saja Kennedy dan
Kruschev.

Tapi saat ini diatas mejaku hadir perwakilan kedua negara yang
tampak mesra, Marlboro Light dari Amerika dan Vodka Crystal dari Russia.
Keduanya setia menemaniku mengarungi malam yang sepi ini. Malam
ketigaku tanpa memejamkan mata. Bertamasya ke alam mimpi menjadi
kejadian langka bagiku akhir-akhir ini, siang dan malam tak ada bedanya
bagiku.

Read More

Di tepian sungai Rivoli, Adam menghisap pipanya syahdu. Tidak seperti biasanya, malam ini panda kurus itu duduk dan menatap bintang tanpa teropong dan peta bintangnya. Dia hanya menengadah langit dan menerawang jauh ke utara. Tak jauh dari tempatnya duduk Sungai Rivoli mengalir tenang  menuju laut Adrozen, beberapa kali terlihat sekoloni kodok melompat-lompat, para orang tua sedang mengajarkan anak-anak mereka bagaimana mencari makan. Adam mengenal salah satu kodok terbesar di kawasan Rivoli, saking besarnya si kodok, panda itu yakin bahwa Roki memangsa burung bukan nyamuk. Kodok cerdas itu sekarang sedang asik melompat-lompat diikuti tiga ekor kodok-kodok kecil yang tampak mengaguminya. Dibelakang Adam berdiri gagah bengkel pembuat kapal milik Beny the Horse dan Frank Blue Whale. Tadi pagi Beny mengabari bahwa kapal yang dipesannya sudah selesai dikerjakan, kapal itu sudah bisa Adam gunakan. Saking senangnya Adam sampai tidak bisa tidur padahal semalaman suntuk dia telah terjaga meneropong pergerakan venus dari muncul sebagai bintang kejora sampai bertransformasi penuh menjadi bintang timur yang cerah dikala subuh.

Read More

Nggguuuuuuuunnngggg…. ngggguuuuuunnnngggg..

“ tes.. tes… satu.. “

“ tes.. tes… tes… satu.. dua… satu.. dua… satu dua tiga.. “

“ yah, selamat sore sodara-sodara, selamat datang ke lapangan ma titi di RT 02 pada pertadingan yang sangat kita nantikan, final kejuaran sepakbola U-13 dalam memperebutkan piala bergilir Lurah Cibeunying tahun 2001. Antara tim terbaik RW 10 Ar..seeee…gaaaaallllll…. dari RT 02 yang ditantang tim kejutan dari RT noooollll.. tiiiii… gaaaaaaaa!!! Pemenang pertandingan kali ini akan mendapatkan predikat tim terbaik di RW kita tercinta ini. “
Read More

Kami masih berkutat dengan laptop kami masing-masing ketika tetiba terdengar suara adzan. Suara adzan adalah hal biasa di kantor kami yang kecil sepeti ruko ini, tepat di sebelah kantor berdiri mesjid djami. Perasaanku mengatakan ada yang aneh dengan adzan yang satu ini, untuk kemudian kami sadar, ini adzan subuh. Adzan subuh dan kami masih bekerja! Sungguh sebuah kesialan kami berhasil mendengarkan 5 kali adzan dan masih duduk manis di depan laptop.

Lalu terjadilah kesialan sesungguhnya bagi kami. Seorang teman sudah semakin resah karena ingin segera pulang dan memakai hak tidur. Ada enam orang di ruangan ini, lima budak ditambah satu bos, kami semua perokok. Setelah kalimat Assholattu khoiruum minna nauum, si bos melihat kami anak buahnya sudah terlihat tidak tenang. Dia mendatangi temanku yang duduk paling pojok untuk meminta rokok, sayangnya persediaan punya temanku habis. Satu per satu kami didatangi untuk dimintai rokok. Kenyataannya adalah semua stok bahan bakar kami sudah ludes sejak jam 11 malam tadi. Dengan gerutuan yang terdengar kencang sang bos kembali ke mejanya.
Read More

Kaifa membawaku kembali dari kematian empat tahun yang lalu. Salju-salju yang bertumpuk semeter dari tanah di jalanan Taman Nasional Denali dan dua orang Ranger menjadi saksinya. Mountain sickness, itu nama kerennya, kondisi dimana kau sangat kelelahan sehingga saat kau beristirahat jantungmu berdetak sangat lambat hingga tak lagi mampu terpacu. Cuaca cerah pegunungan membuatmu terbuai, seperti yang terjadi padaku. Aku hampir saja tertidur, tidur untuk tidak pernah bangun lagi karena jantung terlalu lambat untuk berdetak.

Kemudian aku terbangun, kutemukan Kaifa duduk di sebelahku sambil tersenyum. Belakangan aku tahu dia menyuntikan insulin padaku. Membuat adrenalin terpicu kembali dan jantungku sekali lagi menemukan detaknya. Sialan kau dokter Kaifa! Padahal mimpiku sedang bagus-bagusnya. Aku bahkan rela mati dalam buaian mimpi itu.

Read More

Konvoi kami hanya berjarak 50 kilometer dari kota Seoul. Rudal Pyongyang meleset 50 kilometer dari targetnya, pusat kota seoul. Meledak 100 meter dari konvoi kami dan melemparkan humvee dan truk-truk penuh tentara ke berbagai arah. Kulihat kilatan cahaya sangat menyilaukan, terdengar dentuman lalu dengung konstan yang menggangu di telingaku.

Hal paling sial dari kejadian ini adalah aku tidak langsung mati, terluka sangat berat di dada. Kurasa kepala ku juga terluka karena aku merasakan pusing yang sangat hebat dan pandanganku saat terjaga tidak bisa disebut sebagai pandangan normal. Rasa sakit datang. Aku tak bisa merasakan tubuhku, terasa seperti kesemutan dibarengi dengan sensasi ditusuk pisau.

Read More