Hujan (2008)

Jika dua orang janjian ketemu, aku hampir selalu dapat bagian yang menunggu. Entah mengapa aku selalu tak tenang jika datang terlambat dan parahnya orang lain hampir selalu datang terlambat. Seberapa telatpun aku datang mereka selalu datang lebih telat. Menunggu itu menyebalkan, sialnya aku telah kebal menunggu.

Hari ini cukup parah, karena terlalu cepat mengerjakan praktikum aku harus dobel menunggu. Menunggu si neng selesai kuliah dan menunggu hujan reda. Percayalah, tak ada yang lebih baik diantara keduanya. Waktu menunjukan pukul lima lewat lima saat kulihat HP-ku. Kuliah seharusnya selesai lima menit yang lalu, tapi ia masih belum datang juga. Sepatuku yang sedikit basah mulai memberi efek yang tidak menyenangkan. Hujanpun belum menunjukan tanda – tanda bakal berhenti. Aku masih berdiri merapat tembok di samping kantor dekanat, menunggu ia keluar dari gerbang di seberangku.

Lima belas menit berlalu, aku mulai tak sabar. Ingin kuhubungi ia, sayangnya aku tak punya pulsa. Lalu, semuanya terjadi begitu cepat. Hujan masih deras, sebuah sedan milik kapten tim futsalku melaju cepat di depanku, jendela depannya terbuka dan sesosok wajah cantik berteriak padaku, “ Bastiii, duluan ya!”

Damn, I hated this rain. Akhirnya aku memutuskan mengobati luka hatiku dengan berjalan kaki menembus hujan. Adzan magrib berkumandang dan daripada menuju mesjid aku justru berjalan menuju warung kopi. Sebuah dosa lagi, pikirku.

***

Aku masih melompat – lompat sambil bernyanyi bersama ribuan orang lainnya. Mendung pekat dan hujan lebat yang turun dari tadi kontras dengan hatiku yang cerah gembira. Aku cinta hujan, jika biasanya kami kepanasan saat menunggu kick off kali ini kami lebih nyaman, karena hujan yang telah membuat seluruh tubuh basah kuyup adalah hal yang biasa bahkan menyenangkan, daripada kepala overheat karena terik.

Yang lebih menggembirakan adalah setiap kali hujan tim kebanggaan kami selalu menang, lebih dari itu mereka selalu membantai lawannya ketika hujan. Sepertinya hujan membawa keberuntungan bagi kami, benarlah kata pepatah Cina ‘ hujan adalah rezeki’.

Saat ini lima menit menjelang pertandingan berakhir, hujan semakin deras, tapi serangan kami pun makin deras membanjiri gawang lawan. Akhirnya gol kelimapun tercipta melalui sebuah serangan sporadis dari kedua sayap. Sebuah kemenangan fantastis dibawah guyuran hujan, 5 – 0.

Walau dua kali diguyur hujan, sekali saat menjelang kick off dan sekali lagi saat babak kedua baru dimulai, aku puas datang ke stadion ini.

Permainan cantik, hujan gol dan cleansheet ke tujuh musim ini secara beruntun, what a beautiful game. “ ya Tuhan, berilah terus hujan-Mu saat kami bertanding.” Do’a-ku dalam hati.

“ Ide, pulangnya konvoi terus kita minum STMJ di tempat biasa.” Qismis Kumis berteriak padaku, aku hanya mendengar sayup – sayup karena keributan disini, semua orang nampak tak bisa diam karena kesenangan atau karena kedinginan? Hasilnya, aku terpisah dengan teman – temanku saat konvoi dan tersasar dengan ban motorku kempes. Untung aku cepat menemukan tukang tambal ban, sekalian aku masuk ke warung kopi yang sangat menarik hati di sebelahnya.

***

Aku benci hujan. Panas terik lebih baik daripada hujan bagiku. Sepanas – panasnya cuaca, bajuku tidak basah kuyup dan membuatku masuk angin lagipula semua terik itu bisa kuatasi dengan sebotol minuman berkarbonat atau segelas besar fresh juice. Tapi hujan, badanku basah, motorku kotor dan yang paling parah seperti saat ini, sudah setengah jam aku berteduh di kios bobrok tak berpenghuni ini, berbatang – batang rokok sudah kuhabiskan tapi hujan tak mau berhenti.

Untungnya aku orang yang positive thinking, saat hujan seperti ini adalah saat yang tepat untuk merenung. Berpikir sambil merokok, merokok sambil berpikir. Biasanya ide untuk novel yang sedang kutulis muncul disaat – saat seperti ini.

Lamunanku terganggu oleh dering hp-ku. Sms dari ibuku rupanya, ‘ Kozi,, jgn ngrokok wkt ujan, paru2 bsh nanti.’ Aku tersenyum. Telat bu, sudah setengah bungkus rokok kuhisap. Aku yang kedinginan dan mulai bosan bangkit, kutembus hujan mencari sesuatu yang hangat.

***

“ Ide Holy Ganz! ” kataku senang saat melihat temanku yang basah kuyup masuk, sudah setengah jam aku termenung sendiri disini.

“ Woi, Basti Baldy. ” Balas Ide.

“ Gimana menang gak? ” tanyaku sambil menawarinya sepotong roti bakar sisa yang langsung dilahapnya dengan antusias.

“ Mwenawng dwong, kwan hwujawn.” Katanya tak jelas.

“ Apaan? “

“ Pastilah menang, kan hujan. Gak ada sejarahnya kita kalah waktu hujan. Oh God I love Your rain.”

“ I hated rain, all gonna be wet. ” kata seseorang di pojok yang asik membuat lingkaran dengan asap rokoknya. Diluar hujan kembali deras.

“ Hey, Kozi Asgar!” Ide tersenyum lebar. “ Whats up dude?” aku baru menyadari kalau orang tersebut adalah filsuf kami tercinta Kozi Asgar yang sangat menyukai rokok gudang garam.

Kozi Cuma tersenyum sambil melemparkan bungkus rokoknya ke arah kami, kuambil sebatang, Ide mengambil batang terakhir.

“ Gimana si Neng Ti ?” Ide bertanya.

“ Haha, parah. Jangan pernah mau menunggu cewek saat hujan.” Kataku getir.

“ Perempuan adalah hujan.” Kozi mulai berfilosofis. Saat kutanya apa artinya iapun memberi kami kuliah 4 sks.

Diluar hujan masih deras dan memberi udara dingin, sedingin Kozy. Tapi untungnya kami memiliki Ide disini, walau ia yang paling basah kuyup diantara bertiga tapi ia tetap ceria dan memberi kehangatan semu kepada kami. Seperti entropi yang menghangatkan lubang hitam. Aku sendiri selalu, setiap saat, kuyu. Akhirnya sisa hari itu kami habiskan dengan berdiskusi sampai tengah malam.

Ali_Buschen

Wednesday, February 06, 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: