Archive

mountaineer

lit up the fire boy!

lit up the fire boy!

 

one time when we were camping, a newbie mountaineer asked me. ‘when we will lit a bonfire?’ well, he seem like watched too much movies.

it’s hard to lit a fire in the actual mountain. the wind blowing too hard. the firewoods are wet instantly by fog and dew. although, once the fire burned the initial timber and lighter wood, everything will be easier.

there’s my childhood friend with our hardly lit up bonfire at mount papandayan.  you could catch him here @xlukmanx. cheers! :)

Advertisements

sejak pertama kali kami melakukan kemping tahun 2010, ogut rasa ada perkembangan yang sangat baik dari bocah-bocah ini. kami bahkan merasa tidak membutuhkan tenda di kemping pertama kami. angin malam, kekurangan logistik (terutama rokok) sangat menyiksa kami di kala itu. pun lagi suasana yang membikin merinding.

ketika kami akhirnya mendaki manglayang di tahun 2013. peralatan kami sudah lebih lengkap dan memadai. kami punya tenda, carrier, cooking set, dan matras. setidaknya kami yakin bisa bertahan di alam jauh dari peradaban. jaman itu adalah ketika kami belum mengetahui mengenai zero waste camping. well, cukup merisaukan juga melihat foto-foto kamp kami yang seperti kapal pecah.

kareumbi adalah pilot project kami untuk kampanye zero waste camping. sangat memuaskan! mengurangi beban hingga sepertiganya. sampah yang kami hasilkan di camping ground berkurang hingga 80%. di kemping ini, trio wocapala selain ogut belajar mendirikan tenda agar bisa nyaman ditinggali saat hujan mendera. masih membutuhkan 20 menit sebelum tenda berdiri.

papandayan 2014 adalah ritus pembatisan Edo. gunung besar pertama baginya. disini pengalaman manajemen logistik kami bertambah. bisa membawa logistik dengan sistem zero waste dan lebih efisien. bocah-bocah itu juga sudah bisa mendirikan tenda dibawah 20 menit, bahkan jika bukan karena kesalahan mendasar di awal, mereka bisa mendirikan dalam waktu 10 menit. soal memasak Uki sudah bisa menjadi mountaneering chef, didampingi oleh Camat.

well, seperti yang ogut bilang. semua orang berkembang disetiap kemping kami. kami bukan pendaki gunung, kami adalah penikmat kemping. kami adalah WOCAPALA!

Well, ini kisah mengenai zero waste camping.

image

Akan ogut ceritain dari awal mulanya, yaitu ketika kami sedang solat ied –idul fitri kayaknya– dan menemukan koran alas solat kami bercerita mengenai zero waste dalam mendaki gunung. Ah ya, kami adalah ogut dan kawan-kawan di rumah. Artikel koran itu isinya adalah bagaimana caranya agar kita mengurangi resiko akan menyampah di gunung. Jadi, -seperti menurut kawan veteran pendaki hamba- zero waste artinya mungkin bukan nil sampah, namun hanya memindahkan waktu pembuangan sampah. Bukan membuang sampah di gunung tapi membuang sampah di rumah, sebelum berangkat ke gunung. Well, tak perlu lah kita berdebat mengenai apa sebenarnya atau cocok kah diberi nama zero waste camping. Esensinya adalah jangan menyampah di gunung.

Read More

Papandayans

Biarkan saya berkisah mengenai gunung papandayan. Some call it the best mountain in garut, i couldn’t agree more. Gunung ini berkali-kali saya datangi, saya tiduri, namun tak pernah bosan hati ini. Tak pernah habis hasrat ini untuk kembali mengunjunginya, menjadikannya altar untuk menaklukan diri sendiri.

Beginilah awal mulanya kawan. Saya masih ingat dengan jelas, serasa baru saja terjadi hari kemarin, pendakian pertama ke papandayan. Tim pertama saya kesana adalah kombinasi dari guru-guru saya, kompatriot veteran dan junior-junior saya. Pendakian pertama dengan kombinasi tim tanpa seorang pun newbie, perawan naek gunung. Dua orang guru saya pada akhirnya menikah, biar kujelaskan mereka menikah bukan karena mendaki bersama di papadayan, atau setidaknya itu bukan alasan utama. Keduanya telah berkali naek gunung bersama saya. Dari gunung gede yang ribet naudzubilah perijinannya sampai ke papandayan yang indah. Dua orang anak yg lebih muda dari saya, memiliki hasrat pendaki muda yang umum, keduanya -seperti istilah saya- adalah peak hunter. Mendaki gunung bagi mereka adalah urusan mencapai puncak, tanpa tiada menginjak kaki di titik tertinggi adalah tiada naek gunung bagi mereka. Seorang komrade terakhir adalah perempuan bertubuh kecil yang kerennya berhasil mendaki semeru-rinjani!

Read More

Hari ini, 2 Februari tahun 1968, Chris McCandlles akhirnya meninggal setelah merasakan kesakitan selama 3 hari gegara salah mengidentifikasi perdu yang harusnya gak boleh dimakan. Memang sangat sulit menemukan perbedaan dari berry yang ada di alam, beberapa sama-sama berry berwarna hitam, tapi yang satu bisa dimakan dan yang satu beracun.

Alexander the Supertramp adalah nama yang dipilih Chris ketika memutuskan meninggalkan semua keistimewaannya sebagai lulusan cumlaude, orang tua yang berada, bebeh pengacara dan ibu juga adik yang sayang padanya. Alex memberikan hampir $20 ribu tabungannya ke yayasan sosial. Bilang ke orang tuanya berangkat ke Harvard padahal kabur ke belantara. Tujuannya Cuma satu, ALASKA!

Tanpa duit, yang udah dia sumbangin dan sisanya dia bakar, Alex tahu dia hanya akan bunuh diri jika langsung berangkat ke Alaska. Yap! Tujuan Alex ‘going into the wild’ adalah agar bisa kembali ke peradaban. Sama seperti yang dibilang John Lofty si penulis kitab suci survival, bahwa hal terpenting pergi ke alam liar dan bertahan hidup adalah tujuan untuk tetap selamat dan kembali ke keluarga kita.

Alex menghabiskan hampir 3 tahun berkelana dari florida sampe ke san andreas dan meksiko buat ngumpulin perlengkapan dan menyiapkan hatinya sebelum menginjak neraka beku bernama Alaska. Selama 3 tahun itu dia kemping dimana dia suka, pake bivak doang. Kerja serabutan biar dapet duit untuk beli peralatan berburu. Dengan carrier bag yang berisi buku, survival guide, gallon air dia keliling di west  coast America.

Suatu hari dia nemuin artikel tentang kano dan dia sangat pengen mencoba. Setelah berhasil ngumpulin duit buat beli kano, aplikasinya buat nyusurin sungai ditolak! Dia pikir, alam itu Cuma Tuhan pemiliknya, so bagaimana mungkin pemerintah dapat melarangnya berkano? Dia nekat nyusurin sungai pake kano, dikejar polisi sampe tak terasa akhirnya nyampe ke teluk meksiko!

Rasa penasarannya berkano sudah terpenuhi. Alex balik ke amerika dan memulai kembali rencana untuk pergi ke Alaska. Singkat cerita dengan keteguhannya dan bantuan dari orang-orang yang dia temui di tahun-tahun sebelum ke Alaska akhirnya dia bisa masuk lewat Denali.

Dari awal masuk Alaska, Alex udah punya rencana buat keluar lagi. Dia tandai jalan masuknya. Di akhir tahun, sungai-sungai Alaska membeku jadi dia bisa lewat. Sayangnya ketika dia mutusin keluar dari Alaska 6 bulan kemudian, sungai mencair dan arusnya kenceng banget. Kepaksa Alex kembali ke bus ajaib yang dia temuin di tengah belantara Fairbanks.

Kehabisan beras, frustasi berburu binatang, dan kelaparan yang akhirnya membunuh Alex dengan perlahan. Pikirannya mulai dipengaruhi oleh alam liar. Dia gak bisa nahan itu semua. Well, sebagai manusia mau segimanapun teguhnya hati pergi ke alam liar, selalu ada sisi terdalam di hati yang pengen kembali ke rumah. Itu lah yang sebenarnya membunuh Alex. Jalan utamanya tentu saja salah makan perdu beracun.

Alex Supertramp selalu menginspirasi gw untuk mencoba pendakian solo. Tahun ini gw harus coba pendakian solo ke papandayan. The only mountain I fell in love so much! Lain kali gw bakal share jurnal-jurnal nya perjalanan si Alex. Untuk saat ini, mari kita peringati hari kematiannya. ALEXANDER SUPERTRAMP’s DAY PARADE. 2nd February.

seorang guru mendaki ane pernah ngasih petuah pas untuk pertama kalinya ane jadi team leader naek gunung cikuray. karena dia gak bisa ikut, dia cuma ngasih quote dari sir edmund hillary (orang yang naek puncak everest pertama kalinya) ” naek gunung itu bukan buat naklukin gunung, tapi naklukin diri sendiri..” quote yang sangat bagus. tapi apalah artinya quote kalau itu cuma kata-kata. mirip banget kayak baca qur’an tapi gak pernah diamalin (beuraaatt..). hahaha. tapi intinya sih sebuah ajaran itu gunanya untuk diamalkan bukan cuma dikagumi.

well, asbabun nuzul nya nulis ini sih karena dapet kabar dari seorang temen (sebernya dia apprentice ane juga sih.. ) bahwa dia gak bisa ikut pendakian ke sebuah gunung gegara “team leader” nya bilang udah gak ada quota dan karena kebanyakan yang naek newbie jadinya gak mau repot kali yaa..

naah! disinilah seharusnya kata-kata menaklukan diri sendiri itu dimaknai lebih dalam. kalau lu menolak seorang yang pengen naek gunung gara-gara alasan tadi.. (quota, dan sebenernya ane gak yakin itu alasan sebenernya) maka sesungguhnya udah kalah dalam menaklukan diri. naek gunung tuh pada akhirnya adalah urusan pribadi dengan gunung.

naek gunung itu sebuah ritus suci. kenapa ritus suci? karena kalau pikiran lu kotor, ucapan lu kotor, perbuatan lu kotor, niscaya lu bakal ditelen sama gunung! dasa darma pramuka no 10 tuh cocok banget buat dipraktekin naek gunung. suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan! itu inti sebenernya dari menaklukan diri sendiri.

dalam kondisi yang cape, sendirian di tengah alam, seringkali dalam kondisi kehausan dan kelaparan, kedinginan atau kepanasan. lu harus selalu siap sedia mengambil keputusan, dan harus selalu mengutamakan orang lain. karena sedikit egoisme yang muncul artinya lu gagal menaklukan diri sendiri dan sebenernya gagal memenuhi esensi dari perjalanan naik gunung itu.

orang payah adalah… yang dalam keadaan gak bawa beban carrier, masih di tengah kota, masih bisa mendapatkan makan minum dengan gampang dan dia gagal membantu orang lain yang pengen naek gunung. yang dia dengan egois nya berpikir bakal susah bawa orang ke gunung. how could you lead other people on mountain condition?

okeh ini blog emang ditulis dengan emosional. yah, kalau udah beda prinsip emang susah sih buat gk emosional. sempet kepikiran juga sih untuk gak akan pernah naek gunung ama orang begitu, tapi kalo itu yang terjadi justru ane yang gagal menaklukan diri sendiri tandanya. menghargai prinsip orang lain adalah salah satu kendali taklukan diri sendiri. well, ane cuma mau bilang.. lu payah!

dan sebenernya, menurut pidi baiq, esensi naek gunung itu adalah untuk emlihat lembah. yah sederhana aja, gak usah mikir macem-macem. hahaha..

 

TABIK untuk semua pendaki gunung!

buschenali over 1000m above sea level