Obituari

Setelah 8 jam perjalanan darat dari Medan ke Kutacane, hal pertama yang kuinginkan adalah menghisap dalam Garpit dan menyesap kopi aceh gayo yang terkenal wangi dan pahitnya. Memasuki warung kopi terdekat dari terminal kecil ini, aku melihat ada 3 meja berukuran sedang untuk makan. Tidak ada etalase yang menjajakan makanan siap dipesan, hanya ada ‘bar’ dengan seorang bercambang lebat dan lap serbet merah putih kotak-kotak kusam di bahunya. Aku bilang kopi hitam, dia menganguk.

Warkop itu sedang sepi, yah terminal ini pun sepi. Tiga mobil terparkir dan seorang berseragam biru DISHUB dirasa cukup untuk menunjukan bahwa tempat ini adalah terminal. Aku duduk di meja tengah, menatap terminal dari balik jendela besar. Seorang konsumen lain di warkop ini sedang asik mengetik dengan laptopnya. Kukira dia juga pelancong sepertiku, hampir mustahil rasanya ada penduduk lokal Kutacane yang memiliki Sony Vaio dan mengopi di terminal. Dia mendongak dan melihatku sedang mengamatinya. Aku tersenyum dia pun tersenyum. Dia memberi tanda agar aku duduk semeja dengannya.

Dilihat lebih dekat, tampaknya kami hampir seumuran. Obrolan berkembang lebih jauh dan memang kami memiliki lebih banyak kesamaan selain umur. Dia baru saja lulus dan kembali ke kampung halamannya di Kutacane sini. Pertama dan satu-satunya, sarjana UI milik Kecamatan Babussalam. Pun begitu denganku yang baru saja menikmati prosesi wisuda di SABUGA, diarak keliling himpunan oleh bocah-bocah yang baru mendapatkan jaket merah marun mereka. Insinyur pertama dan satu-satunya di keluargaku. Kami berdua bahkan menghakiri masa pengangguran kami di tanggal yang sama. 1 Oktober 2012 dia resmi membantu pamannya seorang pemred di Kabar Kutacane, koran lokal di pintu gerbang TN Gunung Leuser ini. Sebulan yang lalu, aku menandatangi kontrak dengan BAPPENAS. Kami berdua adalah sarjana keluaran 2 universitas top negeri ini yang akhirnya hanya menjadi honorer. Kami tertawa dan mengobrol diantara kopi hitam pekat gayo aceh dan kepulan asap Gudang Garam. Bah! Tanpa disadari rokok kami berdua pun sama! Kami tak bisa berhanti tertawa.

“kau tahu boi? Aku memiliki kartu pers resmi. Ditandangani oleh pamanku sendiri, dan aku tak pernah perlu menggunakan kartu itu. Tak banyak berita yang bisa ditulis di kabupaten ini.“

“setidaknya kau sudah merasakan dunia kerja boi. Aku? Bahkan belum akan mulai bekerja sampai dua minggu kedepan. Itu, jika kau bertanya kenapa aku tidak bekerja dan malah berkeliaran di taman nasional paling ujung barat Indonesia boi.“ kesunyian akhirnya menghinggapi kami berdua. Dia terlihat berkutat dengan pikirannya sendiri, menghembuskan asap berbentuk donat ke udara berkali-kali.

“ada satu rubrik yang menjadi tugasku dan sangat tidak menyenangkan boi. Rubrik obituari. Bayangkan kau harus menulis tentang orang meninggal. Liputan-liputannya memaksaku untuk hadir di semua pemakaman. Semua orang yang dikuburkan di kota ini boi! Belum lagi aku harus menanyai mereka yang ditinggalkan almarhum. Mencari tahu bagaimana kisah hidupnya, lalu mereka kata-kata agar almarhum dapat dikenang dengan layak. Sebisa mungkin menghindari menyebutkan aib mereka.“ katanya lagi menyambung obrolan kami.

Aku terbahak mendengar curhatannya. Dari semua hal menakjubkan Ichsan, yang paling menakjubkan tentu saja fakta bahwa dia pengasuh rubrik obituari di sebuah surat kabar kota kecil.

“asal kau tahu boi, dulu akupun seorang pengabar kematian. Well, itu memang bukan pekerjaan yang menyenangkan. Hahaha..“

“kau penulis obituari juga? Hahah.. kebetulan yang mengerikan bagi kita berdua. Terlibat pers mahasiswa boi?“

“bukan boi, aku adalah pengabar kematian melalui TOA mesjid di RW ku. Tapi yah, memang mengerikan. Setiap suara mendengung TOA mesjid berbunyi, orang-orang mulai berhenti bicara. Obrolan, makan, sepeda, jalan kaki, semua berhenti sejenak. Mereka fokus mendengarkan suara samar-samarku. Setelah sebuah nama kusebut, orang mulai ramai kembali. Beberapa bertanya-tanya siapa dia, beberapa menjawab memberi tahu yang mana orangnya. Oh, tidak lupa ucapan Innalillahi akan terdengar dimanapun, sejauh suara TOA dapat mencapainya.“

“jika Izrail memiliki perasaan mungkin begini perasaan dia boi.” dimenawariku segelas kopi lainnya, kopi kami berdua telah tandas.

“mungkin boi. Sudah berapa obituari yang kau tulis?”

“sejak pertama kali bekerja disini. Sebulan yang lalu. 10 boi. Bayangkan, satu kematian setiap tiga hari, bahkan kukira penduduk kota ini tidak mencapai lima ribu jiwa. Statistik mu bagaimana boi?”

“5 tahun, sejak kelas 3 sma, anak baru di kegiatan remaja mesjid hingga satu semester yang lalu. Kukira hanya 30an mungkin. Aku tak banyak di rumah sejak masuk ITB boi.”

“kenapa berhenti mengabarkan kematian boi? Kau muak?”

“nope.. Aku hanya tak bisa menyelesaikan tugas mengabarkan terakhirku..” Tiba-tiba aku jadi teringat kejadian satu semester yang lalu. Di sela-sela mengerjakan tugas akhirku, berada di ruang himpunan dini hari, sendirian, telepon dari rumah masuk. Aku tahu berita apa yang akan mereka kabarkan.

Sudah berbulah-bulan nenekku sakit karena usianya. 84 tahun, Nenek Khodijah memang bukan nenek satu-satunya bagiku, tapi dia adalah nenek yang paling banyak menghabiskan waktunya denganku. Mengasuhku sejak lahir, menangis bahagia ketika tahu cucu kebanggaannya diterima di kampus yang sama dengan Insinyur Soekarno. Bahkan di bulan-bulan terakhir hidupnya dia masih membagi kuenya denganku, setengah untuknya, setengah untukku. Suara adikku terdengar terisak, cukup kata nenek langsung membuatku mematikan komputer himpunan, mengambil helm, berlari ke parkiran lalu ngebut dari Dago ke Buahbatu. 10 menit perjalanan bahkan menjadi rekor bagiku.
Sampai di rumah, hampir semua keluarga besar nenek sudah berkumpul, rupanya mereka semua menginap di rumah sejak kemarin. Ayahku sudah mendapat tanda-tanda kematian nenek semakin dekat semalam, Semua Uwak-uwakku dikumpulkan di rumah. Menjelang subuh cucu-cucunya yang berjumlah 10 orang datang bertahap bersama cicit-cicit nenek, 24 bocah jumlahnya.

Tiada tangis histeris atau isakan berlebihan di rumah. Mamah memang sempat menangis saat kupeluk, namun hanya sebentar, membuatku ikut meneteskan air mata. Selebihnya, semua orang tampak sudah siap menerima kepergian nenek. Jika kuingat, tampaknya sudah hampir setahun sejak kondisi kesehatan nenek memburuk. Beliau menjadi lebih sering sakit, tidak pernah mau diajak ke rumah sakit ataupun dokter umum. Dua bulan yang lalu kondisinya semakin memburuk, sudah tidak bisa makan, buang air harus diatas kasurnya, dibantu ibuku yang setia merawatnya.
Kami tahu, mungkin hal terbaik untuk nenek saat itu adalah menemui sang Al Khaliq. Mengakhiri semua penderitaannya di dunia yang fana ini. Nenekku yang lain, dari pihak ayah, membantu saat-saat terakhir nenek. Mamah bercerita, bagaimana nenek meninggal dengan senyum dan sempat berdzikir mengucapkan takbir beberapa kali. Ceritanya membuatku kembali menangis.

Adzan subuh akhirnya berkumandang. Mesjid di lingkunganku berada tepat di seberang rumah. Selesai solat subuh, ayah memintaku mengabarkan kepergian nenek melalui pengeras suara mesjid. Melaksanakan tugasku selama bertahun-tahun.

“aku tak pernah bisa menyelesaikan tugas itu boi… saat mengucapkan salam, suaraku mulai pecah. Innalilahi wa innailaihi rojiun kuucapkan dengan susah payah, bergetar seluruh tubuhku. Aku tidak bisa menyebutkan namanya. Tangisku pecah di depan mic, aku ambruk, menangis tersedu-sedu. Kurasa satu RW mendengar tangisku di subuh itu.

“ustadz mengajiku mencoba menenangkanku. Dia menawarkan untuk menggantikan tugasku. Tapi kutolak boi. Untuk sekali ini, aku ingin aku lah yang mengabarkan keseluruh dunia bahwa seorang wanita hebat telah pergi menemui penciptanya. Dia lah The Iron Lady di keluargaku, aku ingin memujinya di depan seluruh warga.

“kucoba kembali berdiri. Menarik napas sedalam mungkin, mengucapkan bismillah dan istigfar berkali-kali dalam hati sebelum mulai berbicara. Hasilnya sama saja dengan usaha pertamaku boi. Ustadz Mahmud lalu menarikku. Membawaku ke tempat wudhu dan menyuruhku pulang setelah berwudhu. Tugas itu diambil orang lain pada akhirnya.“ menceritakan pengalaman itu membuatku kembali meneteskan air mata. Maafkan cucu mu ini nenek. Aku mengucapkan doa mayit, Ichsan menyalakan sebatang Garpit untukku.

“disamping kesedihannya, aku rasa itu pengalaman yang menarik boi. Maaf, maksudku dari sudut pandang sebagai jurnalis. Hehe..“ kurasa Ichsan mencoba menghiburku.

“hahaha.. kurasa benar boi. Akhirnya aku merasakan apa yang dirasakan Bilal ketika dia gagal adzan saat kematian nabi. Tentu saja berlebihan jika membandingkan dengannya.“

“tidak boi. Kau benar, begitulah rasanya. Yah, aku belum pernah merasakannya sih. Kedua orangtuaku masih lengkap. Semua kakek dan nenekku telah meninggal saat aku belum lulus SD. Aku tak pernah tahu bagaimana rasa kehilangan orang yang kita cintai saat aku sudah dewasa.“

“hei boi, maukah kau menolongku? Menyelesaikan tugas ku.“ pintaku pada Ichsan.

“kau mau aku mengabarkan kepergiaan nenekmu melalui TOA mesjid disini? Haha.. bagus boi, unik! Mungkin nenekmu akan dikenang di Gunung Leuser.“ dia tesenyum geli sambil menatapku.

“hahaha.. bukan begitu boi. Maksudku, tolong tuliskan obituari untuk nenekku. Mengabarkan kematian lewat pengeras suara itu tugasku. Tugasmu kan menulis obituari kematian, kau jurnalis. Tulislah riwayat hidup nenek ku dengan singkat, kabarkan bagaimana dirinya. Akan kusebarkan ke seluruh dunia boi! Melalu blog laaah..“

“hehehe.. oke, sebaiknya kau mulai bercerita tentang nenekmu boi..“ Ichsan memanaskan mesin Vaio nya. Aku berbicara, dia mengetik. Dia bertanya, aku menjawab. Sore itu kami habiskan dengan membuat obituari yang indah untuk nenekku. Ditulis oleh seorang wartawan Kabar Kutacane, berjarak ratusan ribuan kilometer dari makam nenek di Buahbatu, Bandung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: