Another Post About PERSIB – INTER – Arsenal

Mari kita bicara tentang gelandang tengah kali ini. Lebih spesifik mungkin pemain-pemain yang berprofesi sebagai poros halang sebuah tim. Yang pertama adalah gelandang-gelandang PERSIB bandung yang bisa menghalau serbuan DC United di setengah jam terakhir pertandingan. Kombinasi saat itu adalah Taufiq – Konate – Utina di tengah, didampingi Atep di kiri dan Ridwan di kanan. 4-5-1 yang sangat jongjons. Lupakan kenyataan DCU maen butut, kombinasi Utina, Taufiq dan Konate sungguh bisa memberi keamanan bagi lini belakangan persib. Taufiq dan Konate bisa membagi bola dengan baik. Passing mereka 3 dimensi, tidak melulu harus mengoper kepada pemain di depannya, Taufiq melakukan tugasnya dengan sangat oke. Pemain ini juga mau melakukan pekerjaan kotor dalam memutus serangan lawan.

Ada harapan tinggi untuk kinerja lini tengah PERSIB yang lebih baik musim depan. Ketika Utina bermain waras, pola 4-5-1 pilihan ogut jatuh pada Utina-Taufiq-Konate-Hariono-Ridwan (dari kiri ke kanan berurutan). Opsi utama serangan tentu via sayap dengan ridwan yang berkarakter bawa bola ke ujung lapangan buat umpan silang atau sesekali melakukan tusukan di daerah pertahanan lawan. Di sisi satunya lagi, Toncip akan memegang peranan penting untuk memberi pilihan melebar karena Utina jelas akan sangan sering bergerak ke tengah menjadi gelandang ke empat. Sisi tengah sudah percayakan saja kepada Taufiq dan Hariono, ketika yang satu bisa kita andalkan untuk memulai serangan, yang kedua adalah jagoannya untuk memulai pertahanan sejak dari tengah lapang.

Well, i just can’t wait to watch persib play!

Lalu kemudian saya teringat inter milan dan arsenal yang bermain imbang minggu lalu. Bela-belain begadang buat nonton, keduanya kecolongan di menit-menit akhir. Dalam 70 menit Arsenal bermain dengan satu gelandang pelindung backfour. Well, Arteta maen kelimpungan karena pressing everton emang bagus. Alhasil, sebagai poros halang yang juga merangkap pengoper nomer satu arsenal, dengan arteta kesusahan hidup di lapangan, serangan arsenal bapuk. Namun justru ketika arsenal bermain dengan dua gelandang bertahan mereka kebobolan. Kejadiannya lebih buruk sebenarnya karena dimulai dengan kegagalan Flamini menghadang Ross Barkley. Mungkin ini bisa menjadi contoh paling bagus, ketika seorang gelandang bertahan gagal menghadang serbuan, maka lini bek menjadi sangat rentan.

Terlihat jelas, sejak awal pertandingan, starter arsenal tidak memiliki stamina yang 100%. Glad to know that our injured midfield is already to take action from the first minute now.

Untuk tim yang terakhir bisa kita mulai dari komentarnya Mazzari setelah Inter ditahan Parma di Giusseppe Meazza.

“… Jelas sekali ketika Alvarez, Guarin dan Kovacic bermain bersama sangat sulit menciptakan keseimbangan.“

Mazzari benar, pada dasarnya ketiganya memiliki atribut yang saling melengkapi, tapi atribut utama ketiganya juga sama, pengatur serangan. Jika keseimbangan yang dimaksud Mazzari adalah bertahan dan menyerang, maka kemampuan bertahan adalah yang kurang dari trio tersebut. Kovacic adalah deep lying midfield, dia lebih jago dalam mengumpan dan melewati lawan daripada harus mencegah lawan melewatinya. Pun dengan guarin yang sisi gelapnya sebagai pemain petarung sangat kurang. Alvarez? Lebih sering berdiri di dekat gawang musuh daripada di dekat gawang sendiri.

Untuk situasi seperti di atas Inter sangat bergantung pada Cambiasso. Semoga nanti bisa menang lawan Napoli dan Milan. FORZA INTERNAZIONALE!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: