The League of Extraordinary Heavy Smoker Men

Embed from Getty Images

Kami masih berkutat dengan laptop kami masing-masing ketika tetiba terdengar suara adzan. Suara adzan adalah hal biasa di kantor kami yang kecil sepeti ruko ini, tepat di sebelah kantor berdiri mesjid djami. Perasaanku mengatakan ada yang aneh dengan adzan yang satu ini, untuk kemudian kami sadar, ini adzan subuh. Adzan subuh dan kami masih bekerja! Sungguh sebuah kesialan kami berhasil mendengarkan 5 kali adzan dan masih duduk manis di depan laptop.

Lalu terjadilah kesialan sesungguhnya bagi kami. Seorang teman sudah semakin resah karena ingin segera pulang dan memakai hak tidur. Ada enam orang di ruangan ini, lima budak ditambah satu bos, kami semua perokok. Setelah kalimat Assholattu khoiruum minna nauum, si bos melihat kami anak buahnya sudah terlihat tidak tenang. Dia mendatangi temanku yang duduk paling pojok untuk meminta rokok, sayangnya persediaan punya temanku habis. Satu per satu kami didatangi untuk dimintai rokok. Kenyataannya adalah semua stok bahan bakar kami sudah ludes sejak jam 11 malam tadi. Dengan gerutuan yang terdengar kencang sang bos kembali ke mejanya.

Beberapa menit kemudian kami mulai semakin resah. Kami ingin pulang, peduli setan dengan deadline pekerjaan ini. seorang kawan mulai bersenandung, kasak kusuk dan bisik bisik semakin kentara terdengar. Bos mengangkat kepalanya dari laptopnya. Melirik kepada kami, lalu kembali bekerja.

Dalam beberapa detakan jantung kemudian si bos bangkit dan mendatangi teman yang duduk paling dekat dengannya. Kawanku yang satu itu adalah yang paling payah tampangnya, mata merah, rambut kusut, kemeja sudah sepertiganya terbuka. Sang tuan besar bertanya bagaimana kemajuan kerjanya, temanku menjawab dengan uuuh.. ehhhmmm.. eeuh. Tiba-tiba si bos menarik kerah kawanku tersebut, dan BAM! “kau menantangku boi!” si bos meledak, memaki, dan berteriak di subuh yang kudus itu.

Tampaknya kekesalan tuanku karena tengat pekerjaan yang harus dia setorkan kepada tuannya telah terakumulasi dengan sempurna. Semua itu ditambah asam, keringnya mulut yang berhasrat mengisap nikotin. Anak buahnya yang tolol dan tentu saja jam kerja kami yang hampir menyentuh 24 jam!

Aku menjadi tergelitik dan tersenyum. Teringat kejadian beberapa tahun yang lalu di belantara dan tebing curam Rinjani. Aku mendaki gunung bersama orang-orang, yang pada akhirnya kujuluki the league of extraordinary heavy smoker men. Akan kuceritakan padamu duhai kawan siapa-siapa saja mereka yang tergabung dalam TLOFHSM ini.

Anggota pertama dan kedua adalah Aku, seorang mahasiswa tingkat akhir yang tugas akhirnya tiada kunjung kelar padahal tengat kuliah 7 tahun dari kampusku tinggal bersisa 3 bulan. Di tengah kegamangan, kepanikan, pasrah dan putus asa aku memeti es kan TA ku dan memutuskan pergi ke Lombok, mendaki gunung terindah di Asia Tenggara. Bersamaku, kubawa serta tukang ojeg yang selalu mangkal di pangkalan belokan gerbang komplek rumahku. Kuculik dia karena aku malas membawa peralatan gunung yang berat tiada terkira. Kami berdua merokok Sampoerna Mild, hampir sebungkus dalam sehari.

Ridwan aka Mandra mau mengikutiku setelah kuiming-imingi duit dan cerita-cerita keren tentang Rinjani. Semua kebutuhan dan fasilitas kutanggung, tugasnya hanya membawakan carrier bag berisi penuh dengan berat hampir 15 kilo. Mandra terbujuk rayuanku akhirnya menjadi porter pribadiku.
Berikutnya adalah porter lokal yang kami sewa untuk menunjuki jalan dan membawa bahan logistik kami yang beratnya hampir mencapai 40 kilo. Udin namanya, ada ribuan udin di Lombok, sama seperti ribuan Asep di tanah Sunda. Tarifnya adalah 125 ribu per hari plus sebungkus rokok yang –menurutnya– bakal habis dalam sehari. Skedul kami adalah mendaki selama 3 malam 4 hari, 4 bungkus rokok kami serahkan kepadanya di awal pendakian. Rokoknya, tiada lain tiada bukan, rokok favorit semua porter Rinjani, Gudang Garam Surya.

Menjelang keberangkatan tim kecil kami ketambahan seorang keturunan Cina berkewarganegaraan Amerika. Michael Chang mengaku dia lahir dan tumbuh berkembang di negeri paman sam, meski begitu dia juga mengaku berdarah cina murni karena sejak ayahnya sampai kakek buyut buyut buyutnya semua lahir, tumbuh dan mati di tiongkok. Merokoknya lebih gila dari kami, dalam sehari hampir dua bungkus Lucky Strike dia habiskan. Seperti lokomotif uap, asap selalu mengepul dari wajahnya.

Di tengah perjalanan, seorang Jerman bergabung dengan kami. Porternya menderita diare akut karena salah makan. Dengan terpaksa sang porter mengoperkan kliennya kepada porter kami. Maka di tengah tanjakan bukit penyesalan lengkap sudah tim kami. Schneider orang yang melengkapi itu, tergila-gila dengan tembakau kretek Indonesia. Dji Sam Soe miliknya ada dalam satu kotak Tupperware besar, efisien dan canggih layaknya Jerman sejati, dia masukan rokoknya ke dalam kotak sakti kedap udara untuk menjaga rasa.

Jika tenda sudah berdiri maka camp kami layaknya pabrik era revolusi industri, asap mengepul terus dan terus. Mengotori bukan hanya alam tapi juga paru-paru kami. Setiap cerita lintas negara, lintas benua diantara kami selalu diiringi asap yang menari ke udara. Hanya Mandra yang tidak mengerti apa yang sebenarnya kami ceritakan, mungkin karena itulah dia frustasi dan level kecepatan merokoknya menjadi dua kali lipat. Di malam pertama Schneider berkisah mengenai perkenalannya dengan tembakau Indonesia saat dia masih kuliah di Bremen. Kukira hanya mitos saja bahwa tembakau Indonesia sangat terkenal di Bremen, ternyata itu memang kenyataan. Sang jerman mengaku bisa meracik kretek sebaik peracik kretek dari Jawa. Dia bagaikan barista dalam dunia racik meracik kopi, komposisi dari tembakau, cengkeh, dan rempah bisa dia kombinasikan dengan sempurna menjadi rokok berkualitas. Sayangnya kami tidak sempat membuktikan ucapannya karena dia sendiri telah merasa puas dengan Dji Sam Soe edisi international yang dia bawa dari tanah bangsa arya.

Malam kedua badai menerpa camp kami di Plawangan, semakin kencang angin bertiup semakin kencang kami menghisap rokok-rokok kami. Korban pertama adalah porter kami. Baru dua hari berjalan 4 bungkus rokoknya sudah ludes tak tersisa. Memang gila orang yang satu itu, Fantastisch! begitu kata Schneider. Sambil mendaki jalur setapak dengan kiri kanan jurang, memakai sandal jepit, membawa tanggungan seberat 40 kilo, mulutnya tak pernah berhenti menghisap nikotin. Aku curiga nikotin adalah doping baginya, jika tak menghisap rokok maka tenaganya hilang. Kalau kecurigaanku terbukti benar, maka habislah kami!

Hari berikutnya kami mendirikan tenda tepat di bibir danau segara anak, tegak lurus dengan Gunung Baru Jari yang terus mengepulkan asap, sulfur bukan karbon seperti kami. Tanda-tanda bencana bagi kami mulai terlihat jelas. Dengan berat hati Mandra memberikan sebungkus Sampoerna Mildnya kepada Udin sang fantastich porter, kukatakan padanya tanpa rokokmu mungkin kita takkan pernah bisa keluar dari gunung ini.

Tanda paling jelas akan kegelapan yang mengintai kami para perokok berat adalah saat menjelang tengah malam ketika Chang akhirnya bersedia, dengan terpaksa, menghisap Sampoerna Mild ku. Ketika diawal perjumpaan kami beberapa hari yang lalu, dengan tegas orang Cina Amerika itu mengatakan tidak menyukai rokok kretek. Baginya racikan bangsa Amerika adalah yang terbaik. Ringan namun menggigit. Kini karena stoknya sudah habis apa boleh buat, dia hisap juga rokok kretek Indonesia. He he he.
Perjalanan kami masih tersisa satu hari lagi, Dji Sam Soe dalam kotak Schneider sisa sebatang, Sampoerna Mild Udin sudah tak bersisa –kurang dari 24 jam, 16 batang ludes!– punyaku sendiri yang pada akhirnya kubagi dengan Chang akhirnya bertransformasi menjadi puntung-puntung.

Esoknya benar-benar menjadi hari yang berat bagi kami. Mendaki tebing Senaru tanpa menyedot asap sedikitpun sejak dari pukul 6 pagi. Mungkin ini rekor tersendiri bagi kami, menjelang pukul 11 ketika kami mencapai Plawangan Senaru, kami belum menyentuh sebatang rokok pun. Udin memberi kabar gembira bagi kami bahwa di muka hutan, sekitar 4 jam dari puncak Gunung Senaru ini, ada warung yang menjual rokok. Semangat kami kembali hidup, dengan kecepatan penuh kami menuruni bukit curam, menembus belantara Senaru yang rapat oleh pepohonan tropis raksasa.

Tiba-tiba kabut semakin tebal, pada tengah hari gerimis mulai turun. Kami memakai jas hujan kami dan keadaan semakin menyiksa. Semua orang dalam tim ini memiliki prinsip yang sama, hujan adalah saat yang paling tepat untuk merokok. Hujan tanpa merokok adalah kondisi pergi ke gurun tanpa minum bagi kami.

Sampai di pos peristirahatan no 2 Hutan Senaru kami memutuskan duduk beristirahat. Sudah 2 jam penuh kami berjalan kaki. Kaki-kaki kami seperti meminjam tenaga ekstra dari harapan akan menemukan rokok sebentar lagi, ketika kami mencapai pintu hutan nanti. Kemudian terjadilah momen itu. Iseng kubuka bagian paling atas ranselku, aku menemukan sebatang Gudang Garam Filter!! Garpit itu kuyakin merupakan sisa rokok dari kawanku yang minggu lalu meminjam tas ini. Horay!

Otakku segera bekerja, menimbang semua pilihan logis. Apakah aku akan menghisap rokok ini sendirian? Jika ini yang akan kulakukan, tentu aku mengkhianati tim ku, dan tentu tak bisa kulakukan disini, di depan mereka. Aku harus pergi ke semak-semak diantara pepohonan raksasa, ijin untuk kencing akan diterima semua orang. Tapi kemudian aku ketakutan kebohongan dan pengkhianatan ku hanya akan dihukum Tuhan dengan membuatku tersesat. Aku bergidik memikirkan kemungkinan itu.

Bisa juga rokok ini kami bagi bersama, setiap orang bisa mendapatkan satu atau dua kali isapan. Setidaknya mengurangi sakau kami. Oke, aku memutuskan berbaik hati akan membagi rokok ini. kuumumkan penemuan besarku pada semua orang. Semua tampak sumingrah dan bahagia. Mandra langsung menyalakan koreknya, memintaku langsung membakar dan membaginya di isapan kedua. Schneider mendukung penuh tindakan Mandra, sudah jelas dia menempatkan dirinya di urutan setelah Mandra untuk menghisap. Udin hanya tersenyum, namun matanya penuh harap bisa kebagian jatah menghisap juga.

Chang tiba-tiba mengangkat tangan dan mengusulkan ide lain. Sialan! Dia pikir ini demokrasi? Seharusnya tidak ada alternarif lain selain aku menghisap sendiri atau membagi satu rokok ini untuk semua. Chang mengusulkan, bagaimana kalau kami membuat sebuah permainan, sebuah kompetisi agar terdapat satu orang juara yang akan memperoleh hadiah berupa sebatang rokok! Beginilah kawan, jika kau berdarah Cina dan tumbuh dibesarkan di negara kapitalis terbesar di dunia. Plus jangan lupakan gelar master ekonomi yang dimiliki olehnya. Tidak ada kebahagiaan kolektif baginya, sosialisme adalah hal tabu dalam urusan kepemilikan.

Untungnya, sisa orang dalam tim tidak melihat ide itu sebagai sebuah keuntungan. Dengan aklamasi kami menolaknya. Kau mengajukan demokrasi, kau memperolehnya Chang, aku terkekeh. Mandra yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi menyalakan koreknya untukku. Kau tahu, kenikmatan menghisap rokok dalam hujan di waktu itu menjadi berlipat-lipat karena setiap isapan asapnya tidak kami sia-siakan. Kami resapi setiap nikotinnya, meresap kedalam otak, membantu kami lebih tenang dan bahagia.

Diujung hari, kami mencapai tepi hutan pada pukul 5 sore, molor 2 jam dari perkiraan, siksaan tanpa rokok kami berakhir. Warung itu memang menjual beberapa jenis rokok. Yaah, Chang masih sedikit tersiksa sih karena warung pintu senaru tidak menyediakan Lucky Strike, mereka hanya menyediakan Marlboro dan Chang bercerita bahwa sebenarnya ia membenci Marlboro. Hahaha.

Begitulah kawan, pengalaman mengerikan dengan rokok milikku. Tuan Bos, jika kau hanya duduk semalam suntuk tanpa rokok, janganlah terlalu berkeluh kesah, aku pernah mengalami hari yang lebih parah tanpa rokok. Well, Aku jadi merasa diingatkan, bagaimana kabar dari Michael Chang dan Schneider saat ini yah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: