Awalnya 4-4-2, kemudian 3-2-1-Chaos

well, postingan ini inspirasinya dari tulisannya Jonathan Wilson soal hubungan antara pemain dan formasi. dia ngasih contoh pake kroasia nya Bilic, di atas kertas formasinya mirip 4-1-3-2 tapi karena bilic lebih milih bikin tactic berdasarkan karakter pemaennya, formasi itu cuma ada di atas kertas. pas maen tiap pemaen bebas maen sesuai karakternya mereka dan sering formasinya berubah jadi 3-1-4-2, 5-3-1-1, dan laen-laen. perubahan formasi itu gak diinstuksikan oleh bilic, semuanya berjalan natural karena pergerakan pemaennya sendiri.

contoh berikutnnya adalah Man City musim ini yang di atas kertas sering maen pake 4-4-2. perubahannya ada di karakter tiap flank nya. nasri/silva di kiri cenderung cut in ke tengah, ini bikin clichy/kolarov punya lebih banyak ruang buat overlaping. di sisi satunya lagi, karena silva adalah tipikal dari old fashion winger, yang lebih hobi bawa bola ke ujung sebelum crossing, pergerakan zabaleta lebih banyak wait and see dan back up. nah, dari dua flank aja udah bisa bikin formasinya berubah jadi 3-4-1-2. ini yang kata pandit disebut microtactic. perubahan pola karena karakter pemaennya.Hal standar yang diketahui semua pelatih di dunia.

jadi ketika persib di setengah musim lalu sering pake 4-4-2, karakter tiap pemainnya sebenernya hampir mirip ama 4-4-2 nya city. utina di kiri hobi cut in ke tengah, ridwan di kanan sama kayak navas, hug the edge of the pitch before crossing. duo hariono – asri/messi jadi dinamo yang naek turunnya gantian dan lebih jago dalam defend daripada attack. terakhir Sergio/Hilton yang suka lebih turun lebih ke dalam, mirip ama maennya aguero yang nopang Dzeko/Negredo.

nah, yang membedakan adalah -diluar skill yang jomplang- kesepahaman buat itu masih belom nyampe ke iq nya utina dkk dan djanur. utina yang sering cut in, sayang sekali operannya lebih banyak bapuk nya dari pada sukses. hariono – asri juga beberapa kali gagal sepaham soal siapa yang harus nge marking playmaker lawan. ini bikin poros tengah suka gampang di tembus dan juga suka telat bantuin nyerang jadi second line attacking. pun toncip di kiri yang emang biasa nguasain dari ujung ke ujung, lebih sering gagal ngebendung flank lawan -sering banget karena dia kalah orang, 1 toncip lawan 2 sayap- dan pas giliran dia yang crossing suka cavruk.

maka ketika 4-4-2 city berubah secara microtactic menjadi berbagai variasi formasi. 4-4-2 persib berubah menjadi chaos.

wassalam.

semoga musim depan Djanur bisa manfaatin microtactics lebih keren, persib aroma city.. :)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: