Sekedar Prosa. Hanya Sedang Ingin Menulis

Well, ini seperti perjalanan ke masa lalu baginya. Berdiri menunggu angkot Kalapa-Dago di Simpang Dago. Rasanya sudah satu dekade berlalu sejak terkahir kali dia melakukan hal ini. Naik angkot ke Dago. Tujuanya kali ini sama dengan tujuannya di masa lalu, sebuah rumah di komplek Bukit Dago Pakar. Sebenarnya untuk mencapai rumah itu mungkin akan lebih baik jika menggunakan trayek Ciroyom-Ciburial. Trayek yang satu ini melewati komplek Bukit Dago Pakar. Namun, karena ini adalah perjalanan ke masa lalu, maka ia memutuskan untuk berhenti sejenak di pintu gerbang Resort Dago Pakar untuk minum kopi di warung kopi Indomie disana. Kemudian baru mengambil Ciroyom-Ciburial menuju tujuan akhirnya.

Satu batang Gudang Garam Filter habis, baru lelaki ini menaiki angkotnya. Sebenarnya, kamu tak perlu menunggu sepanjang satu batang rokok untuk satu angkot Kalapa-Dago hampir ada ratusan mobil melayani rute itu. Setiap setengah menit satu mobil akan lewat, dan rata-rata mobil itu sepi penumpang.

Duduk di kursi depan samping pak supir, Dia mendengarkan Green Day dari ipodnya. Ada beberapa pilihan yang dia pertimbangkan untuk di dengarkan. Saat ini sebenarnya dia sedang menyukai Good Bye Lullaby, Avril Lavigne. Hampir setiap saat memutarnya. Pun jika malam tiba this left feel right nya Bon Jovi setia menemani bersama setiap terikan dan hembusan asap rokoknya. Untuk saat ini, dia ingin mendengarkan Billie Joe Amstrong. Mengingatkan bagaimana masa remaja nya dulu ketika diperkenalkan kepada Green Day melalui Good Riddance. Terdengar sedikit ironi bukan? Diperkenalkan pertama kali kepada sesuatu hal dengan sebuah perpisahan.

Di tengah Billie Joe Amstrong menyanyikan Redundant, angkot nya tiba di pintu gerbang Resort. Satu dekade berlalu dan jumlah ongkos yang harus dia bayarkan naik 3 kali lipat. Tak masalah baginya. Terbiasa dengan biaya hidup di Ibu kota, ongkos angkutan umum di Bandung terasa cukup murah baginya.

Warung kopi itu masih berdiri di tempat yang sama. Dulu hampir dua minggu sekali dia datang ke warung tersebut. Tak ada yang istimewa dari kopinya, hanya menyeduhkan kopi-kopi sachet. Tak ada yang istimewa juga dengan lokasinya. Pinggir jalan, tempat angkot-angkot Kalapa-Dago transit dari perjalanan tambahan setelah terminal Dago sebelum mereka kembali ke Kebon Kalapa. Dia menyukai warung ini karena dia menyukai kopi. Kopi-kopi rakyat yang murah.

Selalu ada pilihan-pilihan dalam otaknya, kali ini otaknya sibuk melakukan perdebatan mana yang lebih baik dipesan? Apakah kapal api special mix atau ABC susu? Pertimbangan cuaca yang mendung di jam 3 sore menjadi satu suara untuk Kapal Api. Kopi ini bakal jadi gelas kopi ketiga hari ini, menambahkan satu suara untuk ABC susu yang lebih ringan. Kau tahu, pada akhirnya, sering kali terjadi juga sebelumnya, tidak kedua alternatif utama yang menjadi pilihan pria itu. Indocafe special mix menjadi pesanannya. Lebih ringan dari ABC susu dan yah, dia hanya ingin menikmati kopi sebari merokok dan mengingat-ngingat apa saja yang pernah dia kerjakan di dago atas ini.

Kopi itu tidak pernah habis, tersisa seteguk, bukan hal luar biasa juga baginya untuk tidak menghabiskan kopi, apa lagi ini kopi ketiganya. Dari gerbang Komplek elit itu dia perlu berjalan sekitar 500 meter menuju pertigaan untuk menyetop Ciroyom-Ciburial. Album International Superhits memasuki putaran kedua. Billie Joe menyanyikan Maria.

Lima belas menit kemudian pria itu sudah berdiri di depan sebuah rumah. Tampilan rumahnya tidak berubah dalam 10 tahun terakhir. Minimalis, dengan sebuah garasi berpagar tinggi, tak ada celah antara pagar dan kanopinya. Pagar ini dimaksudkan agar tidak bisa dipanjat. Tepat di atas garasi terdapat sebuah jendela yang besar, berukuran 2 meter pada lebarnya, menghadap ke timur. Jendela besar dari sebuah kamar. Jika kau membayangkan, seperti di film-film, sang empunya kamar akan terbangun di pagi hari karena sinar matahari, lalu memandang jauh ke lembah di hadapannya sambil tersenyum, well hal itu tampaknya jarang sekali terjadi. Pemilik kamar hampir tidak pernah bangun pagi dan jendela tersebut selalu tertutup gorden yang tebal.

Pilihan-pilihan kembali muncul di kepala pria itu. Menekan bel atau menelepon orang yang ingin dia temui. Lihatlah, bahkan untuk hal seperti ini dia memerlukan beberapa saat sebelum memutuskan. Pikirannya bukan menimbang baik buruknya setiap pilihan, lebih kepada kemana hatinya ingin menuju. Bukan implikasi yang dia pikirkan, tapi lebih kepada apa yang membuat hatinya lebih nyaman.

Kemudian bukan telepon atau bel, tapi sebuah sms dia kirimkan. Berbalas tunggu sebentar. Sebentar yang kemudian menjadi satu batang rokok yang habis sebelum pintu depan membuka kemudian gerbang bergeser. Orang yang ingin ditemuinya berubah secara penampilan. Hampir membuatnya pangling.

Selama bertahun-tahun yang lalu perempuan ini selalu memeriksa apapun tulisan yang dibuat oleh sang pria. Mereka berkawan bertiga, satu perempuan dua lelaki. Satu dekade berlalu sejak pertemuan terakhir mereka bertiga. Meski begitu reuni ini tak akan pernah lengkap lagi, kawan mereka yang satu telah mati.

Keduanya kini menjadi penulis. Satu lebih sukses dibanding yang lain. Perempuan ini melakukan banyak perjalanan untuk membuat artikel di National Geographic. Karena itu pula mereka jarang bertemu. Budaya dan wanita adalah spesialisasinya. Pun pria kita tetaplah menjadi seorang blogger dan penulis fiksi. Seperti dia bilang bertahun-tahun yang lalu, ‘aku menulis hanya untuk memuaskan hasrat imajinasiku.’

Kini mereka berdua berjumpa kembali. Di meja makan keduanya merokok sambil mendengarkan Coldplay diputar dari macbook. Ada jeda beberapa menit dari obrolan pembuka mereka. Jika kau melihat pemandangan ini mungkin terasa absurd, dua orang menghisap rokok dengan syahdu sambil mendengarkan Chris Martin menyanyikan Violent Hill. Tak ada yang istimewa dari tembakau marlboro sang perempuan ataupun Gudang Garam Filter lelaki itu. Juga tak ada yang sangat ‘wah!’dari lagu coldplay tersebut atau cola dingin yang berulang kali disesap perempuan itu dan air putih yang diteguk sang lelaki. Namun, entah mengapa pemandangan keduanya berkutat dengan pikiran masing-masing menimbulkan semacam aura magis di ruangan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: