Sindi

Embed from Getty Images

Konvoi kami hanya berjarak 50 kilometer dari kota Seoul. Rudal Pyongyang meleset 50 kilometer dari targetnya, pusat kota seoul. Meledak 100 meter dari konvoi kami dan melemparkan humvee dan truk-truk penuh tentara ke berbagai arah. Kulihat kilatan cahaya sangat menyilaukan, terdengar dentuman lalu dengung konstan yang menggangu di telingaku.

Hal paling sial dari kejadian ini adalah aku tidak langsung mati, terluka sangat berat di dada. Kurasa kepala ku juga terluka karena aku merasakan pusing yang sangat hebat dan pandanganku saat terjaga tidak bisa disebut sebagai pandangan normal. Rasa sakit datang. Aku tak bisa merasakan tubuhku, terasa seperti kesemutan dibarengi dengan sensasi ditusuk pisau.

Aku tahu ini adalah hasil dari dosa-dosa ku kepada ibu dan bapak, lama setelah ledakan aku masih hidup. Beberapa kali pingsan dan terbangun, setiap terbangun rasa sakit yang luar biasa menderaku. Dari mereka semua yang telah tiada, Ibu, Ibu tiri, Bapak dan terutama Sindi tak ada yang menemuiku. Mereka yang bilang orang sekarat bisa melihat orang kesayangannya atau bisa melihat malaikat jelas berbohong. Aku sendirian di saat terakhirku di bumi ini.

***

Namanya Sindi. Sebenarnya dia adalah mahasiswa tingkat akhir jurusan psikologi. Kemampuan fotografinya membuat dia menjadi fotografer lepas untuk sebuah koran nasional. Biasanya dia menerima orderan untuk memotret suatu tema atau kegiatan. Setelah order diterima dia pergi selama beberapa hari.

Tahun-tahun berikutnya,  setelah lulus dia mulai menerima pekerjaan lebih banyak dan pada suatu hari resmi menjadi wartawan. Impiannya menjadi jurnalis tercapai sudah. Tugas demi tugas yang baru membawanya berkeliling indonesia, dari memotret tugu nol kilometer sampai membuat artikel tentang sengsaranya orang-orang Talaud karena kelangkaan bbm.

Aku tahu bahwa impian terbesarnya adalah pergi ke luar negeri. Itu yang berulang kali dia ceritakan padaku. ‘boi, suatu hari nanti aku akan pergi ke luar negeri. Pergi ke Korea atau Jepang di musim dingin. Pergi ke timur tengah. Aku tak suka Eropa, terlalu mainstream, tapi jika ditugaskan kesana tentu aku akan berangkat dengan senang hati.’ Teman ceritanya di saat itu hanyalah aku, seorang bocah SMA yang kabur dari rumah. Dia memungutku dari jalanan dan menyekolahkanku. Kemudian memberiku tujuan hidup.

***

Sudah seminggu dua bersaudara korea saling menyerang. Dari pandanganku perang kali ini diawali dari keisengan abang di utara terhadap pasukan patroli adik selatannya di Demiliterization Zone. Yaaah, memang parah sih, karena menyebabkan 3 dari 5 petugas patroli itu tewas di tengah hutan dan di kawasan yang spesial diberi nama area bebas militer.

Kurang dari 24 jam sejak kejadian tersebut, di tengah malam rudal patriot Korsel yang berdiri gagah di pinggir pantai berhasil menenggelamkan kapal patroli Korut. Sweet revenge brother. Esok subuhnya konvoi kendaraan berat korut berbaris mendekati garis demarkasi. Roket-roket mulai meluncur dari kedua sisi.

Aku dan beberapa jurnalis lain terhimpit di tengah-tengah. Beberapa kilometer di luar Kaesong. Kami berlindung di sebuah desa kecil yang bertetangga dengan barak paling depan milik korsel. Hari pertama berjalan baik, aku melaporkan liputan kegiatan tentara korsel di barak. Operasi pertama skuadron tempur Korsel dikabarkan berhasil menahan Korut tetap di posisi terdepannya. Aku berhasil mengambil beberapa foto rombongan F-18 mereka terbang melewati barak kami.

***

Di draft email Sindi terdapat foto heli milik AS. Catatannya mengatakan ‘tampaknya hal biasa melihat heli tempur terbang rendah di Khyber Pass. Tidak ada satupun orang di rombongan ini yang excited melihatnya.’

Sejam kemudian, rombongan mobil mereka dicegat Taliban, padahal desa tujuan hanya berjarak 20 menit lagi. Sebuah desa indah di tengah jalur menakjubkan Khyber Pass. Adzan maghrib sudah berkumandang ketika tiga heli AS dan NATO melakukan serangan terhadap konvoi Thaliban dan jurnalis itu.

Sindi Adelia Kusumaatmadja menjadi satu dari dua orang Indonesia yang menjadi korban. Tujuannya ke pakistan adalah untuk meliput Khasmir dan Afghanistan. Takdir lah yang menentukan bahwa rombongannya harus bertemu dengan taliban di hari ketika AS-NATO memutuskan untuk melakukan operasi di sepanjang Khyber Pass. Sindi tewas ditengah perang, tanpa sempat menyelesaikan liputannya.

***

Aku terbatuk, kulihat darah di tanganku, jelas keluar dari mulutku. Kutarik nafas dalam-dalam. Mencoba mengingat teori apa yang harus kulakukan dalam situasi seperti ini. Sudah kuhatamkan semua buku-buku survival best seller dunia.

Aku pernah meliput perang antar suku di papua, berujung dengan liputan serangan oleh gerakan separatis terhadap kami yang sedang berkonvoi. Aku melihat sendiri bagaimana dua orang prajurit muda, tanpa pengalaman, jauh dari rumah, tertembak berondongan peluru separatis. Pengalaman prajurit itu tidak cukup. Mereka seakan tidak tahu apa yang harus dilakukan di pertempuran sebenarnya.

Salah satu yang membuatku selamat di kejadian itu adalah berada di mobil bersama dengan tentara paling berpengalaman dengan sergapan kelompok separatis. Sertu Tengku sudah selamat dari lima pertempuran melawan separatis di tengah pegunungan ini. Membaca buku-buku John Lofty Wiseman juga terbukti berguna, aku tahu bagaimana harus berlindung menggunakan mobil dalam situasi seperti ini. Penerapan teori untuk pertama kalinya, dan sukses!

Korea tentu akan jauh berbeda dengan tembagapura. Aku membaca laporan setengah jadi milik Sindi untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke kawasan industri Kaesong. Salah satu pemandu Korea menyatakan kami bisa bergerak hingga garis terdepan di Kaesong. Ada satu barak milik tentara Korsel yang bisa dijadikan base untuk wartawan. Barak di garis terdepan itu nyatanya masih puluhan kilometer dari pertempuran sebenarnya!

***

Aku pergi dari rumah di hari kematian ibu tiriku. Ayahku sudah tak peduli lagi pada anaknya ini. Dalam dua tahun berturut-turut kedua istrinya wafat. Ibu kandungku, diceraikan olehnya 5 tahun sebelumnya karena dia lebih tertarik dengan wanita lain, yang kemudian menjadi ibu tiriku. Selama 5 tahun aku hidup di  rumah dengan ibu yang tidak pernah menganggapku sebagai anak dan tiga orang saudara tiri yang hidup mewah. Ketika dia sakit kemudian sekarat, aku pergi dari rumah itu untuk selama-lamanya.

Hidup luntang-lantung di jalanan, aku tak tahu apa yang ingin kulakukan. Satu-satunya orang yang bisa dituju sudah meninggal tahun lalu. Beberapa bulan berlalu dan Sindi menemukanku. Aku tidak mengenalnya. Kurasa dia sama saja dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang sok perhatian pada anak jalanan untuk kemudian lupa karena fokus kuliah, lulus, bekerja dan menghadapi hidup yang lebih nyata.

Sindi mengangkatku sebagai adiknya, menyekolahkanku, dan merawatku seperti seorang ibu di rumah kontrakannya yang hanya punya tiga ruangan. Aku tak pernah tahu lebih jauh mengenai latar belakang hidupnya, dia jarang bercerita, aku jarang bertanya. Semuanya kemudian menjadi terlambat bagiku karena wanita itu meninggal saat tugas, jauh dari rumah.

Pukulan sangat telak bagi aku yang baru memulai kuliah teknik mesinku. Bulan-bulan kehampaan dan kesedihan. Kuliah terlantar, hidup mengenaskan, hari-hari tanpa semangat. Tuhan masih menyayangiku tentunya. Aku membuka email milik Sindi dan menemukan liputan setengah jadinya, lengkap dengan foto-foto yang dia ambil. Pencerahan itu datang, tujuan hidup kutetapkan, aku akan meraih apapun yang telah diraih oleh Sindi. Aku akan menyelesaikan pekerjaannya.

***

Para jurnalis diperintahkan mundur ke Seoul di hari ke 7 pertempuran. Daerah Kaesong semakin berbahaya, kapanpun infantri Korut bisa merangsek masuk jauh ke zona Korsel. Jadi, pada pagi hari sebelum matahari terbit kami bergerak dalam humvee ke selatan.

Hari itu aku teringat pada Sindi. Sebenarnya dalam tiga hari terakhir tidak terlintas sama sekali pikiran mengenainya. Mungkin karena aku selalu dalam situasi yang membuat adrenalin ini terpacu deras. Jujur, aku ketakutan setiap saat. Mengutuki diri ini mengapa bersedia meliput situasi macam begini. Pagi ini aku teringat Sindi. Aku bertanya bagaimana perasaannya saat sadar bahwa militer melancarkan operasi malam itu, dia mungkin sadar bahwa Taliban yang mencegatnya merupakan target operasi. Ada juga kemungkinan dia tidak pernah tahu sampai roket pertama menghajar mobilnya.

Dua orang paramedis menemukanku pada akhirnya, ekspresi mereka saat melihatku adalah tampang putus asa. Tak perlu menyesal teman koreaku, aku sudah siap untuk mati. Sejak kematian Sindi separuh hidupku sudah mati, hari ini aku hanya menyempurnakan kematianku. Satu-satunya yang kusesalkan, mungkin, adalah aku tidak mati di Pakistan. Aku tersenyum saat sadar Canon 5D tua milik Sindi tergeletak di dekat tanganku. Aku berusaha meraihnya tapi semuanya keburu gelap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: