Revolusi Magrib

1.

Jali dan Bayu berjongkok di belakang masjid Al Ikhlas, bersiap menyalakan kembang api dan petasan dihadapan mereka. Jantung Jali dag dig dug tak keruan, pikirannya berkelana kemana-mana, membayangkan dirinya seperti Vee dalam film V for Vendetta yang pernah ditontonya bersama Beni dan kamerad lainnya. Sebuah ide gila, meledakkan kembang api dan menggulingkan ketua DKM. Telah lama ia menunggu momen ini, dirinya menyebut operasi ini sebagai revolusi senja. Komplotannya memilih menamainya revolusi magrib, agar terdengar lebih islami. Apapun itu, dia tahu momen ini akan merubah sejarah permasjidan di kampung ini.

Tiga orang komplotan Jali telah siap di depan panggung, menyaru sebagai panitia peringatan 1 Muharram. Dua yang lain mengamati situasi dari Warung Mba Laksmi di seberang lapangan masjid. Empat orang sisa komplotannya bersiap menunggu kode untuk memobilisasi para tukang ojeg di 3 RW yang mengelilingi Masjid Al Ikhlas. Revolusi! Tekad mereka dalam hati. Revolusi Magrib untuk menghentikan kedzaliman Rosihan si ketua DKM.

Rencananya sederhana, Jali akan membuat keributan di acara peringatan 1 Muharram ini dan berdemo meminta Pak Rosihan untuk mundur saat itu juga. Kembang api akan dinyalakan saat ketua DKM memberi sambutan di panggung, sekitar sejam setelah solat Ashar. Kembang api dan petasan adalah kode untuk orang-orangnya mulai memobilisasi tukang ojeg dan menarik siapapun yang ditemuinya di jalan menuju masjid. Rohmat, anggota komplotan yang sedang menyamar menjadi panitia akan mengambil alih panggung dan memulai orasi menuntut sang ketua mundur. Mereka yang di warung akan mengompori orang-orang untuk ikut beraksi sekaligus melindungi Rohmat. Puncaknya adalah saat orang-orang dan tukang ojeg mendapat isyarat berlaku anarkis jika sang DKM tidak mau menyerah. Namun Jali memiliki firasat bahwa sang Ketua akan mengundurkan diri begitu dirinya dikelilingi massa yang emosi, kegiatan anarkis tidak akan sampai diperlukan. Kata-kata mengundurkan diri harus terucap dari mulutnya saat itu juga di atas panggung, itu tekad Jali.

Solat Ashar sudah selesai ditunaikan sejam yang lalu. Merunut rundown acara, yang disusun dengan sangat cerdas oleh kamerad Beni, yang sedang menyamar menjadi koordinator seksi acara, lima menit lagi acara akan dimulai. Siti akan tampil sebagai MC. Lagu-lagu sholawatan sudah diputar sedari tadi. Para pejabat DKM sudah bersiap duduk di sofa barisan paling depan, sang ketua sendiri masih solat sunnah di dalam masjid. Pak Lurah yang dinanti akhirnya tiba, tepat waktu sesuai dengan timeline rencana yang dibuat oleh Jali.

Hati pemuda itu semakin berdebar, diliriknya Bayu yang kini malah menyalakan sebatang Djarum Coklat sambil bersender ke tiang menara speaker, bagaimana bisa partner in crime-nya begitu santai? “ Bay, bagi bay..” ketegangan membuatnya sulit berpikir, mungkin nikotin bisa sedikit meringankan beban otak dan jantung pikirnya. Bukan takut yang membuat Jali menjadi tegang, justru gairah yang membuatnya sangat tegang. Momen ini sudah dia rencanakan berbulan-bulan yang lalu. Ini adalah puncak dari revolusi magrib yang telah berlangsung selama empat bulan.

 

2.

Empat bulan yang lalu, tepat pada saat munggahan, Jali berhasil meyakinkan kawan-kawannya untuk meluncurkan operasi penggulingan ketua DKM Masjid Al Ikhlas. Operasi itu dinamai Revolusi Magrib.

“Dengan selesainya tarawih pertama ini, kita harus semakin memantapkan hati kita. Allah telah memilih kita untuk menjadi wakilnya dalam rangka menghentikan kedzaliman dan dosa-dosa yang telah dilakukan oleh Rosihan si Munafikun!“

“Revolusi Magrib resmi kita kerjakan. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” takbir-nya diikuti oleh sembilan orang lainnya yang mengikuti rapat revolusi malam itu. Sebagian besar yang ikut serta adalah kawan seprofesi Jali sebagai tukang ojeg Komplek. Seorang mahasiswa tingkat akhir yang kuliahnya tidak beres-beres diangkat menjadi wakil Jali, Beni namanya. Sedangkan orang termuda yang terlibat adalah Bayu, sepupu jauh Jali, masih sekolah kelas 1 SMA.

Selama bulan puasa itu mereka terus memantapkan rencana mereka. Revolusi magrib dilancarkan setiap senja, begitu matahari terbenam mereka akan mulai beraksi. Melancarkan rongrongan kepada pengurus masjid. Mengganggu kegiatan yang sudah disusun rapih oleh DKM Al Ikhlas demi mengisi bulan yang suci. Beberapa sabotase juga siap dilaksanakan. Di satu malam mereka memasak nasi liwet di rumah Bayu yang tepat berada di samping masjid. Halaman samping Bayu tegak lurus dengan posisi mihrab masjid. Ketika terawih dimulai, Jali dan kawan-kawan mulai memasak. Ikan teri dan terasi digoreng, petai dibakar, kipas angin dinyalakan dan asap penggorengan diarahkan ke masjid. Alhasil satu Al Ikhlas terganggu konsentrasinya gegara bebauan yang sungguh nikmat di lidah tersebut.

Semua pekerjaan mereka kian rapih sejak Rois, anak camat yang pengangguran, ikut bergabung bersama para kamerad magrib. Informasi ekslusif bisa mereka dapat dengan mudah. Banyak kegiatan sabotase mereka lakukan sepanjang bulan ramadhan dan syawal, sayangnya rencana menyabotase solat idul fitri gagal dilaksanakan karena para pentolan semacam Jali, Bayu dan Rois mudik ke Jawa. Beni awalnya nekat melaksanakan sabotase solat ied dengan anggota yang tersisa, namun urusan asmara menjadi pencegah.

Tak patah arang, selama bulan syawal hingga lebaran haji gerakan ini semakin aktif. Saat-saat menjelang dan setelah solat magrib adalah waktu eksekusi mereka. Menggunakan topeng Guy Fawkes sebagai penyamaran, mereka menyebarkan surat kaleng ke rumah-rumah warga menceritakan bagaimana kebusukan Ketua DKM Al Ikhlas yang mengkorupsi uang pembangunan masjid. Setiap magrib pula mereka secara sembunyi-sembunyi menempelkan selebaran gelap, menceritakan gosip dan tudingan kedekatan yang tidak wajar antara ketua DKM dan Romo Adrian, pastor kepala Gereja.

 

3.

Rosihan bertugas menjadi Ketua DKM sejak setahun yang lalu. Ketua DKM sebelumnya mengundurkan diri karena kesehatan dan pulang ke kampung halamannya di Aceh. Pak Agus telah menjabat ketua DKM selama 11 tahun sebelum akhirnya mengundurkan diri. Sebenarnya bukan karena prestasinya beliau bisa bertahan lama di posisi tersebut, namun lebih kepada tiada figur yang dinilai cocok sebagai pengganti ditambah tidak ada yang berinisiatif mengajukan penggantian.

Pak Rosihan, seorang pebisnis kelas kakap di kampung kami. Bisnisnya menggurita dari juragan angkot sampai kolam pemancingan ikan lele galatama. Sayangnya seperti juga Qarun yang sudah kaya namun tetap serakah mencari kekayaan yang lebih banyak, begitulah Rosihan ini. Dalam sudut pandang Jali dan kameradnya, Pak Ros terlalu tamak. Semua material proyek  pembangunan masjid harus dibeli melalui toko bangunan miliknya. Satu hal yang membuat berang Jali adalah arsitek perancang masjid ternyata seorang kristen! Lulusan UNPAR, teman dekat Romo Adrian. Jali tidak bisa menerima tempat ibadahnya dirancang oleh seorang kafir.

Bulan demi bulan berlalu dan kebencian Jali semakin menjadi-jadi. Dia berusaha mempengaruhi teman-teman ojegnya, namun tidak pernah berhasil meyakinkan mereka. Hingga akhirnya dia mengobrol dengan Beni dan menemukan sekutu yang kuat dalam teori konspirasinya. Bulan-bulan penderitaan Rosihan akan segera datang.

Mungkin Jali adalah pimpinan dari gerakan itu, tapi otak sebenarnya, orang di balik layar adalah Beni. Mahasiswa Fakultas Hukum itu yang menyusun grand design revolusi. Tujuan akhirnya adalah mengkudeta Pak Rosihan dan menggantikannya dengan orang pilihan mereka, yang pada saat revolusi diluncurkan masih belum ditemukan siapa saja kandidatnya.

Setelah melakukan kegiatan underground yang coba dikerjakan serapih dan serahasia mungkin, momen epik mereka akhirnya tiba pada saat lebaran haji. Mereka kecewa karena pengorganisasian solat ied berantakan. DKM lebih fokus pada pengadaan hewan kurban, yang tentu saja dimonopoli oleh bisnis Rosihan. Persiapan solat penting itu baru dilakukan pada subuh menjelang adzan. Karenanya ada banyak celah dimana gerakan Revolusi Magrib menyiapkan kejutannya.

Khotib baru saja naik mimbar dan mengucapkan takbir beberapa kali ketika serentetan kembang api meluncur ke udara berbunyi sangat keras. Hampir lima menit penuh kembang api tidak berhenti memekakan telinga. Anak-anak menjadi heboh dan terlihat sangat bergembira. Kambing dan sapi menjadi gelisah. Dua diantaranya berhasil melepaskan diri dari tali pengekang, membuat situasi menjadi heboh luar biasa. Solat ied tahun itu resmi dinyatakan kacau balau.

Keesokannya gosip disebar dan revolusi mulai menjamah pada warga masyarakat. Bisikan-bisikan dan obrolan warung kopi bertemakan ketidakbecusan Rosihan. Semua borok-borok sang penguasa Al Ikhlas kembali mengemuka, beberapa dibumbui dengan sangat manis oleh Jali dan Beni. Isu kotak amal yang dikebiri, jumlah pembagian zakat fitrah yang terlalu kecil, daging kurban yang sangat sedikit dan peringatan isra mi’raj yang kontroversial karena mengundang orkes dangdut! Rois berhasil menunjukan bukti sahih Rosihan lah yang mengatur semua itu.

Beni menyadari, saat untuk momen puncak akan segera datang. Bagai badai yang tak bisa dihalau, karier DKM Rosihan akan segera berakhir. Rapat tertutup pimpinan Revolusi Magrib akhirnya memutuskan momen peringatan 1 muharram akan digunakan sebagai momen hijrah dari kedzaliman Rosihan. Tujuannya adalah menjiplak rencana pada Idul Adha yang sukses berat. Kembang api selalu bisa membuat heboh bocah-bocah yang tak terhitung jumlahnya itu.

 

4.

Kembang api tiba-tiba membahana. Beni terkejut, dia belum memberikan sinyal apapun. Bahkan sang Ketua DKM belum muncul di lokasi acara. Beni menoleh pada Rohmat yang juga sama-sama kebingungan. Bocah-bocah kecil yang tadinya duduk manis menunggu acara dibuka kini mulai heboh dan bergembira menengok kembang api berkebyaran di langit senja yang cerah jingga. Ada yang tidak beres dengan ini pikir Beni.

Beni bergegas ke belakang masjid, namun di tengah jalan dua orang hansip menangkapnya dan menyeretnya ke dekat panggung. Hal yang sama terjadi pada Rohmat, keduanya ditahan oleh hansip sekarang. Dikejauhan anggota yang seharusnya memonitor situasi di warung mbak Laksmi sudah tidak terlihat. Beni kini sadar, dirinya telah terjebak. Seharusnya dia menyadari lebih awal sejak loyalis nomor satu macam Rois tidak bisa datang ke momen penting mereka, juga tukang ojeg yang seharusnya memobilisasi warga terasa menyembunyikan sesuatu.

Rosihan tiba-tiba muncul dari belakang masjid diiringi beberapa orang hansip lainnya. Dia langsung naik ke panggung dan berpidato mengenai keberhasilannya menggagalkan rencana pengacauan peringatan 1 Muharram. Dengan berapi-api dia menunjuk-nunjuk Beni sebagai tersangka, memaparkan kepada pak lurah bagaimana selama ini beni melancarkan operasi pengacau keamanan yang diberi nama Revolusi Magrib. Beberapa orang tukang ojeg dihadirkan sebagai saksi, mereka adalah anggota yang seharusnya memobilisasi warga.

Habis sudah Beni dipermalukan di depan warga satu komplek. Dirinya bertanya-tanya kemanakah Jali?  “Goblog! Orang itu sepertinya berkhianat..” Beni merasa akhir dari kehidupannya sudah tiba. Hari itu dia habis dipermalukan dan disidang di depan warga tanpa diberi sedikitpun kesempatan menjawab. Dirinya ingat kedua orang tuanya, beruntung keduanya sedang pergi ke Arab menjadi TKI. Setelah puas mempermalukan Beni, Rosihan atas restu Pak Lurah memberi hukuman tahanan rumah
bagi Beni. Dia diantar pulang oleh serombongan hansip dengan diiringi siutan dan sorakan warga. Rumahnya dijaga hansip sepanjang malam.

Semalaman Beni mencoba berpikir bagaimana cara keluar dari masalah ini, sayangnya dia hanya bisa melamunkan jalan keluar hingga akhirnya tertidur. Tidurnya gelisah dan sering terbangun. Keesokan paginya polisi menjemputnya. Dia dilaporkan sebagai otak dari kerusuhan Idul Adha dan perbuatan tidak menyenangkan berupa fitnah melalui surat kaleng dan selebaran gelap. Beni sadar, hidupnya benar-benar telah hancur. Ini bukan mimpi.

 

5.

Malam sebelum acara peringatan 1 muharram, Rosihan kaget karena didatangi Pak Camat dan Rois. Pak camat bercerita dia menemukan catatan anaknya dan terkejut dengan aksi kriminal yang dilakukan olehnya. Dibawah tekanan dan perintah ayahnya, Rois membeberkan semua hal mengenai Revolusi Magrib. Para pentolannya, anggotanya, sampai ke rencana besar buatan Beni.

Rosihan yang seorang pebisnis cepat menangkap maksud sebenarnya dari Pak Camat, namun hal pertama yang perlu dilakukannya adalah menghancurkan kelompok separatis ini. Dengan sangat mulus, Rosihan mengincar dulu anggota-anggota level bawah, mereka akan lebih mudah dipengaruhi dengan sedikit iming-iming duit dan ancaman. Otak dari gerakan ini biar dibereskan belakangan. Satu hal keuntungan dia adalah Rois yang termasuk dalam tiga orang penting kelompok itu sudah tidak bertaji lagi.

Setelah solat ashar, Rosihan solat sunnah dua rokaat sebelum menemui Jali dan Bayu yang sedang bersembunyi di belakang masjid. Kedua pemuda itu tampak terkejut melihat Rosihan menemukan mereka disana. Tanpa basa-basi ketua DKM menawarkan tawaran yang tidak bisa ditolak oleh Jali. Pilihannya adalah Rosihan melunasi cicilan kredit motor ojeg Jali dan memberinya posisi ketua dewan kegiatan remaja masjid Al Ikhlas atau dia akan melaporkan Jali ke Polisi karena perbuatan tidak menyenangkan dan menganggu ketertiban dan kriminalisasi saat tragedi Idul Adha. Lima menit saja waktu Jali untuk berpikir, pemuda itu akhirnya memilih dunia dan menghianati kawan-kawannya.

Beni pada akhirnya menjadi pesakitan sesungguhnya. Impiannya untuk terlibat dalam suatu momen perubahan di kampungnya berbuntut dengan penjara. Rosihan lanjut memperkarakan Beni ke polisi, persidangan berlangsung cepat, dalam dua bulan Beni telah mendapatkan vonis bersalah dan dihukum kurungan selama empat bulan. Musnah sudah kesempatan Beni untuk lulus kuliah.

Beni mungkin bisa dikatakan menderita depresi. Masa kuliahnya sudah memasuki jatah tahun terakhir, tujuh tahun yang lalu dia masuk dan kini dia belum keluar jua. Pacarnya, satu kampus lain fakultas, telah lulus sejak dua tahun yang lalu. Memiliki seorang pacar yang telah mapan bekerja membuatnya semakin sulit untuk fokus mengerjakan skripsinya. Tuntutan dan tekanan tak terucap selalu muncul di saat mereka berdua. Dia muak dan tahu pacarnya pun muak menunggu tanpa kepastian. Sulitnya adalah lima tahun bersama membuat sulit melepaskan seseorang. Beni tak tahu harus berbuat apa, Revolusi Magrib lah yang akhirnya dapat menjadi saluran emosinya yang selama ini terpendam. Beni menjadi stress dan gila, menghabiskan masa mudanya di komplek perawatan sakit mental provinsi.

Bertahun-tahun kemudian Jali berhasil merintis karir politiknya bukan hanya dalam lingkup komplek dan masjid Al Ikhlas. Di pemilu dirinya mengajukan sebagai caleg dengan dukungan dana berlimpah dari Rosihan, yang kini telah dianggap sebagai ayah, dirinya berhasil menjadi anggota DPRD kota. Sisa komplotan Revolusi Magrib tidak pernah lagi mengungkit-ngungkit tragedi itu. Sekarang Masjid Al Ikhlas telah menjadi masjid paling megah sekelurahan.

31st of march 13

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: