Untukmu yang Membawaku Kembali dari Kematian

Embed from Getty Images

Kaifa membawaku kembali dari kematian empat tahun yang lalu. Salju-salju yang bertumpuk semeter dari tanah di jalanan Taman Nasional Denali dan dua orang Ranger menjadi saksinya. Mountain sickness, itu nama kerennya, kondisi dimana kau sangat kelelahan sehingga saat kau beristirahat jantungmu berdetak sangat lambat hingga tak lagi mampu terpacu. Cuaca cerah pegunungan membuatmu terbuai, seperti yang terjadi padaku. Aku hampir saja tertidur, tidur untuk tidak pernah bangun lagi karena jantung terlalu lambat untuk berdetak.

Kemudian aku terbangun, kutemukan Kaifa duduk di sebelahku sambil tersenyum. Belakangan aku tahu dia menyuntikan insulin padaku. Membuat adrenalin terpicu kembali dan jantungku sekali lagi menemukan detaknya. Sialan kau dokter Kaifa! Padahal mimpiku sedang bagus-bagusnya. Aku bahkan rela mati dalam buaian mimpi itu.

Dalam mimpi itu aku adalah kapten pengawal Kalifah. Keluargaku turun temurun melindungi keluarga Kalifah, dan pada giliranku aku tumbuh dibesarkan dengan seorang putri yang harus aku lindungi. Aku adalah seorang prajurit yang mencintai tuannya, sial beribu sial karena seorang putri haruslah menikahi pangeran pilihan Kalifah, demi kedamaian dunia 1001 malam kami. Sial jutaan sial, karena putriku mencintai pangeran pilihan ayahnya. Sial miliyaran sial, sang putri juga memberi sedikit harapan kepada pengawalnya untuk mencintainya. Membuat aku gelap mata dan melakukan pemberontakan. Menyerang kastil sang pangeran untuk membebaskan putriku.

Semua tampak berjalan mulus dan lancar. Aku tahu aku akan dipenggal karena hal ini, tapi sebelum aku dipenggal aku akan memenggal dulu kepala si pangeran. Biarkan putriku tercinta merasakan kesedihan tiada henti, tak ada satupun dari lelaki yang mencintainya akan hidup esok hari.

Aku berhasil menyudutkan sang pangeran di kamarnya, ketika akan kulakukan serangan terakhir, seekor burung memanggilku dari jendela. Burung itu, burung hudhud yang mengaku sebagai sang bijak dari jaman Sulaiman memberiku nasihat mengenai cinta, yang tak bisa kuingat karena sang pangeran berhasil bangkit dan memenggalku. Dokter Kaifa adalah yang berikutnya kulihat dan kuingat. Sial!

Aku terduduk menangis di pinggir jalan itu. Dua orang Ranger yang datang bersama sang dokter hendak menanyaiku, namun Kaifa mengusir mereka. Aku menceritakan dulu mimpiku padanya, dia tertawa dan berkata dia bisa memberiku suntikan lainnya yang akan membuatku meneruskan mimpiku, untuk selamanya. Well, aku menangis bukan karena hal tersebut. Sudah dua bulan aku hidup di alam liar Denali. Terinspirasi dari kisah Chris Mccandlles. Aku menangis karena tidak seperti idolaku, aku berhasil keluar hidup-hidup dari Denali.

Mengejutkan karena Kaifa mengabdikan diri menjadi dokter di taman nasional ini juga karena cerita dari buku Into The Wild tersebut. Obrolan kami berlanjut di Basecamp Taman Nasional Denali. Menurutnya McCandlles adalah seorang tolol, dan dia ingin menyelamatkan sebanyak mungkin orang-orang tolol lainnya yang mencoba mengekor perbuatan orang itu. Menurutku McCandlles adalah seorang yang kurang beruntung, pada dasarnya dia tidak ingin selamanya di Alaska dan mati. Dia menyiapkan rencana pulang ke peradaban, sayangnya dia tidak beruntung. Aku, di sisi ini, tak bisa dikatakan tolol atau kurang beruntung. Aku menyiapkan rencana pulang yang lebih baik dan ketika hampir tidak terlaksana kau datang menyelamatkanku dok.

***

Setahun lebih sejak aku bertemu Noah sekarat di jalanan Denali, hari ini kami berjanji untuk bertemu kembali di Anchorage. Dalam perjalanan menuju kesana aku mencoba mengingat kembali seperti apa rupanya. Setahun ternyata telah merubah tampangnya 180 derajat. Badannya lebih kurus dibanding kondisi di Denali. Tiada lagi kumis dan jenggot lebat, kini dia tampil rapih. Dia terlihat seperti seorang pekerja normal lainnya.

Kami mengobrol sampai larut di lobi hotel. Dia menceritakan siapa sebenarnya putri dalam mimpinya. Noah mencintai sahabatnya semasa kuliah di UCLA. Seperti juga di mimpinya sang wanita telah memiliki cinta yang lain. Tidak mudah memang mengubah seorang sahabat menjadi kekasih, apalagi dalam kasusnya.

Aku tahu pasti bagaimana perasaan itu. mencintai seseorang yang hampir tak mungkin bisa didapatkan. Bertahun-tahun yang lalu aku jatuh cinta pada seorang marinir. Kami bertemu di Somalia, aku dalam misi PBB untuk pengungsi. Cinta pada pandangan pertama. Kami bersama-sama selama satu bulan penuh. Aku kembali ke AS dan prajuritku dipindah tugas ke Irak. Beberapa bulan berselang, namanya kemudian ada dalam daftar mereka yang kembali dalam peti.

Ketika kau bilang aku mengembalikanmu dari kematian, mungkin aku memang jago dalam hal tersebut. Tahun lalu, aku bertemu lagi dengannya. Seperti mimpi, tapi ini memang keajaiban. Namanya salah tertulis dan dia kembali dalam keadaan hidup. Sayang aku tak punya keberanian untuk mengatakan cintaku. Kurasa dia pun mengalami hal yang sama. Kami berdua terlalu malu.

Lalu, aku memutuskan pergi ke Denali. Mencoba mengubur cintaku. Dia kurasa berpikiran sama denganku, menerima tawaran untuk dikirim ke Afghanistan. Kami tak akan pernah bisa bersama. Noah terpingkal mendengar ceritaku. Sejak malam itu, setahun sekali aku menemui Noah di Anchorage, kami sama-sama melaporkan kemajuan cinta kami, yang sebenarnya tanpa kemajuan sama sekali. Putrinya masih tetap bersama pangeran pilihannya, dan prajuritku masih pergi dari satu perang ke perang yang lain.

***

Tahun ini aku gagal bertemu dengan Kaifa, tak bisa menghubunginya dalam enam bulan terakhir. Memutuskan nekat pergi ke Anchorage dan berharap bertemu dengannya ternyata tidak membawaku pada pertemuan tahunan kami. Padahal sangat ingin aku bertemu dengannya, menceritakan bagaimana putriku pada akhirnya menikahi pangerannya. Sial! Sial! Sial! Bulan ini aku mendapatkan terlalu banyak kesialan.

Rasa penasaran membuatku mengusut keberadaannya. Selama ini aku tidak pernah tahu apapun mengenai seorang dokter Kaifa, yang kutahu hanya dia pemegang paspor hijau, asal sebenarnya dari Saudi, dan bagaimana kisah cintanya dengan seorang tentara perdamaian PBB. Aku memutuskan memulai  pencarian dari Basecamp Taman Nasional Denali.

Butuh sebulan hingga akhirnya aku menemukannya terbaring di ruang ICU rumah sakit. Koma selama berbulan-bulan. Dokter tak tahu apa sebenarnya yang terjadi padanya. Pemicunya jelas kecelakaan lalulintas, mobilnya ditabrak truk. Masa kritisnya sudah lewat, dokter berhasil melakukan berbagai operasi yang dibutuhkan, tapi kemudian dia tertidur dan belum bangun-bangun. Semua organ vitalnya berjalan normal. Satu saja keanehannya, dia terus menerus teridur dakam demam selama tujuh bulan ini, demam yang tidak berbahaya, hanya suhu tubuhnya diatas normal.

Aku teringat kepada sang prajurit perdamaian, keluarganya mengatakan mereka pun telah melacaknya, bahkan lelaki itu menemuinya tiga bulan yang lalu. Tidak ada perubahan apapun. Aku diijinkan untuk menemuinya langsung dan berbicara padanya. Monologku berlangsung selama sepuluh menit.

“ halo Dok, tak kusangka akan menemuimu seperti ini.  Aku pergi ke Anchorage seperti biasanya. Sang putri kini telah menikahi pangerannya. Well, aku tak bisa menyalahkannya. Sepanjang hidupku aku telah bersiap untuk hari dimana dia memberiku undangan pernikahannya. Tetap saja dok, itu bukan hal yang mudah. Aku bahkan tidak menghadiri pernikahan mereka. Hahaha…

“ Dok, bisakah kau bangun? Bisakah aku membalas kebaikanmu saat membawaku kembali dari kematian di Denali dulu? Kau bilang kau jagonya membawa orang mati kembali hidup. Untuk sekali ini aku sangat berharap kau bisa membawa dirimu kembali hidup dok.

“ Kau tahu? Kau adalah harapanku sekarang. Aku tahu aku berkejaran dengan waktu, bukan dengan waktu kematianmu tapi dengan waktu saat kau memberiku kabar kau akan menikah dengan prajuritmu. Apakah untuk kesekian kalinya aku akan kalah dalam lomba adu cepat melamar wanita?

“ Ayolah Kaifa, temukan burung hudhud Sulaiman dalam mimpimu sekarang. Burung itu akan memberimu nasihat. Mungkin dia akan menasihatimu untuk menikahi sang prajurit atau mungkin menerima lamaranku. Cari dia dok, carilah burung itu untukku. Aku akan menunggumu dok. “

Kabar yang kemudian kuterima adalah tidak ada perubahan apapun pada kondisi Kaifa setelah aku menemuinya. Hidupku kembali berjalan normal hingga kabar terakhir mendatangiku. Dokter Kaifa telah pergi untuk selamanya. Keluarganya mengundangku datang ke pemakamannya. Bagiku mendatangi pemakamannya sama saja dengan mendatangi pesta pernikahan sang putri dalam mimpiku. Yang kulakukan berikutnya adalah mengepak perlengkapanku dan pergi ke Denali. Kali ini tanpa rencana pulang sama sekali. Aku tahu aku takkan dibangkitkan kembali dari kematianku kali ini. lagipula, aku tak punya lagi tujuan untuk didatangi di peradaban sana.

Happy 30th of September everybody.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: