Awiligar

Lelaki di hadapanku menyalakan garfit-nya untuk kesekian kali. Kini tiba saatnya dia bercerita mengenai rumah kami tercinta, Awiligar, yang secara harfiah dapat diartikan sebagai lembah pohon-pohon bambu. Abangku, lelaki penikmat Garfit seperti juga Ayahku, kami berdua lahir dan dibesarkan di Awiligar.  Oke, sebenarnya dari keempat anak ibuku semuanya lahir ketika kami berumah di lembah bambu ini. Tapi yang ketika pertama kali menangis di dunia ini paling dekat dengan rumah adalah abangku dan aku.

Awiligar di masa aku lahir adalah daerah yang sepi senyap pada jam 8 malam. Jaman abangku dilahirkan, sepi senyap jam 6 sore. Awiligar kini adalah daerah yang baru sunyi ketika jam dinding berbunyi 11 kali. Ah ya, jam dinding berbunyi sudah sangat langka saat ini.

Hutan GUPUSMU yang diklaim oleh TNI menjadi batas rumah kami. Hutan yang berisi bekas gudang senjata. Penduduk asli menyebutnya pager kawat, mengacu pada pagar kawat yang membatasi daerah milik tentara dan warga sipil. Sila buka Bandung Utara di Google Maps, kau akan menemukan hutan yang membentang luas dari Lembang, Dago Pakar, ke Bojong Koneng. Maribaya sampai ke Cileunyi, berujung di Sumedang. TNI menjadi tuan tanah dari Dago sampai ke Bojong Koneng.

RW 10 Awiligar, terletak di perbatasan hutan bagian barat daya. Memiliki 6 RT di jaman abangku sekolah, 7 RT saat adikku lahir tahun 2000, dan kini memilki 9 RT. Ide pemekaran daerah bukan saja milik provinsi-provinsi kaya sumberdaya alam. Di kampung kecil tempat pohon-pohon bambu tumbuh dimana-mana, pemekaran adalah hal yang juga terjadi tanpa terelakkan.

Tepat setahun setelah adikku lahir kami akhirnya memiliki rumah sendiri. Rumah yang ini berada di tengah-tengah RW 10. Dikelilingi kebun-kebun palawija. Tak jauh dari rumah, sawah-sawah masih menghampar. 10 tahun yang lalu hampir 15 km dari utara ke selatan membentang sawah yang hijau di bulan November dan menguning saat kalender berbunyi Maret. Kini hamparan sawah di lembah 100 meter dari rumahku itu tinggal beberapa petak saja. Tanaman beton dan bata telah menggantikan mereka.

Asbak di meja kami sudah penuh, abangku masih mengisap syahdu rokoknya. Setelah mengepulkan asap ke udara dia bercerita ada satu tanjakan yang menjadi momok bagi setiap kendaraan yang akan menuju Awiligar. Tanjakan Usin adalah gerbang masuk Awiligar, terletak di perbatasan antara kota dan kabupaten Bandung. Memiliki elevasi hampir 70 derajat, 200 meter panjangnya. Tahun-tahun ketika penjualan Honda dan Yamaha masih kecil, rute Kota Bandung menuju Awiligar dilayani sepenuhnya oleh angkutan mobil butut odong-odong. Sering sekali angkot Awiligaran tersebut menjadi bahan pembicaraan karena mogok di tanjakan usin.

Seorang pengemudi amatir, motor atau mobil, akan kesulitan melalui tanjakan itu. Panjang menanjak dan penuh lubang. Skill tinggi diperlukan untuk dapat tetap menggeber kendaraan sambil berzig-zag di tanjakan itu. Kurang menekan gas akan membuat kendaraanmu terdiam tak kuat melaju. Telat memindahkan gigi bisa lebih gawat, mundur adalah kejadian paling lazim. Masuk ke lubang membuatmu celaka. Oh tanjakan usin, kau telah menaikan skill mengemudi kami selama bertahun-tahun.

Lubang-lubang tanjakan usin tercipta karena gerusan air ketika hujan. Drainase buruk tersedia di pinggir jalanan, abangku berkata dia curiga  selokan itu bahkan peninggalan belanda! Hahaha. Bertahun-tahun, pemkot dan pemkab saling tunjuk untuk bertanggung jawab membetulkan tanjakan penting tesebut.  Kecuali di tahun 2008 ketika Dada Rosada dengan suka hati membetulkan jalan tersebut untuk para pemilih di Sekemirung dan tahun 2009 ketika Abu Bakar mempercantik tanjakan demi konstituen di Bojong Kacor. Alhamdulillah, berkat dana swadaya warga-warga kini tanjakan usin sudah mulus di beton.

Tanjakan Usin adalah ujian kelulusan mengendarai motorku. Dari bawah kutarik gas sepertiganya, kumasukan gigi 2, motor melaju pelan tapi pasti dan akselerasinya bertambah setelah seperempat tanjakan. Menjelang lubang pertama, yang kecil, motor kubelokan sedikit ke kanan, masih cukup tengah untuk dapat menghindari mobil dari arah atas. Setelah zig zag sedikit motor mulai kehilangan tenaga. Kurangi gas, turunkan gigi motor ke gigi 1, gas lagi perlahan. Berzig zag menghidari lubang besar sebelum seperempat terakhir tanjakan, lalu gas poll sampai ke ujung tanjakan sebelum menginjak gigi lagi menuju gigi 2 ,3 dan 4 pada akselerasi full setelah tanjakan.

Tahun berganti tahun, SBY menggantikan Megawati, SBY melanjutkan menguasai tampuk pemerintahan Indonesia untuk kedua kali dan kampung seribu bambu yang membentuk Awiligar berubah menjadi kampung ‘seribu’ pangkalan ojeg. Saat ini hampir di setiap ujung gang, ujung komplek, ujung belokan bahkan di ujung tanjakan kau dapat menemukan sekumpulan motor terpakir bersama segerombolan orang duduk mengobrol dalam saung seadanya. OJEG! Siap mengantarkan dari Awiligar ke belahan bandung manapun, asal kompensasi rupiah yang diberikan memenuhi persyaratan equilibrium ekonomi.

Ojeg adalah faktor utama yang memukul telak bisnis angkot awiligaran. Memiliki kelebihan dapat mengantarkan penumpang sampai depan pintu tujuan. Bersedia menjemput ke rumah ketika anda memesan. Menghemat waktu hingga hampir sejam dibandingkan angkot, yang sopirnya doyan mengetem demi setoran yang lebih tinggi daripada sopir ojeg. Awiligar telah sukses memasuki zaman efisiensi transportasi.

Ketika malam tiba Awiligar adalah negeri dengan AC raksasa. Suhu normal ketika bulan-bulan kemarau adalah 20 derajat. Di musim hujan suhu bisa mencapai 16 derajat pada tengah malam! Selimut adalah hal wajib bagiku. Malam ini angin bertiup cukup kencang, kurasa suhu mencapai 19 derajat celcius. Kopi yang diminta abangku telah kusajikan, senyum lebarnya semakin terkembang. Satu katanya yang selalu kuingat, “ nikotin dan kafein adalah luigi dan mario, Brother till the game over! “

Dingin semakin menjadi, malam semakin kelam. Abangku masih asik ngelepus dan bercerita mengenai tim sepakbola jaman dia bocah, bab selanjutnya setelah cerita bab awiligar, saat aku mulai kehilangan kontrol atas alam sadarku. Yang kuingat selanjutnya adalah selimut hangat, kasur empuk dan kamar berwarna hijau-biruku. Aku bermimpi menjelajahi Awiligar dari ujung hutan Dago Pakar sampai ke Pangkalan Ojeg Caringin tepat di belokan sebelum rumahku. Selamat tidur Awiligar, selamat bermimpi kawan-kawan semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: