The Ferdinands

Embed from Getty Images

Udara dingin dan angin malam menerpaku begitu keluar dari gerbong. Berjalan menyusuri peron, stasiun ini sangat sepi. Dari kereta ini hanya aku yang berhenti di stasiun ini. West Bay Train Station merupakan bangunan yang ditinggalkan. Sejak adanya bandara dan jalan tol baru, orang-orang lebih suka berkunjung menggunakan pesawat atau mobil mereka. Jadwal kereta tiba tidak bersahabat dengan orang-orang. Seperti saat ini, hampir tengah malam saat kereta tiba.

Kereta api adalah kendaraan kenangan. Terutama lokomotif model diesel seperti ini. Bau uap dan asap solarnya membumbung seiring ingatan dan kelebatan bayangan yang familiar. Well, ini memang perjalanan kenangan bagiku. Beberapa kenangan mungkin terlalu gelap sehingga kau memilih menempatkannya entah dibagian mana dalam otakmu, berharap kenangan itu tersesat dan hilang dalam belantaran milyaran neuron. Bukan karena terpaksa aku memilih kereta menuju kota ini. Kenangan mungkin salah satu hal, namun aku lebih ingin tidak bertemu siapapun yang mengenalku saat aku tiba.

Angin semakin kencang saat aku terpaksa berjalan sejauh dua blok dari stasiun menuju alun-alun kota. Tidak ada taksi tersisa di jam segini. Distrik kota bagian sini ternyata cukup menyeramkan di tengah malam saat kau berjalan sendirian. Dulu sekali aku pernah berkeliaran kemari tengah malam, kabur dari training camp bersama pemain-pemain lain. Niat kami mencari PSK malah hampir berakhir bencana karena manajer tim kami justru sudah lebih dulu ada disana. Akhirnya kami bersembunyi di stasiun ini. Duduk-duduk, merokok, minum bir sambil membayangkan suatu saat akan bermain untuk Capitol  Hummings FC.

Menjelang tikungan di blok pertama pohon-pohon ek besar dan rimbun menghalangi sinar lampu jalanan. Suasana hampir sepenuhnya gelap. Kunyalakan sebatang rokok. Cukup mengejutkan karena aku bertemu beberapa orang di ujung blok. Mereka mengamatiku. Aku berusaha tidak menoleh dan meneruskan berjalan. Beruntung mereka tidak mengenaliku. Dari kejauhan terdengar suara anjing menyalak. Sebuah mobil sedan melambat di sampingku, jendelanya terbuka. Akhirnya orang pertama yang kukenal di kota ini.

Tidak mengejutkan orang ini menemukanku disini. Bertahun-tahun yang lalu kami bermain sepakbola bersama. Dia tahu jalan pikiranku. Dia tahu kemana aku akan bergerak, disana dia akan menunggu atau menjemput bola dariku. Kami adalah duet maut yang sangat mengerikan bagi pertahanan lawan. “Kita langsung ke rumah le’ boss ?” tanyanya. Aku menggeleng, dia tahu harus kemana membawaku. Di alun-alun kota banyak orang berkumpul. Kota kecil ini hanya memiliki lima ribu penduduk. Hampir setiap orang saling mengenal. Orang-orang itu, kebanyakan suporter fanatik Saturn sedang cemas menanti kabar dari rumah legenda mereka.

***

Dalam sejarahnya West Bay Saturn lebih sering berkutat di papan bawah liga kami. Beberapa kali kami terdegradasi ke lower division, tapi kami selalu bisa kembali ke top flight division. Satu hal yang membanggakan adalah meski kami tim kecil dari kota kecil di ujung pulau, lemari piala kami tidak kosong. Ada dua major trophy disana. Satu sebagai juara liga, lainnya sebagai juara piala nasional.

Tahun 50an, masa-masa keemasan bagi Saturn. Klub kami selalu berada di papan atas. Di musim 56-57 Mathias Ferdinand menjadi pahlawan bagi kota kami. Bermain apik sepanjang musim, mencetak rekor 42 gol dan menjadi top skor, Matty memberi kami gelar juara liga pertama dan satu-satunya hingga kini. Satu dekade setelah dia pensiun, dewan kota mendirikan patung tembaganya di alun-alun kota. Patung yang baru saja kami lalui.

Setelah Matty pensiun suporter ultras kami banyak berharap pada anaknya, Samuel Ferdinand, untuk kembali membawa kejayaan bagi kami. Di era 60 akhir hingga 70an awal kami lebih sering naik turun kasta. Tidak ada sosok yang bisa kami andalkan. Kami tidak bisa bergantung pada Sammy. Dibebani nama besar sang ayah dan ekspektasi berlebih suporter permainan Sammy tak pernah berkembang. Lima musim dia di  Saturn, tiga kali kami terdegradasi. Akhinya sang pemain memutuskan pindah klub, bermain untuk tim di lower division. Ketika ditanya mengenai keputusannya, dia menjawab ‘aku hanya ingin bermain sepakbola dengan lebih gembira saat ini’

Tahun 1975 Sammy kembali ke kota kami. Menerima jabatan sebagai manajer Saturn. Selama dua dekade berikutnya, kala dipegang Sammy, bukanlah musim yang buruk bagi kami. Kami tidak pernah terdegradasi. Puncaknya tentu saja ketika Sammy membawa kami merasakan kembali manisnya gelar juara. Tahun 78, kami mengalahkan FC Hummings, tim bertabur bintang dari Capitol di Final piala nasional. Kami mengalahkan raksasa tersebut di kandangnya sendiri.

Samuel Ferdinand adalah apa yang mereka sebut dari pecundang menjadi pahlawan. Dirinya menolak dibuatkan patung setelah berhasil membawa Saturn juara. Hanya ayahnya yang layak mendapatkan kehormatan tersebut tegasnya. Di pekan yang sama saat kami juara, anak lelaki pertama Sammy lahir.

***

“Saturn bisa bertahan juga musim ini…” Aku membuka obrolan. Kami sekarang duduk di kafe kecil belakang Stadion Ferdinand. Banyak mantan pemain Sammy berkumpul di depan stadion, aku jelas menghindari mereka.

“ Yeah.. banyak hal terjadi memang. Manajer musim ini tidak terlalu buruk. Paling tidak pengalamannya menyelamatkan Red Phoenix dari degradasi musim lalu sungguh bermanfaat. Orang-orang lebih khawatir pada kondisi Sammy yang terus memburuk sejak divonis kanker..”

“Jika kau menganggap aku tak peduli maka kau salah. Aku hanya tak tahu bagaimana jalan pulang. Aku mengamati perkembangan Sammy setiap hari.”

“Kau masih menyimpan dendam dari tahun 95?”

“Tommy dan Archie! Aku merasa kembali ke akademi.. hehehe.” Seorang berbadan besar, memegang dua botol bir di setiap tangannya menyelamatkanku dari pertanyaan Archie. Kurasa dia bernama Bernard. Satu angkatan denganku di Saturn akademi puluhan tahun yang lalu. Salah satu mantan anak buah Sammy. Bernard Hoffer adalah kiper paling raksasa yang pernah aku lihat.

“Bagaimana kabar terakhir, Bern?” Archie bertanya.

“Dokter bilang tinggal malaikat maut saja yang menunggu lampu hijau untuk bertugas.” Jawabnya. “Akhirnya kau bisa promosi juga. Sayang kita tak sempat bertemu di piala nasional. Bagaimana kabar di utara?”

“Cuacanya lebih buruk dari disini. Terlalu dingin. Musim depan mungkin tim ku bisa menembus kualifikasi pertama. Lebih menggembirakan kini kami berada diLowest League, dua langkah lagi kami bisa menembus top flight division.”

“Kau tahu, berita mengenai Metatron FC promosi dari conffrence division diulas di halaman utama sport West Bay Herald. ‘The Lost Boy Begin to Trail His Father’ judul yang provokatif, sangat kentara mereka menginginkanmu disini.” Archie menyodorkan sobekan koran padaku.

Mungkin itu hanya 1000 orang, tapi supporter Metatron FC berhasil membuat stadion kota New Fort bergetar setelah berhasil memastikan promosi dari Conffrence Division. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, mereka berhasil keluar dari piramida terbawah liga nasional. Kemenangan 1-0 atas The Lions di kandang sendiri membuat Metatron mengakhiri Conffrence Division sebagai juara.

Thomas Ferdinand, Manajer Metatron, memberi penghormatan khusus kepada supporter yang selalu mendukung Metatron musim ini baik di kandang maupun tandang. Sulit menemukan tim dari Conffrence lain yang memiliki pendukung seloyal Metatron. Mereka layak mendukung tim yang berlaga di Top Flight Division.

“Saya bangga terhadap Supporter disini.” Kata Ferdinand. “Selalu penuh semangat, bernyanyi, membuat lawan terintimidasi dengan koreo dan pyroshow nya. Mereka adalah bagian dari sejarah Klub ini.”

Conffrence Division masih menyisakan 3 pertandingan lagi. Dominasi Metatron di Conffrence musim ini memang sangat terasa. Tommy berhasil meracik strategi yang membuat konsisten penampilan Metatron. Walau dirinya mengakui terbantu dengan kegagalan menembus kualifikasi Piala Nasional di awal musim.

“Kegagalan bermain lebih jauh di Piala Nasional membuat kami mengevaluasi apa saja kelemahan kami. Sejak itu motivasi kami untuk tampil lebih baik meningkat, dan kami berusaha untuk tidak mengecewakan lagi suporter.”

Metatron berharap bisa bermain baik dan meraih promosi ke lower league musim depan. Kemampuan Tommy Ferdinand ada dalam strateginya yang sulit ditebak dan motivation speech nya, terutama saat jeda pertandingan. Tercatat 5 kali dalam musim ini Metatron bisa membalikan keadaan di babak kedua. Manajer muda ini jelas mewarisi bakat dari Ayahnya, mantan manajer legendaris West Bay Saturn, Samuel Ferdinand.

Mereka bahkan memuat sedikit profilku. Seorang mantan wonderkid dari West Bay Saturn. Thomas Ferdinand mewarisi bakat luarbiasa dari kakenya. Sebagai fantasista, kecemerlanagannya terlihat sejak masih di akademi. Sejak usia 15 hingga 17 tahun dia telah bermain di 60 game liga junior dan mencetak 103 gol. Bakatnya yang terus dipantau oleh Capitol Hummings FC. Tinggal menunggu waktu sebelum bocah itu boleh menerima kontrak pro pertamanya saat menginjak usia 18 tahun.

Dilatih oleh ayahnya sendiri, yang mengepalai West Bay Saturn Akademi, perkembangan kemampuan Tommy sungguh pesat. Para supporter mendapat harapan baru akan kebangkitan Saturn. Sayangnya semua impian itu harus kandas karena cedera parah yang dialaminya di final liga junior nasional. Saturn selain gagal juara juga harus menerima kenyataan pemain muda terbaiknya dipaksa mengakhiri karier yang belum dimulai. Cedera di lutut kanannya tidak bisa diobati. Harapan kami akhirnya benar-benar hilang.

“Seharusnya kau tidak bermain malam itu…” Bernie berkata.

“Sudah Kubilang aku tak akan sekalipun membahas hal lagi itu Bern..” jawabku.

“Jika saja malam itu tidak pernah ada, Sammy akan terus melatih kita dan kau akan membawa Saturn menjadi juara. “ Archie berkata dengan tatapan liar, kurasa dia telah mabuk juga.

“Archie sebaiknya kau diam…”

“Sangat mengerikan memiliki ligamen yang pecah seperi itu. Ketika tendonku robek dulu, sakitnya sungguh sangat mengerikan. Kau, ligamenmu bukan hanya putus dan pecah, itu seperti… ah aku tak bisa membayangkannya Tom.” Well, baru kutahu kalau Bernie pernah mengalami cedera parah juga. Apakah itu yang menyingkirkannya dari second choice goalkeeper 5 tahun lalu? Aku hanya bisa terdiam.

“Kalian tahu, mungkin pelatih kita adalah orang terkutuk sejak lahir! Dia yang begitu jenius di pinggir lapangan, diktator sebenarnya di kota ini, tahu bahwa anaknya sedang cedera dan memaksanya bermain demi trophi itu. Aku tahu apa yang dia katakan di latihan pagi… ‘piala ini akan sangat bagus untuk masa depanmu nak. Mental juara akan sangat kau butuhkan agar kau bisa melampaui apapun yang telah diraih oleh Matty. So, forget about your Goddamn knee and play like ussual!!’. Tuhan menghukum keegoisannya dengan mengambil satu-satunya anak lelaki yang dia miliki!!” Di titik ini kurasa Archie sudah keterlaluan.

“Hahaha..” Tawa Bernie menggema di kafe ini. Aku takut orang-orang akan datang kemari. “Diktator! Diktator terkutuk! Tapi sejujurnya aku mengikuti semua perintahnya karena aku percaya padanya, bukan karena takut padanya. Yaah, akhirnya kita tak membutuhkan revolusi untuk menggulingkan diktator yang satu ini kan?”

“Kau harus menemui Sammy sebelum terlambat Tom. Aku tahu dia memang bersalah, memaksa pemainnya untuk bermain walau tahu resikonya. Tapi, siapalah yang bisa menolak perintahnya.” Archie melemparkan kunci mobilnya padaku.

Untuk pertama kalinya dalam 15 tahun terakhir aku akhirnya kembali ke rumah. Tuhan memberiku kesempatan terakhir selama 15 menit.

***

Keesokan harinya, pemakaman penuh sesak, sepertinya seluruh penduduk West Bay berkumpul disini. Sammy dimakamkan tepat disamping ayahnya, aura legenda sungguh terasa disini. Mantan pemain Sammy berkumpul semua, para pemain Saturn dari tahun 1975 sampai 1995 hadir lengkap. Sammy’s Sides, julukan kami untuk mereka yang pernah mengecap komando dari pelatih otoriter itu.

Setelah petinya dikubur, tiba saatnya pidato pemakaman. Archie benar, hingga saat kematiannya tak ada yang berani menolak perintahnya. Aku berdiri di ujung makamnya, tepat diantara pusara dua Ferdinand dan mulai berbicara dengan suara yang pelan.

“ Sebelum memulai eulogi ini, saya ingin berkata jujur bahwa sulit sekali melakukan hal ini. bertahun-tahun sejak kami terakhir bertemu situasinya tak pernah berjalan mulus. Well, saya hanya ingin menunaikan permintaan terakhir mendiang ayah saya, mungkin ini satu-satunya bakti saya untuk beliau. Kisah mengenai Samuel Ferdinand dan Thomas Ferdinand selalu merujuk pada bulan Juli tahun 1995. Di sebuah malam, final kejuaraan junior nasional, saya harus mengakhiri mimpi saya lebih cepat karena cedera lutut yang sangat parah. Beberapa pekan kemudian West Bay Saturn dibuat terkejut karena Sammy memutuskan pensiun sebagai pelatih, dia berkata tanggung jawabnya lah yang membuat mimpi seorang pemuda harus hilang sebelum dia sempat mencoba meraihnya.

“ Apakah keputusannya untuk pensiun, meninggalkan Saturn kembali ke masa gelapnya adalah benar sebagai sebuah tanggung jawab? Sammy selalu bertanggung jawab terhadap semua kesalahan yang dilakukannya. Dia mungkin merasa bertanggung jawab, memaksa seorang remaja yang masih dalam masa pertumbuhan bermain demi sebuah gelar juara, padahal kondisi lutut anak itu sedang cedera. Itulah Sammy, dia selalu bisa membuatmu mengeluarkan semua kemampuan yang kau miliki. Menembus batas-batas ketahanannmu.

“ Terakhir kali saya bertemu dengannya di hari wisuda saya, 10 tahun yang lalu. Dia lah yang mendorong saya untuk mengambil kursus kepelatihan. Dia lah yang menginspirasi saya dalam menjalani pekerjaan saya saat ini. sejak final tahun 1995, saya memutuskan untuk berhenti mengikuti apapun itu yang berhubungan dengan dunia sepakbola. Saya berat untuk menerima maafnya, yang berulang kali dia coba lakukan pada saya. Saya benci arogansinya, kemampuan motivasionalnya yang luar biasa, saya benci taktiknya dan semua ajarannya di akademi. Kami pemain-pemain muda seakaan bisa meraih apapun di dunia ini dibawah arahannya.

“ Kini, biarkan lah saya menyesal sampai mati. Egoisme saya membuatnya menderita selama tahun-tahun beratnya berjuang melawan kanker. Sebutlah saya anak yang tidak berbakti, munafik. Sampai malam tadi saya tidak pernah mengucapkan kata maaf pada ayah saya. Walaupun pada kenyataannya saya mengikuti sarannya, bahkan menjiplak semua metode kepelatihannya, membawa saya pada kesuksesan pertama saya bersama tim saat ini. di akhir hidupnya, dengan nafas terakhirnya dia tersenyum dan menerima permintaan maaf dari anaknya yang sangat kurang ajar ini.

“ Maafkan anakmu ini ayah… mungkin saya adalah satu-satunya Ferdinand yang tidak berguna di dunia ini. “

Suaraku hilang berganti dengan isakan. Banyak orang yang juga terisak. Aku hanya berharap pemakaman ini segera berakhir. Meski begitu, firasatku berkata kisah Ferdinands dan sepakbola belum berakhir. Takkan pernah berakhir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: