Surat Untuk Jasmine

Embed from Getty Images

Dear Jasmine,

Tampak sudah sangat lama sejak terakhir kali kita mengobrol. Well, aku masih sangat ingat sore itu. Mungkin memang pertemuan yang aneh. Yaaah, kapan sih kita bertemu tanpa sesuatu yang aneh terjadi.  Sabtu sore saat hujan deras, aku baru saja menghabisi seorang wartawan tengil di lorong menuju tribun atas balai kota. Kau terkejut melihatku masuk ke The Papers Always Defeat Rocks, aku terkejut menemukanku berteduh disana, kita bedua merasa heran dengan darah di bajuku, yang kubilang ‘sesorang tertabrak pengemudi gila di perempatan pasar raya’. kita bercerita tentang pekerjaan kita, seperti orang-orang biasa dan normal lainnya.

***

Atasanku mulai gelisah karena polisi mulai mengendus ada korupsi di departemen pembangunan kota. Para anggota dewan kota yang dulu dia bantu dan menerima suap yang banyak mulai mencoba melindungi diri mereka sendiri. Meninggalkan bos sendirian. Sial bagi bos adalah dia juga mencoba meninggalkanku, menjadikanku kambing hitam semua korupsi berjamaah itu. Memang akulah yang bertugas mengawasi setiap program pembangunan di kota. Kartel narkoba meminta pabrik-pabrik mereka disembunyikan dengan rapi, tapi semua itu jelas atas titah atasanku. Pada akhirnya hanya kacung sepertiku yang dengan suara bulat mereka setujui untuk dikorbankan. Mereka butuh polisi menangkap sesorang kan?

Ketika tanda-tanda itu semakin jelas, maka aku mengambil langkah lebih dulu. Kubisiki koran lokal mengenai korupsi di departemen ini. Kubeberkan semuanya dengan sebuah surat kaleng. Berita dan liputan media semakin besar, si bos mulai semakin gelisah. Aku tetap berkepala dingin, menyendiri ke perpustakaan, mempelajari sebanyak mungkin kasus bunuh diri dari buku-buku kriminolog. Hari ekseskusi tiba, kepala departemen pembangunan kota tewas gantung diri di ruang kerjanya. Polisi mengambil kesimpulan dia mengakhiri hidupnya karena tidak kuat menghadapi kenyataan korupsinya berhasil terbongkar.

Sialnya, seorang wartawan dari koran itu lebih pintar dari kebanyakan wartawan dan dia mencurigaiku. Sabtu sore itu dia menembus hujan demi berita sensasional yang dia harapkan. Kubisikan padanya ‘bukti absolut dan pengakuan mencengangkan’ namun berakhir dengan dua kali hantaman batu bata tepat di kepalanya. Selamat tinggal kawan.

***

Tahukah kau Jasmine, kunci dari kejahatan adalah jangan kau ceritakan apapun itu kejahatanmu. Aku bertahan hidup bebas hingga saat ini karena prinsip itu. Yah, surat ini soal lain. Akan kuceritakan nanti. Anyway, ingatkah kau ketika aku cerita tentang Leoni dan Sophie? Hahaha. Kau mengamuk saat itu. Berlari melintasi banjir setinggi lutut untuk meninggalkanku yang kebingungan harus bagaimana. Saat  itu kita masih kuliah. Saat-saat itu kita masih bergelut dengan idealisme kita.

Leoni, Selena, Aku dan Kamu, kita satu almamater. Hanya kita berdua yang masih hidup sampai saat ini. Tragedi Leoni memang cukup mengerikan. Tertabrak truk saat badai, semua orang mencoba menghiburku. Mereka percaya aku sangat terpukul karena Leoni tertabrak tepat di depanku. Aku curiga apakah mereka pernah tahu kisahku dan Leoni? Sejauh ini kurasa hanya kau dan Sophie yang mengetahuinya.

***

Leoni adalah perempuan pertama yang memanggilku dengan panggilan mesra. Kami masih sangat muda, sophomore di akademi. Dia bukan pentolan utama klub debat, akupun bukan ace klub menembak. Bagaimana kami pertama bertemu? Aku butuh menggali dalam ingatanku untuk menemukan sebuah scene dimana dia mengajakku untuk mengikuti kompetisi debat. Kami sekelas dalam kuliah matematika saat itu. Ajakannya kujawab, ‘boleh kubawa senapanku saat berdebat?’ well, tak kusangka itu dianggap cukup lucu olehnya dan hubungan kami berlanjut ke tahap selanjutnya. Naah… hubungan kami ternyata tidak cukup lama. Dia meninggalkanku begitu saja. Seorang laki-laki lain menjadi pilihannya.

Bertahun-tahun setelah keintiiman sesaat itu aku tak pernah berbicara padanya. Hingga pada suatu malam, aku tiba-tiba menemuinya. Dia sedang tidak berhubungan dengan siapapun. Kami kembali berdekatan dan kali itu tampaknya kedekatan kami akan lebih jauh daripada sebelumnya. Namun, dia tetap orang yang sama.

Setahun yang lalu, aku menemuinya saat badai Eerin melanda kota kita. Di dekat pelabuhan, truk-truk berusaha keluar secepat mungkin dari pinggir pantai. Salah satunya, yang berwarna biru, menabrak Leoni di persimpangan. Truk itu tidak salah karena lampu lalu lintas menyala hijau. Leoni tidak salah, karena dia berdiri menunggu. Aku bersalah karena mendorongnya. Triknya adalah aku  ikut melompat bersama Leoni. Dia kudorong kedepan truk, aku melompat ke samping. Sikut ku terluka dan mendapat 8 jahitan. Tapi Leoni, dia pergi menemui penciptanya. Aku berdalih mencoba menyelamatkannya.

***

Jasmine, bercerita mengenai Leoni dan tragedinya selalu membuatku sedih. Namun, hanya Sophie lah yang membuatku menangis. Suatu hari kau melihat Sophie dan aku berjalan menuju kampus. Aku melihatmu memperhatikanku. Kau tahu Sophie memiliki seorang pacar saat itu, dan itu bukan aku.  Kau benar. Seratus persen benar. Aku hanya seorang sahabat bagi Sophie. Hingga kematiannya, Sophie selalu menganggapku sebagai seorang sahabat. Dan cerita kau berteman dengan Sophie merupakan hal baru bagiku. Hahaha, aku terkejut ternyata kau berteman dengannya sejak kita masuk kuliah.

Apa kau pernah merasa begitu kesal padaku Jasmine? Lebih mengharapkan cinta seorang sahabatnya sendiri. Aku memang tak pernah berusaha mencari tahu perasaanmu dear. Walau perasaanmu tampak jelas, hal itu cukup menakutkan bagiku. Kau pergi meninggalkanku bertahun-tahun yang lalu. Oke oke, aku pergi meninggalkanmu, posisi ini tampak lebih fair.

***

Aku memeluk Sophie sebelum mendorongnya dari jembatan. Arus sungai sedang sangat kencang saat itu. Hujan memang telah berhenti, hanya gerimis yang tersisa. Kami berhenti di jembatan itu. Aku mengajak Sophie keluar dari mobil. Aku memeluknya kemudian mendorongnya. Arus sungai takkan membuatnya selamat. Kemudian aku menangis, sangat lama sampai bulan benar-benar telah bersinar terang.

Sophie pernah menjadi sahabat yang sangat baik bagiku. Kau tidak bisa menyalahkan sistem hormonmu, tetapi aku lelaki dia perempuan. Perempuan yang pintar. Cantik, atraktif. Oke dua atribut terakhir memang relatif. Sophie selalu menjadi perempuan yang menarik bagiku. Sialnya, sejak pertama kali bertemu dia sudah berpasangan dengan orang lain.

Seharusnya aku jangan pernah mengenal cinta. Cinta hanya akan menuntun pada benci. Karena cinta aku  marah dan akhirnya membencinya. Uuh,  aku tidak benar-benar membencinya. Aku tak tahu bagaimana perasaanku. Musim berganti musim, tahun berganti tahun, kami masih tetap seperti saat pertama kali bertemu.

Kami pergi ke Woodlawn Hill pagi itu, bulan Agustus. Perkiraan cuaca ternyata benar. Begitu kami tiba disana tengah hari hujan deras mengguyur perbukitan. Kami mengobrol, lalu aku akan mengantarkannya pulang. Hujan ternyata cukup deras untuk membuat aliran sungai meluap. Ide itu datangnya hanya sekejap. Aku menghentikan mobil di jembatan, kami berdua keluar. Itulah saat terakhir aku bertemu dengannya.

***

Dear Jasmine,

Apakah kau melihatku di pemakaman Sophie? Hampir semua teman seangkatan kita datang pada saat itu. Semua tampak terpukul dan bersedih. Air mata turun disetiap wajah teman-teman kita, lelaki dan perempuan. Tapi langit mengkhianati Sophie, dia tidak ikut menangis, langit bersinar cerah dan sangat menyejukan.

Aku ketakutan Jas. Setiap kali hujan turun darahku berdesir. Bukan hanya adrenalin yang berpicu mengalir dengan deras. Ingatan-ingatan tidak menyenangkan membanjiri pikiranku. Aku tak bisa berpikir jernih. Sesuatu yang gelap dan kejam bangkit dari dalam jiwaku.

Aku selalu mengingat pelukan Sophie, tatapan matanya padaku, dia tersenyum. Senyumnya berubah cepat menjadi jeritan. Aku melihat senyum Sophie jika ada orang-orang yang kedinginan basah kuyup tersenyum. Kadang kala aku mendengar jeritan Leoni diantara bunyi gemerisik air hujan. Oh, setiap hujan aku selalu merasa mata seluruh polisi menatapku dengan tajam.

Seorang polisi kini tak bernafas lagi. Oh Jasmine, ini semua sangat mengerikan. Dia melihatku yang memandanginya dari seberang jalan. Kami berdua sama-sama sedang berteduh. Aku tak tahu kenapa dia mengejarku saat aku berlari. Di belokan tajam lorong-lorong belakang blok pabrik kutikam dia dengan pisau dapur.

Tolong selamatkan aku Jasmine. Tolong hentikan hujan-hujan itu.

Maafkan aku Jasmine, tampaknya tidak ada lagi yang perlu kutulis. Maaf atas semua sikap arogananku padamu.

With Love, Ricardo.

***

18 April 1961, Ricardo Moyes  seorang keturunan Argentina ditemukan mati karena gantung diri di sebuah gudang di kawasan industri East District 28. Bersamanya ditemukan jasad seorang polisi yang tewas karena 3 tusukan benda tajam di perut dan dada. Sebilah pisau dapur dengan sidik jarinya dan darah korban tergeletak disana, di atas surat yang diyakini sebagai pesan pengakuannya sebelum bunuh diri. Perlu waktu seminggu penuh bagi polisi untuk mencari siapa Jasmine yang dimaksud dalam surat Ricardo.

Surat itu ditujukan untuk Jasmine Bloomfield, seorang psikiater di klinik Universitas. Menurutnya Ricardo bukanlah tipikal seorang psikopat. Walau itu jelas dapat diperdebatkan. Jasmine tidak pernah mau berbicara mengenai Ricardo. ‘biarkan orang-orang yang mati tetap tenang di alam sana’ ucapnya. Teman-teman kuliahnya mengenal dia sebagai pemuda yang pintar, mereka jarang melihatnya di kampus karena dia lebih sering berpergian. Tak ada yang benar-benar berkawan dekat dengan Ricardo kecuali seorang Sophie Adams.

Sebagai mantan salah satu section head di departemen pembangunan kota, Moyes dikenal sebagai pribadi yang energik dan baik hati. Dia mengundurkan diri sejak skandal korupsi di departemennya terkuak dan kepala departemen meninggal karena bunuh diri. Saat itu kepolisian menyatakan tidak memiliki cukup bukti mengenai keterlibatannya. Dia diakui bersih dan  tidak terlibat dalam skandal tersebut.

Meskipun terlihat seperti terang benderang, Ricardo dan surat untuk Jasmine tetap menjadi misteri. Ada banyak pertanyaan yang masih belum terjawab.

18th Feb 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: