Aku Gila… Lagi

Sejauh yang kuingat kamarnya tak pernah sekosong ini, hanya ada kasur di lantai, meja, dan karpet. Tak ada perintilan barang-barang kecil yang sering tak jelas fungsinya atau bahkan lemari. Ketika kami sekamar di asrama dulu, kamar kami termasuk salah satu kamar yang terlalu penuh barang, seperti kapal pecah mereka bilang. Di atas meja selalu ada mug-mug berisi kopi atau sisa kopi, tak pernah seharipun kami tidak mengopi. Kertas-kertas berisi coretan ide-ide kami bertebaran di seluruh ruangan. Laptop dan komputer hampir selalu menyala, kebanyakan hanya untuk memutar mp3. Kami tak pernah kehabisan ide dan topik untuk dibahas, dicatat sambil berharap suatu saat ide-ide kami tersebut bisa diwujudkan. Melihat kembali ruangan ini, ‘Ini kamar orang sakit’, batinku.

“Ada orang lain selain kita di ruangan ini?” Tanyaku padanya karena sudah 5 menit dia bengong melihat lurus ke depan tanpa fokus.

Dia menoleh padaku, “hati nurani” begitu katanya. Well, beberapa saat yang lalu dia bercerita bahwa kawannya kini hanyalah hati nurani. Saat kutanya apakah itu kawan khayalannya, dia mengakui sambil menunjuk tengah dadanya.

Sejak lulus dua tahun lalu, kami tak pernah bertemu secara langsung namun masih berhubungan. Setahun yang lalu orang ini benar-benar menghilang ditelan bumi. Dia mantan pimpinan kami di asrama. Empat bulan yang lalu para sesepuh asrama menitahkanku untuk mencarinya. Penelusuran selama empat bulan menuntunku kesini, kamarnya di rumah yang baru. Dia baik-baik saja kecuali hantu skizofrenia dari masa lalunya bangkit dan membayanginya kembali kali ini. Salah satu pemimpin paling cemerlang di angkatanku kini berkata untuk dirinya sendiri, ‘aku gila… Lagi’.

“Aku ingin pulang Tis.” Katanya sambil mencomot tahu goreng yang kesekian. Efek obat membuatnya tak bisa berhenti mengunyah. Lebih jauh lagi obat itu tidak hanya mengubah syaraf di otaknya saja, bentuk tubuhnya pun semakin tambun.

“Ini udah di rumah Mat. Atau kamu ingin kembali ke rumah yang lama?”

“Ini bukan rumahku Entis Kustiana!” Jawabnya. Telunjuknya mengarah pada pelipisnya, matanya melotot ke arahku. Kemudian dia bengong kembali.

“Sejak aku kabur dari rumah ini, berjalan kaki dari Cengkareng ke Depok, aku tak pernah kembali ke rumah. Kau tahu mereka memasungku di Ciawi. Tangan kanan dan kaki kiri dirantai bersamaan. Bayangkan kau harus makan dengan tangan kiri! Aku tak pernah sadar setan itu telah kembali Tis.

“Dia kembali dengan baik-baik, mengetuk pintu di sini. Memanfaatkan konflikku dengan ayah. Sekarang dia sembunyi di bawah tangga. Obat dari dokter yang membuatnya sembunyi.” Saat berbicara, telunjuknya tak pernah lepas dari pelipisnya.

Di asrama dulu kami sekamar. Suatu hari dia bercerita pernah masuk RSJ. Aku tak menanggapinya serius karena kami sedang mengobrol tentang perempuan, yah dia cerita tentang salah satu suster yang dia sukai.

Rohmat Saefuloh selalu menggambarkan periode RSJ sebagai ritus perjalanan hijrah. Depresi sering menghinggapi dia yang sulit melakukan pekerjaan dengan konsisten. Mood untuk sebuah pekerjaan baginya seperti roller coaster, dalam hati dan pikirannya. Ketika hati dan pikirannya tidak sejalan maka roller coaster itu naik turun dengan cepat. Dia membutuhkan sebuah perhentian. Setan skizofrenia itu adalah operatornya, menuntun dia untuk melakukan perjalanan. Mengajak dia berhijrah, lepas dari kesadaran.

“Tapi aku akan selalu pulang, aku tahu jalan pulang jika aku bisa melihat dengan sadar” ucapnya saat itu.

“Kapanpun kamu ingin pulang dari sana… ” ucapku sambil menunjuk dahinya, “hubungi aku Mat. Kamu punya keluarga lain bukan hanya disini. Kami di asrama sudah menganggap kamu lebih dari sekedar teman. Kita adalah saudara, satu keluarga. Rumahmu yang lain ada disana, rumah yang selalu mendukungmu.”

Hanya ada satu perbedaan prinsip yang membuatnya merasakan rumah ini sebagai sebuah broken home. Ayahnya, seorang pengusaha kecil-kecilan, cara pandangnya mengenai anak lelaki masih konservatif. Lulus kuliah hanya ada pilihan bekerja untuk kemudian menghidupi keluarga sebelum akhirnya menikah dan tidak perlu pulang lagi ke rumah setiap hari. Rohmat berpikir lebih bebas, kegiatan mahasiswa dan organisasinya membuatnya terbuka mengenai berbagai pilihan hidup. Sayangnya dia memang tak pernah bisa mengontrol emosi dan pikirannya dengan baik.

“Setelah bertengkar selama seminggu dengan ayah, aku memutuskan untuk pergi ke depok. Ke rumah nenekku. Aku tak membawa apa-apa selain ransel dan uang 200 ribu hasil menjual hape. Aku menggelandang berjalan dari cengkareng ke depok. Seharian.

“Aku hampir tak sadar Tis. Aku menganggap itu sebuah momen hijrah. Kali ini mungkin aku takkan pulang. Aku akan berhijrah dan membangun hal baru, seperti nabi membangun madinah.

” Sepertinya Aku hampir mati kelelahan, ketika aku tersadar sudah duduk di truk kopassus. Mereka tak menganggapku gila karena aku bisa menjawab semua pertanyaan mereka dengan baik, padahal aku gila.

“Lalu aku ingin pulang. Sepuluh hari sudah aku meninggalkan rumah. Aku pernah berkeliaran hanya memakai kolor. Kemudian aku tersadar, rasa ingin pulang itu yang menyadarkanku. Membawaku ditemukan oleh ayahku.”
Dia kemudian menceritakan kisah pilu di sukabumi. Dalam keadaan setengah sadar, pikirannya dikendalikan setan itu. Ayahnya bilang itu pesantren, tapi dia tersadar penuh dalam keadaan dipasung. Lagi-lagi keinginan pulanglah yang menyelamatkannya. Dia berhasil kembali.

Dua bulan yang lalu dia dirawat di RSJ. Dokter memvonis skizofrenia dan mulai mencekokinya dengan obat. Membuatnya bisa tersadar untuk sesaat kemudian kosong. Dia tak bisa bekonsentrasi lagi.

“Kamu bakal sembuh Mat. Dulu kamu bisa sembuh, maka sekarang kamu pun akan sembuh. Sudah tahu jalan pulang?” Tanyaku yang dijawab anggukannya.

Obrolan kami tak lebih banyak kemudian. Dia dikuasai pikirannya. Dahinya tidak berkerut tapi aku tahu dia sedang berpikir keras. Mungkin hati nurani sedang mengajaknya berdebat saat ini.

“Kamu pulanglah Tis. Saatnya aku tidur.”

“Oke. Cari jalan pulang itu Mat. Tapi jangan terlalu membebanimu, kamu punya keluarga yang lain di rumah satunya lagi. Temukan jalan pulang kesana jika kamu tak bisa pulang ke rumah ini. Kami selalu mendukungmu.”

***
Di luar kamar aku mengobrol dengan ayahnya. Ada rasa menyesal dalam matanya, arogansi dalam ucapannya. Sang ayah mencoba meyakinkanku mengenai jalan pilihannya, dia ingin Rohmat lebih serius mencari kerja setelah lulus. Dirinya menyesalkan fokus Rohmat dalam menjalankan LSM bikinannya bersama alumni Menwa angkatan kami.

Sambil berkaca-kaca dia bercerita bagaimana kondisi Rohmat saat ditemukan di jalanan Citayem-Depok. Tanpa alas kaki, hanya memakai kolor, pandangan kosong. Anak kebanggaannya itu keluar rumah subuh-subuh tanggal 14. Berjalan ke selatan dengan berpatokan pada jalan tol dalam kota. Terus menyusuri jalan tol sebelum berbelok ke Pondok Indah, mungkin anak itu bertemu kopassus disekitaran situ. Seminggu penuh warga satu RW dikerahkan untuk mencarinya. Hanya karena kuasa Tuhan lah akhirnya sang bapak memutuskan pergi ke Depok, mencoba mencari di tanah ibunya. Di jalan raya luar Depok dia menemukan sang anak menjadi gila. Remuk redam hatinya karena penyesalan.

“Rohmat itu dari kecil anaknya pinter, penurut, sayangnya suka pengen yang macem-macem. Pas jaman SMA juga gitu, pengennya kuliah, disuruh kerja gak mau. Akhirnya stress, harus dirawat. “

“Jaman berubah pak… “

“Tapi kamu gak bisa merubah orang tua.” Katanya memotong omonganku, “Saya merencanakan masa depannya kan biar dia bahagia, saya cuma sayang dia.”

“Sayang yang berlebihan itu hanya akan membawa pada kehancuran salah satu pihak pak.”

Sang Bapak yang hatinya hancur itu masih ingin mengajakku berdebat, namun aku sudah tak tertarik. Aku pamit untuk tak pernah bertemu lagi dengan dirinya. Hanya kata terakhirnya yang selalu terngiang di kepalaku. ‘Aku ingin anakku kembali.’

31st May 2013

Advertisements
1 comment
  1. pangeranrambee said:

    Sip. Jos. Lagi-lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: