Zero waste camping

Well, ini kisah mengenai zero waste camping.

image

Akan ogut ceritain dari awal mulanya, yaitu ketika kami sedang solat ied –idul fitri kayaknya– dan menemukan koran alas solat kami bercerita mengenai zero waste dalam mendaki gunung. Ah ya, kami adalah ogut dan kawan-kawan di rumah. Artikel koran itu isinya adalah bagaimana caranya agar kita mengurangi resiko akan menyampah di gunung. Jadi, -seperti menurut kawan veteran pendaki hamba- zero waste artinya mungkin bukan nil sampah, namun hanya memindahkan waktu pembuangan sampah. Bukan membuang sampah di gunung tapi membuang sampah di rumah, sebelum berangkat ke gunung. Well, tak perlu lah kita berdebat mengenai apa sebenarnya atau cocok kah diberi nama zero waste camping. Esensinya adalah jangan menyampah di gunung.


image

Sebelum kami sadar dan tau ilmunya

Percobaan pertama ogut adalah ketika akan pergi ke rinjani, saat itu beberapa logistik yang berbungkus plastik kami buka dan dipindah ke wadah. Percobaan pertama kurang berhasil, masih banyak sampah plastik yang kami bawa ke gunung. Mudah ditebak, sebagian kecil sampah itu masih tertinggal di gunung saat kami pulang.

Percobaan kedua, dilakukan saat kemping ke gunung masigit kareumbi di minggu pertama januari. Hasilnya, keren dan memuaskan. Kami berhasil mengurangi sampah plastik hingga 90%! Beberapa sampah yang masih tercipta adalah sampah kaleng bekas sarden dan kornet, sampah botol spirtus, puntung rokok dan sedikit sampah plastik hasil membuka kecap, susu, dan bandrek sachetan. Kaleuuum, semua sampah itu -banyaknya sekitar satu kantong kresek ukuran sedang- kami bawa pulang.
Ada keuntungan lain yang didapat dari zero waste camping ini. Beban berat berkurang hampir setengahnya. Padahal tahu sendiri kan kalau logistik itu bebannya hampir sepertiga dari total berat bawaan ke gunung –cuma kalah dari tenda dan framenya- ini cukup mengejutkan loh. Keuntungan selanjutnya adalah ruang dalam carrier bag masi tersisa hampir seperempatnya! Bungkus-bungkus plastik itu ternyata berpengaruh besar dalam membebani kita.
Jadi, bagaimana kami mempraktekan zero waste kami? Ini dia langkahnya…

Untuk makanan berat kami membawa beras dalam wadah. Indomie di buka bungkusnya dan dimasukan ke dalam tupperware. Bumbunya kita buka juga disatukan dalam satu wadah kecil, berguna juga sebagai perasa untuk memasak yang laen semodel sop, goreng telor, dan oseng-oseng sayuran. Kornet dan sarden tidak kami buka dari bungkusnya karena sulit memprediksi apakah akan tetap bagus atau tidak ketika isinya sudah pernah mencium udara. Well, kami tidak mau mengambil resiko untuk protein utama kami.

image

Before packing

Sayuran -kami bawa toge, bahan sop lengkap, sawi, dan bumbu dasar bawang-bawangan plus seledri dan cabe-  di masukan dalam dua tupperware. Satu untuk sayuran dan satu untuk bumbu dasar. Buah -terutama apel dan jeruk- tidak perlu dibungkus atau di-wadah-kan, untuk anggur petik satu-satu dan masukkan ke tupperware.
Jika membawa telor, pilihannya bisa di-paket-kan diantara beras/nasi, atau dibuka di rumah dan dikemas dalam tumblr tupperware. Bisa awet untuk dua hari.  Roti disimpan dalam tupperware. Keripik -pilihan utama kami lays dan/atau happy tos, masuk ke wadah juga. Pilih wadah yang ada sekat dalam kontnainernya, untuk menghemat wadah dalam mengemas keripik asin dan biskuit manis.

Kopi dan teh dan bandrek/bajigur/jahe masuk ke tupperware, plastik nya buang di rumah. Pun begitu dengan nutrisari. Susu kental manis masuk masuk ke wadah khusus semacem wadah untuk saos dan kecap. Teh celup juga.

Air mineral dipindah ke kompan -milik kami adalah kompan 5 liter yang bisa menghemat tempat untuk 3 botol aqua isi 1.5 liter- persediaan minuman yang lain dipindah ke tumbler masing-masing orang.
Spirtus bawa dalam wadah bahan bakar khususnya. Parafin dibongkar, pindahkan ke wadah atau bungkus dengan koran -korannya bisa dipake buat membantu pembakaran- gas tabung? Kami tak pernah membawa gas dalam tabung.

Sampah sayuran dibuang di gunung. Caranya adalah dengan menggali lubang -tak perlu terlalu dalam- lalu kuburlah jasad mereka agar menjadi makanan untuk hewan tanah. Tisu kering juga sebisa mungkin dibuang bungkusnya di rumah untuk dipindahk ke dalam wadah. Tisu basah? Tampaknya masih sulit untuk membawa tanpa bungkusnya.

image

Setelah packing tersisa ruang sangat banyak di tas

Itu dia sedikit yang kami kerjakan dalam usaha mengurangi resiko harus membuat sampah di gunung. Pengalaman kami membuktikan banyak sekali manfaat dari melakukan pemindahan wadah di rumah itu. Sila mencoba.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: