Hari Kondangan Sedunia

Embed from Getty Images

Tak biasanya perempuan ini mengajak makan di kedai kecil, apalagi untuk makan sushi. Biasanya kami makan di restoran sushi dengan pelayanan premium. Sore tadi dia memberitahu bahwa ada kedai sushi, tanpa conveyor tapi punya sake yang diimpor langsung dari Niigata, satu-satunya kedai di Bandung.

“ jadi gimana kondangannya?” tanyanya saat aku duduk di depannya.

“ mau mendengarkan cerita hari ini nona?” jawabku sambil meminum sake yang dia sodorkan.

“ kita punya malam minggu yang panjang bukan?” jawabnya sambil tertawa. Tampaknya dia serius soal malam minggu yang panjang. Aku tahu dia pecandu kopi tapi tak pernah melihatnya meminum kopi hitam, kini di meja kami ada secangkir espresso pekat yang dia seruput pelan-pelan.

***

Hari ini adalah hari kondangan sedunia bagiku, ada tiga undangan pernikahan yang datang untukku di sabtu ini. Normalnya aku adalah seorang yang menghindari datang ke kondangan. Sudah banyak undangan yang tidak aku datangi tahun ini. Tak ada alasan khusus untuk menghindari semua undangan itu, hanya biasanya selalu ada kegiatan lain yang membuat kondangan tak bisa didatangi.

Seperti biasanya hari ini pun aku mencari alasan-alasan pembenaran agar bisa menghindari ketiga undangan, sialnya aku tak menemukan satupun alasan. Pukul 09.00 adalah pesta pertama, yang menikah adalah dua orang sahabat jaman aku sekolah TK. Serius, kami hanya berteman saat TK, setelah itu kami bertiga hidup masing-masing hingga saat jaman SMA. Kami reuni kembali di sekolah yang sama dan kedua temanku menjadi lebih sering bermain bersama dan BUM! Kini mereka menikah. Tujuh tahun setelah kami lulus SMA.

Keduanya datang menemuiku, memintaku hadir secara personal. Harusnya aku sadar akan hal itu ketika minggu lalu secara tiba-tiba sang pengantin pria mengirim sms minta bertemu, yang tak kubalas seharian. Sang pengantin wanita tampaknya turun tangan, meneleponku dan tak kuasa kutolak ajakannya untuk ngopi-ngopi sore di Bandung. Ujung-ujungnya ya saat ini, aku berdiri di belakang teman baikku saat bocah mengucapkan ijab qabul untuk mengambil teman baikku saat TK yang satu lagi dari kedua orangtuanya.

Hal yang paling menyebalkan dari acaranya tentu saja aku harus bertemu dengan om dan tante, empat orang kedua orang tua mereka. Berondongan pertanyaan tentang hidupku, tak lupa penjelasan tentang mama yang tak bisa hadir harus kuberikan kepada mereka. Ah ya, hal yang sedikit banyak menyebalkan sekaligus memalukan adalah ibu dari si pengantin perempuan sempat menarikku ke pinggir panggung saat sebelum ijab qabul. Bertanya mengenai kondisi mama yang sebenarnya untuk kemudian dia curhat lebih memilih anaknya menikah denganku. ‘ tanteu mah teu ngarti, padahal si wahyu kan pengangguran trus males-males gitu, teu lulus kuliah deui. Bapaknya dia juga pamalesan kerjaannya. Kenapa si Sarah gak pacaran ama kamu aja sih. Sarjana itenas, udah punya gawean juga, PNS di Jakarta. Kan tenang jadinya ntar mau makan apa.’

Aku pergi ketika para saksi berteriak sah.. sah..!

Pesta berikutnya bisa jadi akan lebih menyebalkan. Satu-satunya alasan menghibur adalah resepsi diadakan di hotel mewah dan tepat pada saat jam makan siang. Hal itu cukup untuk menutupi kenyataan satu-satunya acara yang tidak boleh didatangi tanpa pasangan adalah kondangan yang satu ini. Begini situasinya, yang menikah adalah mantan ketua unit tenis yang seangkatan dengaku saat kuliah. Orangnya sangat populer di jurusan kami. Hampir semua teman seangkatanku mengatakan akan menghadiri pernikahannya. Belum lagi teman-teman di unit. Datang sendiri atau tanpa serombongan kawans se-geng adalah ide buruk. Kawan geng tiga orangku sedang berdinas ke luar negeri dan yang lainnya keburu melancong ke raja ampat.

Saat kuliah dulu aku tak banyak bergaul di jurusan bahkan aku hanya memiliki sedikit teman seangkatan. Hidupku di zaman itenas lebih banyak dihabiskan di gunung jika bukan sedang ada kelas atau lapang tenis. Sang mempelai pria adalah satu-satunya teman yang sejurusan, seangakatan dan satu organisasi denganku. Agak sulit kabur dari kewajiban menghadiri undangan yang satu ini.

Menjelang dhuhur tampaknya Tuhan berbaik hati memberi aku rahmatnya, karena Hilda Rahman, satu dari sedikit perempuan yang berteman akrab denganku saat kuliah berjalan sendirian di tempat parkir. Dengan suka hati dia menggandengku masuk ke pesta. Sejak dari masuk pintu depan sampai makan-makan semua terasa aman dan baik-baik saja. Beberapa bertanya mengenai kami berdua, Hilda banyak menjawab dengan mimik bercanda, aku sesekali menjawab dengan senyum cengengesan.

Kau tahu, bagian terindah dari mimpi biasanya ada di beberapa detik sebelum kita bangun, setiap yang bahagia seperti hanya bertahan sekejap. Hanya sejam kurang Hilda bertahan di perkawinan Yosef, dia pamit setelah kami makan eskrim di pojokan. Aku mengantarnya ke halaman depan.  Sesuatu yang sangat kusesali pada akhirnya, demi melihat dia dijemput pacarnya. Goblog saya bilang! Mengekor ucapan terkenal manajer Persib yang berkumis.

Kurasa hari ini takkan berakhir lebih buruk di pernikahan terakhir yang harus kudatangi. Menghindari tragedi dengan Tante Endah dan Hilda, sejam sebelum undangan aku menghubungi Widya. Satu-satunya teman yang bisa kuajak kemanapun secara dadakan. Terlebih dia tidak berpacar, tentu tak akan terulang kejadian tragis kondangan Yosef. Sayangnya, bukan jawaban iya yang kudapat malah info kedai sushi dan kata-kata ‘ditunggu sehabis magrib’.

Situasi di pernikahan terakhir lebih nyaman. Ini arena ijab qabul yang ekslusif, hanya ada 80 undangan. Pemilik hajat adalah mentorku di klub naik gunung. Bagiku pengantin pria lebih dari seorang guru yang mengajari berbagai hal saat aku kuliah bukan hanya soal pergunungan. Pengantin wanita adalah tempat curhat saat aku masih bocah labil di awal masuk kuliah. Keduanya mentor yang selalu kuingat, mereka adalah master Yoda dan Obi Wan, jika aku Anakin sang pandawan.

Beberapa minggu sebelumnya kabar pernikahan kedua orang ini sudah santer, hanya karena tidak suka menggali dalam sebuah gosiplah aku tidak pernah bertanya kepada mereka. Tentu saja alasan lainnya adalah jika tidak tahu maka tidak perlu mendatangi kondangan pernikahannya. Sayangnya, kemarin keduanya menghubungiku secara terpisah. Keduanya masih menganggap aku sebagai murid mereka. Satu-satunya eks-junior di klub yang diundang menghadiri momen sakral mereka. Tidak ada kata-kata yang bisa digunakan sebagai alasan untuk diberikan kepada dua orang yang selalu kuhormati.

Di depan lobi acara kompak keduanya menyambutku. Sebenarnya bukan hanya aku yang disambut, tapi semua undangan mereka, karena aku datang belakangan terasa seperti spesial menyambutku. Hal pertama yang kukatakan adalah ‘wow!’ pengantin perempuan tersenyum malu tapi berujung meminta disiapkan trip naek gunung rinjani untuk bulan madu mereka.

Tak ada kejadian aneh lagi setelah itu. Hanya ada tiga orang yang kukenal di kondangan terakhir. Tidak banyak mengobrol. Aku fokus membantai makanan yang tersaji, jumlah tamu membuat setiap stand makanan bisa langsung diakses tanpa perlu mengantri. Tidak ada yang peduli aku datang sendirian ke kondangan. Tanpa kado dan amplop, karena tidak disediakan satupun kotak untuk memberi amplop atau meja untuk menyimpan kado. Ini resepsi pernikahan terbaik dalam hidupku!

Aku keluar setelah kenyang, makan dan mengbrol bebas dengan pengantin di meja makan. Pesta tanpa panggung pelaminan ini juara.

***

Kami bedua menjadi pengunjung terakhir yang masih bertahan di kedai Sushi. Obrolan hari kondangan sedunia hanya permulaan bagi obrolan kami hingga tengah malam. Tentu saja ada bagian menyebalkan dari malem mingguan dengan cewek ini, rumahnya jauh dan sebuah kewajiban bagi lelaki gentleman untuk mengantarkan pulang.

Setidaknya dia berjanji mau diajakan ke kondangan jika lain kali diminta. Well, aku tak pernah tahu kapan lagi akan menghadiri sebuah kondangan pernikahan. Kurasa hanya akan terjadi di waktu yang masih lama dari saat ini.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: