Berdebat Dengan Sunyi

Embed from Getty Images

Pekerjaan seorang pencari bakat adalah pekerjaan yang sepi. Itu yang dikatakan oleh Gilles Grimandi, seorang pencari bakat untuk klub Arsenal. Yah, Gun tak bisa tidak sependapat dengannya, buktinya adalah kini Gun sendirian, di tengah jadwal pesawat yang terlambat di bandara Syamsudin Noor. Gilles menambahkan, kami scout adalah orang yang kesepian dan hidup dalam tekanan. Seolah mengejawatahkan telepon dari Bandung tadi pagi. Kepala akademi didesak untuk memberikan hasil yang memuaskan oleh manajer klub. Satu-satunya yang bisa dia lakukan dengan segera adalah menekan Gun untuk memberikan bocah-bocah yang bisa dengan instan membawa perubahan bagi tim. Bocah-bocah yang harus dia cari di pelosok-pelosok terdalam Indonesia. Bocah, yang menurut istilah mereka ditempa alam keras sehingga bisa memainkan bola di kaki mereka dengan sentuhan magis. Meen! Kalian terlalu banyak menonton film!

Mungkin sudah saatnya untuk mengundurkan diri pikir Gun. Tiga tahun sudah menjadi bagian dari pilot project klub ini. Mencoba melakukan pembinaan pemain muda dengan standar eropa, tapi masih bermentalkan indonesia. Gun muak! Merasa diri menjadi martir.

Menjadi martir. Gun tak tahu apalagi pikiran gila yang merasukinya, sehingga saat mencapai Bandung hal pertama yang dilakukan adalah mengirimkan surat pengunduran diri ke kantor. Bahkan Gun tak berniat mendatangi mereka. Email terkirim, dua jam kemudian kepala akademi menelepon. Gun menjelaskan semua kondisi dirinya, semua idealismenya, beberapa dibuat hiperbola, dan setelah sedikit debat, sang kepala akademi tak mampu menahan. Satu-satunya yang tertahan adalah gaji terakhir Gun yang tidak pernah mereka kirimkan.

***

Sudah dua bulan berlalu dari pengunduran dirinya. Gun pada akhirnya rindu pada pekerjaannya. Menyaksikan bocah-bocah bermain bola, tanpa ada tekanan lain selain memenangkan timnya. Dia ingat bagaimana masa kecilnya dulu, memimpin bocah-bocah di kompleknya membentuk tim sepakbola amatir, bermain melawan bocah-bocah dari kampung lain. Tidak ada yang istimewa dalam skill Gun, yang dia punya adalah kemampuan memimpin bocah-bocah lainnya sehingga bisa membawa timnya menang. Taktik adalah keunggulan Gun dibanding jagoan-jagoan dari kampung lainnya. Pada usia 13 tahun ia sudah terbiasa menyusun rencana serangan dan bertahan sebelum bermain. Jagoan dari tim lain hanya mengandalkan teknik mereka sendiri.

Sore ini hujan mendadak turun di Kanayakan. Bocah-bocah yang sedang beradu melanjutkan dengan semangat dan kegembiraan yang berlipat. Gun, dalam hatinya riang berlipat, usia dan pikiran dewasa lah yang mengalahkan hati riang tersebut. Melipirlah Gun menuju warung kopi-bubur kacang hijau di gerbang komplek, 100 meter dari lapangan.

Memesan segelas kapal api hitam, Gun teringat pada kesepian hidupnya. Bukan hanya soal pekerjaan lalunya, tapi memang pada hidupnya. Tak banyak temannya kini yang hadir menemaninya. Pun di warkop itu dia teringat pada Shania yang pernah menjadi temannya. Gun penasaran apa yang dikerjakan Shania saat ini.

Shania, sama seperti Gun, merasa pekerjaannya adalah pekerjaan yang sepi. Cita-cita perempuan itu adalah menjadi pramugari. Wajahnya cantik menurut standar Gun dan pernah dikatakannya pada Shania, potongan rambutnya pendek, tingginya memadai, pada intinya semua atribut fisik untuk menjadi pramugari atau model dimiliki dengan lengkap oleh Shania. Sayangnya, Ayahnya berpikiran bahwa Shania lebih baik menjadi seorang ilmuwan, maka dihabiskanlah hidupnya di ITB. Sarjana, master, doktoral, hidupnya selalu berkutat di lab biologi.

Keduanya pertama kali bertemu tiga tahun lalu di warung ini. Keduanya memiliki rumah orang tua di Komplek Kanayakan. Dan yah, karena kesibukan mereka dalam pekerjaan sunyi mereka, walau pun keduanya adalah teman saat sekolah SD dulu, mereka baru bertemu lagi ketika mereka dewasa.

Gun ingat bagaimana Shania merasa kaget bertemu dengannya. Gun ini adalah bocah lelaki yang dulu membawa adiknya bermain bola kemana-mana. Mereka sekelas di 6 tahun masa SD. Seingat Shania, sejak lulus SD mereka hanya bertemu beberapa kali saat tujuh belasan atau solat ied. Jika ada yang bisa disalahkan karena dia jarang melihat Gun, maka itu adalah ayahnya yang dengan setia memberinya jadwal les ini itu sejak SMP sampai kuliah. Ucapan itu tertanam cukup kuat dalam ingatan Gun, tak banyak perempuan yang merasa sial karena jarang bertemu dengannya.

Saat itu pun hujan seperti sekarang. Gun baru kembali dari Papua, mencapai Bandung pagi pukul 6. Shania baru selesai membereskan tugas lab nya, keluar ITB pukul setengah 7 dan keduanya memutuskan menunggu hujan reda di gerbang komplek, sarapan di warung kopi. Itulah pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun dan berlanjut untuk pertemuan-pertemuan berikutnya dalam dua tahun yang pendek.

Pada awalnya Gun, yang sulit untuk memulai pembicaraan dengan wanita, merasa sangat cocok mengobrol dengan Shania. Hampir setiap beres bertugas mencari pemain bola di pelosok indonesia, Gun menyempatkan diri untuk mampir ke Dago hanya untuk bisa mengopi bersama Shania. Waktu berlalu, pada akhirnya Gun merasa terlalu banyak pikiran Shania yang kontra dengan ide nya. Membuat sebuah diskusi menjadi tidak lagi mengasikan. Gun berpikir, bagaimana bisa dia menikmati setiap obrolan jika tak ada satupun dari ide nya yang dianggap benar oleh Shania. Kapan dia benar? Tidak pernah bagi Shania. Maka hubungan itu berakhir. Keduanya kembali pada kesunyian masing-masing.

Ingatan akan Shania membuat Gun mencoba menelisik kembali teman-temannya. Beberapa orang pernah dengan setia menemaninya setiap dia berlibur dari tugas. Seorang teman bocahnya, tetangga rumah hingga saat ini, selalu ada untuk menemaninya bermain futsal. Dia adalah bagian dari tim sepakbola amatir bentukan Gun jaman dahulu kala. Akhir-akhir ini Gun tidak pernah melihatnya, skripsi menelan temannya entah kemana.

Seorang teman SMA pernah pula menjadi bagian dari proyek menghindari kesepian Gun. Kini orangnya sudah menikah dan memiliki bayi. Tak baik bagi Gun untuk selalu menganggunya, menemani dia menghabiskan waktu luntang lantung. Teman kuliah Gun, hampir semua bekerja di Jakarta. Rata-rata bekerja di media. Tak ada satupun undangan untuk reuni pernah di terima Gun dalam setahun ini. Gun curiga tak ada yang menyimpan nomer hapenya, pun dia tak bisa dihubungi karena tidak memiliki akun sosmed yang aktif. Beberapa teman lainnya ikut melintas dalam pikirannya. Tak ada satupun yang meninggalkan jejak cukup dalam untuk dikenang. Tak ada yang pernah dengan setia menemani kesepiannya, baik saat di Bandung atau bertugas entah dimana.

Ah, semua kenangan dan pikiran mengenai teman-temannya membawa Gun kembali pada ingatan akan Shania. Seharusnya ini bisa berakhir lebih baik pikir Gun. Seharusnya mereka bisa berpacaran, sehingga mereka bisa saling mengisi kesepiannya. Di suatu waktu, Shania pernah selalu ada saat Gun merasa kesepian, pun Gun selalu dengan setia menemani kapanpun Shania membutuhkannya. Tapi Gun bukan tipikal orang yang memahami wanita dengan baik. Dia lebih banyak diam di tempat yang penuh perdebatan. Obrolan yang mengarah pada area abu-abu adalah hal pertama yang akan dihindari oleh Gun. Shania, pada sisi lain menyukai obrolan yang mengarah pada area itu. Gun hanya ingin menyayangi Shania dengan sederhana, tanpa perdebatan.

Lapangan sudah kosong. Bocah-bocah sudah kembali ke rumah masing-masing, untuk dimarahi oleh ibu mereka biasanya. Setidaknya itulah yang dialami Gun ketika bocah dulu. Bermain bola dalam hujan hanya akan menghasilkan rententan celoteh mama ketika sampai ke rumah.

Sudah saatnya pula bagi Gun untuk pulang ke rumah, satu hari lain yang sepi baginya berlalu. Gun tak berharap besok akan lebih baik. Perdebatan yang paling baik adalah berdebat dengan sunyi.

Late december of 2013, finished on february of 2014 because of the missing of original file.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: