lit up the fire boy!

lit up the fire boy!

 

one time when we were camping, a newbie mountaineer asked me. ‘when we will lit a bonfire?’ well, he seem like watched too much movies.

it’s hard to lit a fire in the actual mountain. the wind blowing too hard. the firewoods are wet instantly by fog and dew. although, once the fire burned the initial timber and lighter wood, everything will be easier.

there’s my childhood friend with our hardly lit up bonfire at mount papandayan.  you could catch him here @xlukmanx. cheers! :)

Advertisements

Well, ini seperti perjalanan ke masa lalu baginya. Berdiri menunggu angkot Kalapa-Dago di Simpang Dago. Rasanya sudah satu dekade berlalu sejak terkahir kali dia melakukan hal ini. Naik angkot ke Dago. Tujuanya kali ini sama dengan tujuannya di masa lalu, sebuah rumah di komplek Bukit Dago Pakar. Sebenarnya untuk mencapai rumah itu mungkin akan lebih baik jika menggunakan trayek Ciroyom-Ciburial. Trayek yang satu ini melewati komplek Bukit Dago Pakar. Namun, karena ini adalah perjalanan ke masa lalu, maka ia memutuskan untuk berhenti sejenak di pintu gerbang Resort Dago Pakar untuk minum kopi di warung kopi Indomie disana. Kemudian baru mengambil Ciroyom-Ciburial menuju tujuan akhirnya.

Satu batang Gudang Garam Filter habis, baru lelaki ini menaiki angkotnya. Sebenarnya, kamu tak perlu menunggu sepanjang satu batang rokok untuk satu angkot Kalapa-Dago hampir ada ratusan mobil melayani rute itu. Setiap setengah menit satu mobil akan lewat, dan rata-rata mobil itu sepi penumpang.

Duduk di kursi depan samping pak supir, Dia mendengarkan Green Day dari ipodnya. Ada beberapa pilihan yang dia pertimbangkan untuk di dengarkan. Saat ini sebenarnya dia sedang menyukai Good Bye Lullaby, Avril Lavigne. Hampir setiap saat memutarnya. Pun jika malam tiba this left feel right nya Bon Jovi setia menemani bersama setiap terikan dan hembusan asap rokoknya. Untuk saat ini, dia ingin mendengarkan Billie Joe Amstrong. Mengingatkan bagaimana masa remaja nya dulu ketika diperkenalkan kepada Green Day melalui Good Riddance. Terdengar sedikit ironi bukan? Diperkenalkan pertama kali kepada sesuatu hal dengan sebuah perpisahan.

Embed from Getty Images

Read More

“ Gaang!! Hayu diadu ngke sore… “ si Opik mun ngomong emang bari gogorowokan wae laah.

“ hayu! Dimana euy? “

“ di PDAM lang.. “

“ okeh.. jam tilu nyaa.. aing mere nyaho barudak heula.. ngke kuaing dibere nyaho deui.. “

Diadu lawan barudak si Opik biasana moal aya babak gelutna, jadi aman-aman wae. Moga-moga si Agrem geus balik sakola.  Nu ngajieun hoream lapang PDAM mah loba tatangkalan di tengah lapang, jadi hese mun kudu lumpat atau ngumpan.

Embed from Getty Images

 

Senen, 7 oktober 2002

Read More

Embed from Getty Images

When the rain stop pouring

 

“ Gaang!! Let’s have some game this afternoon.. “ opik shouted as always.

“ ok! Where? “

“ at PDAM field lang.. “

“ alright.. three o’clock then.. i’d to tell my boys first.. I’ll call you later.. “

Match against opik’s boys ussualy doesn’t end with fighting, so it’s safe at all. Hoped Agrem already back from school. One thing made PDAM bad was the field have some trees in the middle, so it’s hard for run or pass the ball.

 

Monday, 7 October 2002

Read More

a dump truck waiting on a lay bay as i walk with my camera over my face... :)

a dump truck waiting on a lay bay as i walk with my camera over my face… :)

well, i took this picture while jogging around my working base camp area. in fact, it’s hard to do some jogging or cycling in this area. the street composed from sand blasting without any asphalt on it and the usual traffic are heavy vehicle just like the dump truck or crane truck. even light vehicle such as minibus could give you really bad dust covered  moment while you walk or on your bicycle.

one time, i had to rush my bicycle with my injured knee just for sake, because i saw 16 wheels low bed truck only 500 meters before me. if i was late, the dust from street hit by 16 wheel would be so bad for me, obviously!

 

 

Embed from Getty Images

pada suatu waktu, ogut pernah nyaranin dua orang sahabat buat membaca buku non fiksi. satu yang perempuan adalah seorang pembaca yang rajin, maksudnya sudah banyak buku yang dia baca. segala jenis buku. sedangkan yang satunya lagi adalah seorang lelaki yang dalam waktu setahun mungkin hanya menamatkan dua atau tiga judul. itupun dengan susah payah, karena pada dasarnya dia bukan seorang yang hobi membaca.

jadi, setelah memberi keduanya dua buah buku non fiksi ogut menemukan dua tanggapan yang berbeda. si cewek bilang, dia seneng banget dapet bukunya, itu buku yang dia cari bertahun-tahun, tapi dia sedang dalam situasi membaca buku lain. dan buku yang ogut kasih emang tebel banget juga sih. dia bilang, mungkin bakal coba namatin buku itu di tahun depan. buat yang cowok, ogut kasih buku yang lebih ringan, seputar hobi satu-satunya dia, sepakbola. tanggapannya, dia ragu bisa namatin buku itu.

saran ogut ke keduanya adalah, membaca buku non fiksi itu gak perlu mengikuti alur tulisannya. baca daftar isinya, terus loncat ke bagian yang emang lagi pengen dibaca. buku non fiksi memungkinkan kita untuk melakukan hal tersebut karena antara satu bab dengan bab lainnya hanya memiliki kaitan yang minimal. bukan cerita yang saling bersambung. melengkapi mungkin, tapi bersambung bukanlah hal yang pasti dalam buku non fiksi. lagipula, jika kemudian di bab yang kita pilh ternyata mengandung bagian yang berasal dari bab sebelumnya, tinggal kita balik ke bab tersebut. setidaknya hanya untuk mendapatkan sedikit fondasi dari bab yang sedang kita baca.

kemudian, yang cewek menolak gagasan ogut. dia tetap bersikekeuh untuk membaca secara serial dari bab pertama hingga bab terakhir. dan buku itu, yang ogut kasih, tiada pernah berhasil ditamatkan. sedangkan yang cowok, mengikuti saran ogut untuk kemudian dia bisa menamatkan bukunya hanya dalam waktu 3 hari. dan yah, dia tahu dan paham mengenai isi bukunya. apa tujuan buku itu.

well, sekian postingan dari ogut. hanya sedang ingin menulis. dan karena lagi seneng buat ngambil gambar dari getty images, makanya ogut kasi tambahan foto di postingan ini. hehehe…

seru banget milihin gambar dari getty images buat di embed di wordpress. try it lad!

sejak pertama kali kami melakukan kemping tahun 2010, ogut rasa ada perkembangan yang sangat baik dari bocah-bocah ini. kami bahkan merasa tidak membutuhkan tenda di kemping pertama kami. angin malam, kekurangan logistik (terutama rokok) sangat menyiksa kami di kala itu. pun lagi suasana yang membikin merinding.

ketika kami akhirnya mendaki manglayang di tahun 2013. peralatan kami sudah lebih lengkap dan memadai. kami punya tenda, carrier, cooking set, dan matras. setidaknya kami yakin bisa bertahan di alam jauh dari peradaban. jaman itu adalah ketika kami belum mengetahui mengenai zero waste camping. well, cukup merisaukan juga melihat foto-foto kamp kami yang seperti kapal pecah.

kareumbi adalah pilot project kami untuk kampanye zero waste camping. sangat memuaskan! mengurangi beban hingga sepertiganya. sampah yang kami hasilkan di camping ground berkurang hingga 80%. di kemping ini, trio wocapala selain ogut belajar mendirikan tenda agar bisa nyaman ditinggali saat hujan mendera. masih membutuhkan 20 menit sebelum tenda berdiri.

papandayan 2014 adalah ritus pembatisan Edo. gunung besar pertama baginya. disini pengalaman manajemen logistik kami bertambah. bisa membawa logistik dengan sistem zero waste dan lebih efisien. bocah-bocah itu juga sudah bisa mendirikan tenda dibawah 20 menit, bahkan jika bukan karena kesalahan mendasar di awal, mereka bisa mendirikan dalam waktu 10 menit. soal memasak Uki sudah bisa menjadi mountaneering chef, didampingi oleh Camat.

well, seperti yang ogut bilang. semua orang berkembang disetiap kemping kami. kami bukan pendaki gunung, kami adalah penikmat kemping. kami adalah WOCAPALA!

Embed from Getty Images

Pekerjaan seorang pencari bakat adalah pekerjaan yang sepi. Itu yang dikatakan oleh Gilles Grimandi, seorang pencari bakat untuk klub Arsenal. Yah, Gun tak bisa tidak sependapat dengannya, buktinya adalah kini Gun sendirian, di tengah jadwal pesawat yang terlambat di bandara Syamsudin Noor. Gilles menambahkan, kami scout adalah orang yang kesepian dan hidup dalam tekanan. Seolah mengejawatahkan telepon dari Bandung tadi pagi. Kepala akademi didesak untuk memberikan hasil yang memuaskan oleh manajer klub. Satu-satunya yang bisa dia lakukan dengan segera adalah menekan Gun untuk memberikan bocah-bocah yang bisa dengan instan membawa perubahan bagi tim. Bocah-bocah yang harus dia cari di pelosok-pelosok terdalam Indonesia. Bocah, yang menurut istilah mereka ditempa alam keras sehingga bisa memainkan bola di kaki mereka dengan sentuhan magis. Meen! Kalian terlalu banyak menonton film!

Mungkin sudah saatnya untuk mengundurkan diri pikir Gun. Tiga tahun sudah menjadi bagian dari pilot project klub ini. Mencoba melakukan pembinaan pemain muda dengan standar eropa, tapi masih bermentalkan indonesia. Gun muak! Merasa diri menjadi martir.

Read More