Pengakuan Seorang Sersan Kepada Tukang Cukurnya

Tepat selama satu batang lucky strike aku menunggu. Kubuang puntung rokok itu ke seberang ruangan sebelum duduk di kursi cukur yang tidak pernah diganti sejak tahun 1989. Sudah dua dekade yang lalu kursi ini bertengger di tempatnya.  Lebih antik lagi adalah sang tukang cukur, mungkin umurnya sudah satu abad. Sebelum aku lahir dia sudah bertugas disini. Ayahku, salah satu pelanggan paling setianya, membawaku kemari saat aku berumur 5 tahun. Sejak itu selain tukang cukur batalion, aku hanya mempercayai satu orang untuk memangkas rambutku, bapak tua ini.

“Selamat datang jendral, bagaimana kabar perang kita di afghan? Kau sudah membantai taliban-taliban gila itu?” prolog yang sama selama bertahun-tahun aku mendapat servis darinya, hanya improvisasi di bagian ujungnya.

“Berhenti memanggilku jendral old man. Aku muak dengan perang dan aku tidak akan pernah mencapai pangkat jendral.”

“Wooaa, suasana hatimu sedang buruk jendral? Yeah, Lee Clark memang sialan. Dia tidak akan membawa kita kembali ke premier league. Jika maret tiba aku selalu merindukan Steve Bruce, hanya dia yang bisa membawa kita ke liga yang layak untuk kita.”

Well, persetan dengan Birmingham City old man! Aku baru saja kehilangan reguku. Ironis, kami seharusnya menyergap taliban di rute konvoi mereka, yang terjadi adalah kami disergap di dropping point kami.” Suara dengung mesin cukur ditelingaku dan suara parau orang tua itu entah mengapa terasa nyaman bagiku.

“Kita tidak pernah bisa mengetahui kapan nasib buruk menimpa kita jendral. Kecuali jika kau di medan perang, nasib buruk terbit dan tenggelam layaknya matahari, tidak akan pernah datang terlambat. Tapi kau bisa selamat jendral?”

“Yeah, kau masih bisa mencukur rambutku saat ini kan? Dari 10 orang di pernyerangan itu hanya aku yang selamat, kombinasi antara keberuntungan dan sedikit pengalaman. Hell yeah! Letnanku langsung mati begitu dia melompat dari helikopter.”

“Kau tahu old man? Ada yang lebih membuatku gila dibandingkan kematian seluruh reguku. Kau kenal Sarah? Well, aku beberapa kali berkencan dengannya. Aku tahu dia sudah memiliki tunangan. Aku tak pernah berniat menanyakan siapa namanya, sampai aku mengetahui bahwa tunangannya adalah Letnanku sendiri, yang mati karena melompat sebelum helikopter kami dihantam RPG taliban.”

“Kau bisa menikahi sarah sekarang kalau begitu jendral… Tentu dengan harapan sang letnan tidak melompat ke kasurmu saat kau sedang tidur dengan mantan tunangannya.. “ Kadang kala selera humor orang tua ini bisa membunuhnya dengan sekejap, untungnya aku sudah mendengarkan apapun perkataannya selama 25 tahun ini.

“Belum selesai bloody old man. Ada tiga private yang didatangkan sebagai reinforcement ke kompiku bulan lalu. Mereka tipikal tentara sok tahu di film-film. Mereka terlalu pintar, lulus kuliah, tidak tahu harus melakukan apa, tekanan keluarga, akhirnya memutuskan bergabung bersama Her Highness Royal Army. Tiga orang itu baru lulus pendidikan semester lalu.”

“Kurasa aku tidak pernah mengenal mereka. Yeah, nama mereka memang terasa familiar. Di hari kami ditugaskan untuk menyergap taliban sialan itu, aku baru tersadar kalau aku juga berkencan dengan pasangan mereka! Hahaha.. Kau lihat old man, aku menyelingkuhi tunangan, istri, pacar dari bos dan anak buahku. Bukan satu atau dua orang, tapi empat sekaligus!

“Kukira ada cukup banyak wanita di Ingris Raya ini, tapi mengapa harus bertemu mereka. Lebih sial kenapa aku harus bertemu dengan para lelaki pemilik wanita yang kukencani? Blimey!” Aku menyalakan sebatang lucky strike lagi, salah satu kelebihan pak tua ini adalah dia bisa mencukur rapih kliennya yang dicukur sambil merokok.

“Yah kau benar ada banyak wanita di negeri ini, tapi tidak akan pernah cukup untukmu. Ada dua juta orang dan kau memilih empat yang sudah berpasangan nyatanya. Tipikal james bond jendral, tidak menyukai wanita single seberapa pun cantiknya wanita itu.”

“Kami berlindung di reruntuhan sebuah desa saat itu. Seorang private bernama Edward mengeluarkan surat wasiatnya dan berkata ‘tolong serahkan ini pada Helena, Sarge. Katakan aku bertempur dengan baik’. Di liburan terakhirku tahun lalu aku tidur dengan Helena. Sejak hari pertama aku menginjakan kaki di tanah Inggris! Blimey!

“Si tolol edward terlalu sibuk berwasiat untuk Helena hingga tanpa sadar dia mengangkat kepala dan tewas tertembak sniper  taliban. Aku tak tahu apakah harus kuberikan surat itu pada Helena.”

“Berikan surat itu jendral. Tidak baik jika kau tidak melaksanakan pesan kematian seseorang. Kau mungkin ingin dengar cerita mengenai Sir Alfred yang dikejar-kejar Lord Anthony gara-gara tidak memenuhi wasiat kematian sang tuan tanah.”

“Aku tidak ingin mendengar legenda bualan darimu old man. Dua orang private yang sempat terpisah akhirnya bisa menemuiku di tempat perlindungan terakhir kami, old man. Serombongan heli sudah diterbangkan dari Qandahar untuk menjemput kami. Kami cuma harus bertahan selama beberapa jam lagi dari gempuran mereka.

“Saat itu aku sudah menjadi pimpinan mereka, sejak letnan Oswald mati aku menjadi orang dengan pangkat tertinggi. Satu lagi anak buahku mati, sebuah RPG telak menghantam tembok  di sisi kiri dan.. sial! Aku lupa namanya man! Dia terkubur disitu, terlambat untuk berlari.

“Sejak kau datang kemari auramu sudah sangat gelap, tak kusangka kau memang sedang dinaungi nasib buruk. Mari kita ke katedral jendral, kurasa pastor dapat mengusir setan-setan perang yang mengikutimu. Atau biarkan aku mencoba melakukan pengusiran, aku sudah menonton the exorcise sir!” dia terkekeh dan pamit mengambil air, orang tua gila yang tertawa karena candaannya sendiri.

Bloody you mooron old man!”

“Ceritaku belum selesai. Menjelang sore hari kami tinggal berdua. Kami beruntung bisa berlari ke bukit dan taliban-taliban itu telat menyadari. Sialnya, mereka tidak mau pergi sebelum bisa menghabisi kami semua. Mengambil resiko harus melawan pasukan bantuan.

“Saat kami tinggal berdua, private Richard mengeluarkan sebuah surat. Aku berkata muak melihat surat lagi dan kalian privateprivate sinting terlalu banyak menonton film perang! Bocah itu malah berkata itu milik temannya yang terkubur tadi, dia tak mau menyerahkan surat itu kepada istrinya nanti.”

Well, nama yang tertera di surat itu adalah Caroline Graham. Fuck me! Caroline Graham adalah salah satu wanita yang kukencani di London! Saat itu aku seakaan lupa berada di tengah perang. Aku menatap bocah terakhir yang masih hidup menemaniku kutanya apakah dia mempunyai pacar bernama Isabel?”

“Dan akhirnya aku mengakui semua kejahatanku pada bocah terakhir ini Old man. Dia cukup terkejut namun tampak lebih peduli dengan nyawanya daripada kenyataan pasangannya ditiduri oleh sersannya sendiri dan bahkan temannya pun menjadi korban dari keplayboyan sersannya ini. Dia tidak peduli.”

“Kau tahu jendral? Aku pun tidak peduli.. hahaha.. tapi ini cerita yang seru, tolong dilanjutkan jendral..” setahuku, orang tua ini tidak pernah berkata kurang ajar pada pelanggan yang lain. Well, aku tidak peduli seringkali dia adalah pendengar yang baik dan jika sedang waras bisa menjadi seorang filosof yang baik juga.

“Jadi, aku berjanji untuk mengorbankan diriku sendiri demi keselamatan bocah ini. Setidaknya aku mungkin tidak perlu mendatangi Helena, Sarah, Caroline dan Isabel untuk menyampaikan suami, pacar dan tunangan mereka mati saat berperang bersamaku. Aku menyuruhnya berlari menuju sebuah desa kecil tempat kami akan diselamatkan. Dia kubekali bom asap hijau tanda kami untuk diselamatkan dan kulemparkan bom asap orange sebagai pengalih ke arah sebaliknya.

“Aku melindungi dia yang berlari. Sialnya sebuah granat Taliban justru salah lempar dan meledak di arah lari bocah itu.” Pada momen ini aku tercekat, tak bisa bicara. Orang tua itu juga tidak berbicara, hanya merapihkan rambutku yang sudah hampir beres dipotong.

Setelah jeda beberapa menit dia berkata, “jangan temui lagi para janda itu jendral. Biarkan rahasiamu terkubur bersama Richard yang malang. Well, aku takkan menceritakan kisah ini pada siapapun. Kau tahu aku penjaga rahasia yang baik.” Kemudian hening kembali, dia mencukur jenggotku.

“Oke, cukuranmu selesai jendral. Ada lagi yang bisa kubantu?“

“Nope. Terimakasih old man, kau selalu bisa membuatku merasa lebih baik. Sejak jaman aku bocah sampai saat ini. Hell yeah! Aku seorang veteran perang saat ini. Hahaha.. kita bertemu di St. Andrew nanti malam Man, hari ini kita bantai Leeds United sialan itu!”

“Roger General!”

Aku meninggalkan kedai cukur itu dengan hati lebih lega. Kedai cukur kecil yang terjepit diantara mall-mall pusat kota birmingham. Tempat rahasiaku selama bertahun-tahun tersimpan rapat dalam brangkas kuno di kepala seorang tukang cukur tua.

 

28th Apr 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: