Biarkan Asril Melawan Izrail

Amerika dan Russia tak pernah akur. Sulit menemukan momen saat kedua
negara tersebut rukun bekerjasama atau duduk dalam satu meja tanpa
saling memojokkan. Keduanya seperti ditakdirkan untuk selalu berlawanan.
Seperti Tom dan Jerry, Poppeye dan Brutus dan tentu saja Kennedy dan
Kruschev.

Tapi saat ini diatas mejaku hadir perwakilan kedua negara yang
tampak mesra, Marlboro Light dari Amerika dan Vodka Crystal dari Russia.
Keduanya setia menemaniku mengarungi malam yang sepi ini. Malam
ketigaku tanpa memejamkan mata. Bertamasya ke alam mimpi menjadi
kejadian langka bagiku akhir-akhir ini, siang dan malam tak ada bedanya
bagiku.

Aku masih setia di depan komputer, vodka dan marlboro masih setia disampingku. Suasana malam ini sangat hening, tak ada angin yang
berhembus dari jendela yang kubiarkan terbuka, tak ada nyanyian anjing
dari kostan sebelah seperti biasa. Tiba-tiba pintu menjeblak terbuka,
seseorang berdiri di sana, tubuhnya bercahaya membuat ruangan remangremang
ini lebih terang, wajahnya sangat tampan, rambutnya ikal, matanya
biru terang, janggutnya tipis namun maskulin, dan kulit putihnya
memancarkan cahaya sejuk. Dia melangkah mendekatiku yang tak dapat
bergerak sedikitpun di depan monitor, angin sejuk berhembus seiring
gerakannya. Berdiri sambil menopang badan pada monitor dia menyapaku,
terasa sangat akrab.

“ Asril, kumaha damang? ” tanyanya, suaranya mirip suara ayahku,
orang yang sangat kurindukan. Ingin sekali aku menjawab, namun tak ada
suara yang bisa keluar dari mulutku.

“ Kullunnafsin da iqatull maut. Terang artina jang? “ tentu saja aku tahu
artinya, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan maut. Mulutku terbuka
untuk menjawab, namun yang ada hanya kepalaku mengangguk untuk
mengiyakan. Orang itu berputar mengelilingi meja, ia ambil botol Vodka
setengah isi, lalu ia lemparkan keluar lewat jendela. Marlboro yang setengah
kosong ia ambil lalu remas dan menghilang.

“ Rengse adzan Magrib engke, waktosna ujang hirup di dunya oge
rengse. Ujang kedah mulih ka Gusti Pangeran Nu Agung. Siap teu siap.
Ayeuna mending ujang siapkeun sagalana. “ aku melongo, dan orang itu
pun lenyap.

Mataku terbuka, komputer masih menyala, vodka masih setengah isi dan
marlboro setengah kosong. Pompa darah di dada bekerja lebih cepat dari
biasanya, cairan-cairan penuh racun merembes dari pori-pori di sekujur
tubuhku, pikiranku kalut, miliaran sel di batok kepalaku tak bekerja dengan
benar. Kuteguk Vodkaku dan kunyalakan sebatang Marlboro, lalu aku
kembali terhenyak! Orang tadi tengah nyegir memandangiku dari balik
jendela. Aaaaaaaaahhhhh! Aku berteriak lalu sadar, mataku bahkan belum
terbuka, Vodka belum keteguk dan tak ada rokok yang kuhisap.

Perasaanku seperti Ibrahim yang bermimpi menyembelih anak
kesayangannya Ismail, aku terbangun dalam gelap dengan kepala pening
dan perut keroncongan dan baru saja bermimpi dikabari Izrail besok dia
akan menunaikan assingment dari – Nya kepadaku. Namun seperti juga
Ibrahim yang tenang lalu menemui Ismail dan bercerita tentang mimpinya,
aku bangkit dari kursi dan merasa sangat senang, Aku siap menghabiskan
hari terakhirku di dunia.

Studio perancangan adalah momok bagi setiap mahasiswa aristektur,
mata kuliah 10 sks dengan tugas yang membuat matamu tak bisa terpejam
selama 3 malam berturut-turut. Separo nyawaku di tingkat akhir ini ada di
analisis dan perancangan mengenai desain area publik yang terpadu untuk
kota Bandung, sialnya pengaruh bawaan karena ibuku bermain sepakbola
antar RT saat mengandungku 4 bulan membuat aku memilih stadion
sepakbola sebagai area publik yang ku analisis. Namun impian mengubah
Stadion Siliwangi menjadi San Siro lenyap seketika setelah aku bertemu Izrail.
Berita kematian membuatku memutuskan bahwa saat-saat terakhir hidup
tidak baik jika dinikmati dengan mengerjakan tugas Prof. Azhar. Maka aku
bangkit keluar kamar dan mandi wajib, tak peduli jam dinding memberitahu
bahwa ini masih tiga jam menuju Adzan Subuh.

Tengah hari aku melamun di selasar arsi, berada di ujung tenggara
kampus tempat ini selalu sepi. Kunyalakan sebatang rokok, untung Izrail tak
benar-benar membuangnya tadi malam, secarik kertas bernomor dengan
tulisan PERSIB BANDUNG VS PERSIJA JAKARTA berada di genggamanku.
Hujan lebat yang turun dari jam 10 tadi ternyata masih kalah tangguh
dibandingkan tekadku untuk mendapatkan tiket.

Baru saja menginjakan kaki di tempat parkir Stadion Siliwangi, teman dekat
Izrail menyambut, Mikail menyiramku dengan jutaan berkah dari langit yang
entah mengapa justru dihindari orang-orang yang tengah mengantri di
depan loket. Memberiku kesempatan bertatap muka langsung dengan
seorang bapak yang menyesap ABC susu dengan penuh kenimatan, tanpa
banyak basa-basi kami bertukar kertas.

Masih 3 jam sampai wasit meniup peluit, suara hatiku menyuruhku
melangkahkan kaki menembus hujan menuju Salman yang intelek di
seberang jalan. Kuambil air wudhu sebagai syarat melapor pada-Nya, lalu
melaksanakan tujuan sebenarnya aku pergi kesini, berdoa agar sebelas
pemain berbaju biru dapat membantai musuh mereka si orange yang bau.
Adzan Magrib masih satu kali solat lagi, tugas studio perencanaan
yang tiga per empat beres telah kuabaikan teronggok di depan meja
gambar. Sebuah sms tiba mengingatkanku kembali akan gambar yang
belum beres tersebut, ‘ asriil.. mw ngmpulin tgs gak? Buset lu, kpn mau lulus
kalo tuh gbr gk lu beresin mulu! Ayo say, kimi tunggu jam 1 di himpunan. ‘ ku
balas sms itu, ‘ kimiku sayang, ntar magrib asril mati, jadi gak ngefek mw gk
lulus juga. ‘ dalam sekejap datang sms balasannya, namun tak ingin kubaca.
Kutinggalkan HPku di kamar mandi, semoga yang menemukannya nanti
dapat menggunakannya lebih bermanfaat daripada aku.

Saatnya pergi ke Siliwangi, perasaanku menyuruh untuk berjalan kaki
menuju kesana, menikmati hujan – kini sudah tinggal gerimis- di jam-jam
terakhir hidupku. Maka kutinggalkan motorku di parkiran Salman. Ternyata
perasaan sudah mulai mengkhianatiku bahkan sebelum aku mati, gara-gara
berjalan kaki dari Dago menuju Siliwangi gerbang stadion sudah penuh
orang. Akupun ikut bergabung melakukan tawar menawar dalam pasar
yang memperjualbelikan kesempatan masuk ke stadion. Kesialan berikutnya
muncul, tiket yang kuyakini berada di saku ternyata telah pergi entah
kemana, seorang bapak berbaju coklat galak memperhatikanku yang kalut
meraba-raba tubuh, lalu dengan baik hati dia mendorongku ke pintu
samping, bukan pintu menuju stadion tapi pintu menuju tempat parkir. Sial,
aku terdepak dari pasaran saat tawaranku sudah masuk.

Walau telah berkali-kali dikhianati perasaan, aku tetap mengikuti
petunjuknya untuk ikut bergabung bersama kompatriot senasib di depan
gerbang samping. Dipersatukan karena tiket bukan teman kami, kami berdiri
sambil bernyanyi-nyanyi didepan barikade polisi yang bertekad untuk
berjuang mempertahakan agar gerbang samping tidak dibuka paksa oleh
kami-kami yang bertekad untuk berjuang membuka gerbang samping.
Suara gemuruh dalam stadion semakin menyemangati kami untuk
dapat menaklukan barisan baju coklat di depan kami. Entah setan atau
perasaanku yang menuntunku untuk mengambil botol Vodka kosong yang
tidak jadi dilempar Izrail keluar jendela tadi malam, kini kutuntaskan
kamauan Izrail membuang botol itu. Kulempar dengan sekuat tenaga dan
sepenuh hati ke arah kerumunan orang-orang pengabdi dan pelindung
masyarakat. Lemparanku telak menghantam kepala seseorang yang
langsung disambut riuh kawan-kawan seperjuanganku. Hal tersebut ternyata
membuat polisi semakin muak menghadapi kami akhirnya merekapun
membubarkan barisan, bukan untuk pulang namun untuk menghajar kami.
Tongkat-tongkat diangkat tinggi, anjing-anjing dibiarkan memenuhi hasrat
mereka yang sedari tadi dikekang. Gelombang pertama menghantam kami
dengan ganas, kami pun buyar kemana-mana seperti sembilan bola dihajar
dihajar satu bola putih.

Sebuah berita tak menggembirakan datang dari dalam stadion,
selagi kami asik bercengkrama dengan polisi-polisi penuh semangat itu
Cecep Supriyatna rupanya sudah dua kali memungut bola dari gawang.
Susana semakin menarik, bukan hanya yang di luar stadion ingin masuk ke
dalam tapi juga orang-orang di stadion yang rupanya ingin masuk juga ke
dalam lapangan, membantu pejuang-pejuang yang kami harapkan untuk
menjaga harga diri dan kebanggaan kami.

Saat itu jam tanganku memberi tahu sudah pukul 17.30. Aku mulai
panik, adzan Magrib tinggal setangah jam. Ingin sekali aku meninggalkan
pesta kekecewaan suporter ini, aku teringat Kimiku yang cantik. Kuputuskan
untuk pergi sesegera mungkin, tujuanku berlindung di sebuah bangunan milik
tentara di seberang jalan. Saat itulah segalanya dimulai. Ketika
menyeberang meninggalkan stadion, pintu stadion dijebol, mereka yang
diluar menyerbu masuk. Tapi, yang didalam stadion pun sudah tak duduk
manis di tribun, mereka telah berada di tengah lapangan hijau, mencoba
membantu 11 pemain kesayangan mereka yang tampil memalukan.

Dua kekuatan bertemu, polisi coba mengusir mereka ke luar stadion.
Sebuah pilihan buruk karena mereka makin menggila diluar stadion. Mereka
melempar segala yang bisa dilempar ke segala sasaran yang mereka lihat,
membakar segala yang bisa dibakar, menghentikan mobil plat B yang bisa
mereka temukan, menghujani angkot dengan batu dan makian, mencabut
rambu lalu lintas dan merusak bangunan yang dilalui.
Polisi dan tentara tak kalah aktraktifnya, mereka turun ke jalan dengan
tongkat dan mulai mengejar para desperates supporters. Adegan kejar dan
pukul pun dimulai. Polisi lain mulai menembakkan gas air mata di
kombinasikan dengan water cannon karena mereka kalah jumlah dalam
permainan kejar dan pukul, suasana semakin kacau dan liar.
Aku coba menghindari semua itu dengan berlari, awalnya aku berlari
mencari perlindungan ke arah polisi, tapi seorang polisi muda yang baru
lulus akademi bintara malah mengejarku dengan tongkat karena aku
memakai kemeja warna biru. Dengan instingtif aku menghindarinya dan
berlari ke arah supporter, pilihan yang juga keliru.
Karena, belum sampai ke arah mereka sebuah botol air mineral
mengahantam kepalaku, membuatku limbung. Belum hilang kekagetanku,
bokongku dihajar tongkat hitam sang polisi muda yang berhasil mengejarku.
Dengan menahan rasa sakit akupun lari melompati pembatas taman.
Awalnya aku sukses melompati pambatas taman, tapi di lompatan kedua
aku terjerembab ke dalam got. Tanganku terluka dan kepalaku mulai
mengucurkan darah.

Inilah saatnya pikirku, aku mengenang kembali Izrail yang tampan tadi
malam, tugasku yang kesepian ditinggal penciptanya, HPku yang entah di
tangan siapa kini, Kimiku yang cantik yang menunggu di himpunan. Saat
aku mulai pasrah pada nasib, Adzan Magrib berkumandang. Selamat
tinggal bisikku di dalam saluran air yang sedang penuh karena hujan.
Sungguh sial nasibku, harus mati di tempat basah seperti ini.
Tapi setelah beberapa menit tak ada yang terjadi pada diriku. Aku
mulai meragukan Izrail yang datang tadi malam. Lalu aku mulai mengutuki
perasaanku, yang untuk sekian kalinya menipuku. Aku terlalu malu untuk
bangkit dari tempat ini, maka aku hanya diam merasakan kepalaku
bedenyut, pandanganku mulai berkunang, sesuatu yang kental membasahi
bibirku, asin.

Seseorang menarikku dari got. Ia memakai topi besar berwarna biru, baju
biru bertuliskan ‘ intellect supporter saiz: refree suckz!’ badannya cukup
tinggi dan agak kekar. Sepertinya ia sering melakukan fitness ke gym atau
pekerjaan sehari – harinya memang berat. Ia menarikku dari dalam got dan
mulai menyuruhku untuk berlari dengannya ke arah supporter yang semakin
ganas. Saat kami lewat supporter lainnya memberi kami jalan untuk lewat,
sehingga kami dapat mencapai PMI di sisi lain jalan dengan cepat.
Sampai di PMI seorang perawat muda yang cantik mengakuisiku dari
tangan bobotoh baik hati yang menarikku dari got. Semangatku sedikit
muncul kembali, tampaknya semua tragedi hari ini sudah berakhir. Berakhir
di senyum manis perempuan berkerudung putih di depanku. Pikiranku
berbisik, terimakasih karena tidak jadi datang Izrail.

 

*sekitaran bulan desember 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: